Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 70 : A Fight in a Dream


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu – tunggu, informasi tentang pertarungan mereka telah menyebar dengan cepat dan karena itulah sekarang Colosseum menjadi tempat yang sangat berisik. Aku pun duduk dikursi bagian tengah, Player yang berada disampingku tidak henti – hentinya bersorak, itu membuatku sedikit terganggu.


“hm... Sepertinya dibelakang lebih tenang” pikirku sambil berdiri.


“hei kau mau kemana..? Jangan bilang kau mau kabur atau semacamnya” tanya Bella sambil memegang baju ku.


“ada orang yang tidak bisa diam disekitar sini, jadi aku mau pindah kebelakang” jawabku sambil melirik Player yang ada disampingku tadi.


“ya maaflah..!!” sahut Player itu yang mendengar perkataanku.


“apakah ada yang salah dengan hal itu..?” tanya ku kepada Bella.


“tetap saja, apa kau pikir aku akan percaya...?” tanya Bella sambil menatapku dengan tajam.


“kalau begitu, kenapa kau tidak mengikutiku saja..? Pindah kebelakang” jawabku sambil melihat kebelakang.


“kalian berdua... Ayo pergi” kata Bella sambil melihat Eririn dan Lili.


“kemana..?” tanya Eririn.


“aku sangat malas” sahut Lili.


“sudah ikut saja” kata Bella.


“baiklah” kata Eririn dan Lili bersamaan sambil mulai berdiri.


“ada apa..? Ayo cepat jalan..!!” kata Bella sambil menatapku.


“baiklah” sahut ku sambil mulai berjalan.


Disaat yang sama, Elina dan Jessie pun mulai muncul dan naik keatas arena.


“huh.. Aku pikir kemarin kau hanya menggertak” kata Elina sambil menatap Jessie yang sedang berjalan menuju atas arena.


“aku adalah milik master... Jika aku tidak datang maka master juga akan ikut malu, aku tidak akan melakukan hal seperti itu” sahut Jessie.


“kalau begitu kau juga siap kalahkan..?” tanya Elina sambil memegang busur nya.


“kenapa kau tidak bertanya kepada dirimu sendiri dulu..?” tanya Jessie balik sambil mengeluarkan senjatanya.


Suasananya pun semakin memanas dan suara teriakkan penonton pun juga semakin keras. Dilain sisi aku telah berhasil menemukan tempat duduk dibagian paling belakang.


“sepertinya pertandingannya akan segera dimulai...” kata ku sambil melihat ke arena.


“untung saja belum dimulai, kalau tidak maka kau pasti akan menerima akibatnya” sahut Bella.


“hah..? Kau pikir aku takut” kata ku sambil menatap Bella.


“katakan sekali lagi, maka setelah pertandingan mereka selesai kitalah yang selanjutnya..!!” teriak Bella marah.


“hei.. Tenanglah kalian berdua... Hitung mundur nya sudah akan dimulai loh” sahut Lili.


“benarkah..!! Aku juga ikut..!! 5.. 4..” teriak Bella.


Tiba – tiba tubuhku langsung lemas dan berat, pandanganku mulai kabur, aku seperti sedang ditarik oleh seseorang, aku mencoba bertahan dengan memegang kursi ku namun tarikkannya semakin kuat, aku pun langsung terjatuh.


“3.. 2.. 1.. START..!!”


*Braakk... Suara ku yang terjatuh dilantai depan kursi.


“ah..!! Hei, ada apa denganmu..?” tanya Bella sambil memegang badanku.


“apa yang terjadi..?” tanya Lili ikut mendekat.


“dia pingsan..!!” teriak Eririn.

__ADS_1


Itu adalah kata – kata terakhir yang bisa aku dengar sebelum aku benar – benar kehilangan kesadaranku.


*Whuuussshh suara angin menerpaku.


Tiba – tiba aku berada diatas bukit yang sangat tinggi, tempatnya sangatlah sejuk dan indah, pohon – pohon pun terlihat seperti sedang menari, bukit – bukit serta danau juga ikut melengkapi nya.


“sungguh pemandangan yang indah” pikirku tanpa sadar.


“hah... Akhirnya... Setelah sekian lama aku mencoba untuk menghubungkan akhirnya aku berhasil” kata seseorang dengan suara laki – laki.


Aku mendengar nya, namun entah mengapa aku masih melihat dan menikmati pemandangan itu.


“bagaimana..? Indah kan..?” tanya nya lagi.


Kemudian aku melihat kebelakang, aku melihat ada seorang kakek – kakek yang sedang duduk sambil minum teh.


“kemari lah aku ingin berbicara denganmu” kata kakek itu.


Aku pun mengikuti kata – kata nya, aku duduk disebuah kursi didepannya, kemudian secangkir teh pun muncul melayang didepanku.


“cobalah” kata kakek itu.


Aku pun mengambil nya lalu meminumnya, rasanya sangat enak.


“aku harap rasanya sesuai dengan seleramu... Selanjutnya, kau pasti bertanya – tanya siapa, dimana dan tujuanku” kata kakek itu sambil menatapku.


Aku tidak menjawab, aku hanya diam dan melihatnya.


“baiklah... Pertama namaku adalah Sair panggil saja kakek Sair, aku adalah... Yah, sebut saja Dewa” kata kakek Sair.


Aku tetap diam dan tenang, aku tidak menunjukan ekspresi terkejut atau semacamnya.


