Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 100 : Destiny (End)


__ADS_3

Hari ini kami pun melanjutkan investigasi di dalam Map Dunia Baru. Sebelum aku berangkat tadi, aku pun membeli sebuah item teleportasi agar aku tidak selalu mencium Jessie ketika ingin masuk kesini. Sedangkan Jessie tadi malah membeli banyak makanan.


Kami pun langsung masuk kedalam Map Dunia Baru, namun hari ini berbeda dengan yang kemarin, hari ini kami diteleportasikan disebuah padang rumput yang sangat luas, terlihat panas namun sangat sejuk. Dengan ini aku bisa menyimpulkan, tempat kami diteleportasi selalu berpindah.


“tempat ini seperti yang aku lihat ketika aku pingsan dulu...” kata ku sambil melihat ke sekeliling.


“ini adalah tempat dimana kita bertemu... Tempat nya ada disana” sahut Jessie sambil menunjuk kesebuah pohon yang terpisah sendirian dengan yang lainnya.


“hee.. Ingatanmu hebat juga ya, bahkan bisa mengingat hal – hal seperti ini... INVENTORY..!!” kata ku sambil mengambil item teleportasi yang tadi aku beli.


“hal – hal seperti ini..? Jangan remehkan itu..!! Saat itu adalah saat dimana master dan aku bisa bertemu seperti ini...!!” sahut Jessie dengan wajah marah.


“o-oh, begitu ya... Maaf, aku tidak tahu kalau pertemuan itu sangatlah berarti bagimu” kata ku sambil menggali tanah.


“ah, tidak apa – apa... Lalu, apa yang sedang kau lakukan master..? Bukannya tinggal diletakkan saja dibawah..?” tanya ku Jessie kebingungan.


“benar, tapi lihatlah...” kata ku sambil melempar item itu dilubang galianku.


“Item nya tidak menghilang... Seharusnya item ini menghilang ketika menyentuh tanah, ini memanglah aneh tapi mungkin ini adalah aturan khusus di Map ini... Aku tidak ingin seseorang menemukan lalu membawanya pergi, akan sangat merepotkan jika kita masuk saat item itu dibawa orang... SET NAME : NEW WORLD..!!” lanjutku menjelaskan.


*Roaarr.. Suara monster.


Kami pun terkejut karena tiba – tiba ada suara raungan monster, kami pun langsung melihat ke sumber suara itu, yaitu dilangit. Kami pun melihat seekor naga berukuran sangat besar yang terbang kearah kami.


“padahal kami baru saja datang... Jessie, kau dari sebelah kiri, aku akan mengurus dari sebelah kanan” kata ku sambil mengambil pedangku.


“dimengerti” sahut Jessie.


Saat itu kami pun bermain – main sambil mencari tahu seberapa kuat naga disini. Namun butuh waktu lama bagi kami untuk mengalahkanya, pada serangan terakhir aku pun memenggal kepala naga itu.


Setelah itu, kami pun memasukkan bangkai naga itu kedalam Inventory. Karena aku merasa sedikit haus, aku pun meminta minuman kepada Jessie.


“segarnya... Oh, kau juga membawa permen ya, aku minta satu” kata ku sambil mengambil permennya.


Aku pun langsung membuka bungkusnya lalu memakannya.


“ah, padahal aku ingin memakan rasa stroberi...” kata Jessie saat melihatku memakan permen nya.


“begitu ya... Nih” kata ku sambil langsung memasukkan permen yang aku makan tadi ke mulut Jessie.


“eh... Ehhh..!!!” teriak Jessie dengan wajah memerah.


“aku akan memakan yang ini” kata ku sambil mengambil permen yang satunya.


Jessie pun langsung membalikkan badannya ketika aku melihatnya, dia pun memegang dan menatap permen itu.


“ini... Adalah sebuah berkah, besok aku hanya akan membeli permen saja” pikir Jessie sambil menatap permen nya.

__ADS_1


Aku pun langsung berjalan mendekat.


“kau tidak mau..? Kalau begitu...” kata ku sambil mau mengambil permen yang dipegang Jessie.


Dengan cepat Jessie pun langsung memakan kembali permen itu, dengan wajah cemberut dia pun menatapku, aku keheranan saat itu namun aku mengabaikannya. Kemudian kemi pun memutuskan untuk pergi ke kota dan menjual bangkai naga itu ke Guild.


“kami ingin menjual naga ini, kira – kira berapa harganya..?” tanya ku kepada resepsionis Guild.


Aku pun langsung mengeluarkan kepala bangkai naga itu


“na-naga ini..!! Bagaimana kau bisa mengalahkanya..?!” tanya resepsionis itu dengan wajah terkejut.


“pertanyaan konyol... Tentu saja karena kami lebih kuat darinya” kata ku sambil memejamkan mata.


“ba-baiklah... Ikuti aku” kata resepsionis itu.


Aku pun mengikutinya, namun tiba – tiba ekspresi Jessie berubah, dia pun menghentikan ku.


“kenapa..?” tanya ku sambil menatap Jessie.


“aku lapar... Aku ingin makan” jawab Jessie membalas tatapan ku.


“baiklah, pergilah duluan... Aku akan mengurus yang disini” kata ku kembali mengikuti resepsionis itu.


Jessie pun tersenyum tipis lalu langsung pergi keluar. Dia tampak sedang buru – buru seperti sedang mengejar sesuatu.


Saat itu, ketika aku berada didalam Guild, aku pun dihadapkan oleh masalah yang besar.


“hah..!! Apa maksudmu hanya..?!” tanya ku dengan nada tinggi.