“kedua, sekarang kita berada di alam mimpi milikmu...” lanjutnya.


“aku ingat... Aku tadi pingsan... Tenanglah... Tenanglah” pikirku yang terkejut setelah mendengar kata kakek Sair.


“hei...” panggilku sambil berdiri dan mengarahkan tanganku didepan wajahnya.


“apa maksudnya ini..?” tanya kakek Sair menatapku.


“aku tidak peduli dengan tujuanmu... Kau telah mengganggu ku dan itu membuatku marah” kata ku.


“tenang lah biar aku jelaskan dulu” sahut kakek Sair.


“kau bilang kalau kau adalah dewa kan..? Biarkan aku memberitahu mu sesuatu... Di alam mimpi, sang pemimpi adalah dewanya...!!” kata ku mengintimidasi.


“kata – kata yang hebat” sahut kakek Sair.


“BRIDLE” kata ku sambil terus mengarahkan tanganku kepadanya.


Tiba – tiba keluar 4 rantai yang melilit tubuh kakek Sair, masing – masing rantai itu ditarik oleh 4 malaikat yang mengelilingi kakek Sair dari 4 arah.


“kenapa kita tidak kembali minum teh lagi..?” tanya kakek Sair.


“kembalikan aku” kata ku.


“mustahil... Sebelum tujuanku...” kata kakek Sair.


“begitu ya...” sahut ku memotong.


Aku pun menutup tanganku lalu mengarahkan nya ke matahari, kemudian aku mulai membuka tanganku perlahan dan matahari itu pun ikut terbelah bersamaan dengan terbukanya tanganku.


“kembalikan aku” kata ku.


“mustahil” kata kakek Sair singkat.

__ADS_1


Dengan cepat aku langsung menteleportasikan kakek Sair ke inti matahari yang aku belah tadi, kemudian aku langsung menutup nya, meskipun saat itu para malaikatnya langsung lenyap namun tidak ada reaksi apapun dari kakek Sair.


“kembalikan aku” kata ku menggunakan telepati.


“mustahil” sahut nya lagi.


“kau lah yang meminta..!!” teriakku marah.


Kemudian aku pun langsung berteleportasi ke luar angkasa, aku pun mengendalikan semua planet yang ada, aku membuat planet itu berputar mengitari matahari sambil menjauhkannya. Setelah cukup jauh aku langsung melemparkan semua planet itu kedalam satu titik, yaitu matahari.


*BOOOM suara ledakan yang sangat keras, semua planet pun hancur.


“kau sangat agresif ya... Berbeda dengannya” kata kakek itu mengayunkan telepati.


“sudah aku bilang kembalikan aku..!! Pedang Pembunuh Dewa..!!” teriakku.


Kemudian sebuah pedang muncul dari retakan dimensi, aku pun mengambilnya dan langsung melemparkan pedang itu menuju kakek Sair yang masih berada didalam ledakan tadi.


*Tak... Suara petikan jari.


Tiba – tiba aku berpindah dimensi, terlihat banyak garis – garis berwarna biru menyala yang saling tumpang tindih membentuk persegi tanpa batas digelapnya ruangan.


“hah... Jika bukan karenanya aku tidak akan mau melakukan hal ini” kata kakek Sair.


“apa maksudmu..?!” tanyaku.


“sudahlah, kau lebih mengerikan dari yang aku kira... Terimalah ini” kata kakek Sair yang tiba – tiba muncul dan memegang kepalaku dari depan.


Kepalaku langsung terasa sakit setelah kakek Sair melepasnya, kepala ku terasa seperti akan meledak.


“sampai jumpa lagi” kata kakek Sair.


Kakek Sair pun langsung menghilang dan aku juga langsung terbangun, namun rasa sakitnya masih sangat terasa.


“agghhhhh..!!” teriakku sambil memegang kepalaku.


“hei kenapa kau..?!” teriak Elina yang telah selesai bertanding.


“master ada apa denganmu..?!” tanya Jessie khawatir.


“agghhhhh... Keluar..!! Aku ingin keluar..!!” teriakku sambil menekan tombol Log Out.


Aku kira rasa sakitnya akan hilang saat aku keluar dari game, namun aku salah, malahan rasanya semakin sakit.


“aaghhhh..!! Sakit..!! Sakit..!!” teriakku sambil memegang kepalaku.


“Hideo ada apa..?!” teriak kakakku sambil mencoba membuka pintu kamar ku.


“ada apa..?!” tanya ayahku.


“aagghhhh... Sakit..!!” teriakku.


“langsung dobrak pintunya..!!” sahut ibuku sambil berlari mendekat.


*Braakk... Suara pintu ku yang terbuka.


“aagghhhh” teriakku.


“Hideo..!!” teriak semua orang.


Saat itu kamar ku sudah acak – acakan, aku pun memukul – mukul kepala ku sampai berdarah.


“buat dia pingsan..!!” teriak ibuku sambil memegang tubuhku bersama dengan kakakku.


“baiklah” sahut ayahku sambil memukul ku.

__ADS_1


Aku pun langsung pingsan, kemudian mereka langsung mengantarku pergi ke rumah sakit, mereka sangat khawatir. Namun keanehan terjadi ketika dokter telah selesai memeriksa, katanya tidak ada hal yang aneh dengan kepalaku, tidak ditemukan adanya penyakit atau gangguan lain, ini sangat normal. Hal aneh apa ini..?


__ADS_2