“tolong tenanglah, bukannya tadi sudah saya bilang... Naga ini telah cacat, seharusnya ada sebuah permata diekornya tapi ekor nya telah terpotong” jawab resepsionis guild itu.


“sial... Baiklah aku akan mencarinya, mana bayaran ku..?” tanya ku.


“sebelum itu, apakah ada seorang petualang peringkat Beryl..?” tanya resepsionis itu.


“aku tidak mengerti maksudmu..” jawab ku kebingungan.


“oh, jadi kau adalah seorang bangsawan... Baiklah, ini 800 juta meins” kata resepsionis itu sambil memberikan bayaranku.


“aku juga masih tidak mengerti apa maksudmu... Aku adalah seorang Player, tapi mungkin juga sama” kata ku sambil berjalan pergi.


Aku pun langsung meninggalkan guild itu dan menunggu Jessie didepan guild.


“hah... Ini sudah lebih dari 1 jam dan Jessie belum juga kembali, sebenarnya apa yang sedang dia lakukan” pikirku sambil menatap langit.


“ma-master...” panggil Jessie sambil berjalan lemas penuh luka ditubuhnya.

__ADS_1


“Jessie..!! Apa yang terjadi padamu..?!” teriakku sambil berlari kearahnya.


Keadaan Jessie pun semakin melemas, armornya rusak dan nafasnya terengah – engah. Aku pun langsung memberinya sebuah potion.


“sialan..!! Siapa yang berani melakukan hal ini..?! Bunuh..!! Aku akan membunuhnya..!! TELEPORT : HOME..!!” teriak ku marah sambil menggendong Jessie.


Ketika sampai dirumah, aku pun membaringkanya diatas sofa, armor dan HP nya perlahan mulai kembali pulih.


“Elina, Lili... Tolong jaga Jessie, aku akan pergi dulu” kata ku buru – buru.


“kau ingin balas dendam..? Kalau begitu aku akan ikut” sahut Lili.


“jangan bercanda ketika aku sedang serius...” kata ku menahan emosi.


“aku tidak bercanda..!! Akan lebih baik jika kita menghadapinya bersama..!” teriak Lili.


“cih, sialan... Kalau begitu, lawanlah aku... Kalau kau bisa membuatku bertarung dengan serius maka aku akan membawa mu...” kata ku dengan nada mengintimidasi sambil mengarahkan pedangku ke Lili.


Lili pun hanya diam sambil menatapku, badannya bergetar dan wajahnya ketakutan.


“sudah mengerti kan..? Bahkan Jessie pun sampai seperti ini, apalagi dirimu..” lanjutku sambil menyarungkan pedangku kembali.


Aku pun langsung kembali ke New World, karena Jessie masih belum sadar jadi aku belum memiliki sebuah petunjuk, meskipun begitu aku terus berjuang mencari sedikit demi sedikit petunjuk itu. Aku pun bertanya – tanya kepada semua orang tentang Jessie, kearah mana dia berlari tadi hingga bersama siapa dia berlari, namun jawaban mereka tetap sama, aku tidak melihat gadis seperti itu tadi.


2 Hari kemudian, Jessie pun mulai siuman, tapi aku tidak mau bertanya tentang itu dulu. Selama 2 hari itu juga aku terus mencari petunjuk, akhirnya aku menemukannya. Disebuah hutan dekat sebuah desa, pohon – pohon terbelah, sayatan – sayatan berbekas disana, batu yang berukuran besar hancur, bekas serangan benda tumpul dimana – mana.


“telah terjadi pertempuran disini, dari kelihatannya mungkin sekitar 2 hari yang lalu... Ini pasti bekas pertempuran Jessie” pikirku sambil terus melihat – lihat.


Keesokan harinya, Jessie menceritakan semuanya kepadaku. Seorang gadis dengan senjata aneh yang tidak ada didalam game, rambut hitam panjang dan sekuat Jessie, mereka bertarung dengan hasil seimbang.


Aku pun kembali kesana (New World), tapi kali ini Jessie juga ikut. Kami terus mencari, didalam kota, didesa disamping tempat mereka bertarung, dihutan, Dungeon dan tempat – tempat yang memungkinkan. Setelah sekian lama kami mencarinya, akhirnya kami menemukannya, wanita yang dapat bertarung seimbang melawan Jessie.


Agar identitas kami tidak diketahui, kami menggunakan jubah. Kemudian kami pun mulai mengikutinya, aku khawatir kalau ternyata dia memiliki sekutu dibelakangnya, jadi kami terus mengikutinya jauh dibelakang. Aku merasa ada seseorang yang juga sedang mengawasi kami, seseorang yang juga memakai jubah panjang


Orang itu berjalan melewati gadis itu, aku pun menyuruh Jessie untuk tetap berjaga sementara aku mulai turun dari atas rumah tempat kami mengawasi. Kami mulai berjalan seperti biasa, tidak kenal dan tanpa masalah, tentu saja itu adalah tipuan, yang sebenarnya kami sangat curiga.


Akhirnya kami saling melewati, namun hanya berjarak satu langkah, kami berhenti dan saling membelakangi. Jantungku berdetak kencang, sangat kencang, terlalu kencang, aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku merasa seperti ini.


Dengan cepat dan bersamaan, sambil membalikkan badan kami mengambil senjata kami masing – masing lalu saling mengayunkan senjata kami.


*Cling... Suara senjata kami beradu.


Kami tersenyum tipis sambil terus adu dorong.


“Ini... Seperti nostalgia”


-pertemuan yang telah ditakdirkan, kembali berawal yang membuat cerita sesungguhnya baru dimulai-

__ADS_1


__ADS_2