
Disaat yang sama saat kakakku baru saja keluar.
“hmm..? Kenapa kau tidak khawatir..?” tanya kakakku setelah melirik Jessie.
“aku juga khawatir, namun aku percaya” jawab Jessie dengan cepat.
“raut wajahmu tidak sama seperti yang kau ucapkan... Lalu kenapa kau tidak menolaknya tadi..?” tanya kakakku dengan tenang.
“karena, sejak aku berada disini, diluar.... Sejak itulah kemenangan master sudah dipastikan” jawab Jessie penuh percaya diri.
“apa yang membuatmu seyakin itu..?” tanya kakakku penasaran.
“oh, ada apa ini..? Kau menginterogasi anak baru lagi..?” tanya bu Suzue yang berada diatas atap diluar rumah.
“turun kau..!! Dasar seenaknya saja..!! Rapat tidak ikut lalu tes juga tidak ikut... Kau mau aku bunuh..!!” teriak kakakku marah.
“hah..!! Rapat itu sangat membosankan, aku sudah berpengalaman tentang hal itu... Lalu, aku tidak suka melawan yang lebih lemah..!!” sahut bu Suzue dengan tatapan mengintimidasi.
“kalau begitu, kemari lah..!! Aku lebih kuat dari mu..!!” sahut kakakku sambil menatap balik.
*Creekk... Suara pintu terbuka.
Suara itu pun menghentikan pertengkaran mereka, ketiganya pun langsung melihat siapa yang keluar dari pintu itu. Jessie masih tenang dan percaya, sedangkan kakakku yakin kalau itu adalah aku dan bu Suzue, dia terlihat tidak peduli.
*tek.. tek.. tek... Suara langkah kaki yang membuat suasananya menegang.
“hallo..!! Aku adalah yang pertama keluar” kata seorang wanita dengan penuh semangat.
“oh, Risa... Kau payah” sahut bu Suzue.
“maaf saja... Aku hanya lengah, tidak aku sangka dilevel itu dia sudah secepat itu... Apakah dia selalu menambahkan semua point nya ke Agility..?” kata Risa kebingungan.
“memangnya secepat apa..?” tanya kakakku.
“sangat cepat... Jika aku adalah 10 maka dia adalah 8” jawab Risa dengan nada dan tatapan serius.
“huh... Itu sudah pastikan, lagipula dia adalah adikku” kata kakakku yang tiba – tiba berubah menjadi bangga dengan ku.
“kenapa kau tiba – tiba berubah...? Tapi, sepertinya kita mendapatkan anggota yang hebat kali ini” sahut Risa.
“dengan begini kita bisa mengikuti Event nya, pemenangnya telah diputuskan” kata kakakku penuh semangat.
“tapi, apakah benar kalau dia ingin bergabung kesini..? Maksudku, dia benar – benar berkata secara langsung kan..?” tanya bu Suzue.
“tidak” sahut kakakku dengan singkat.
“kau bodoh..!! Lalu setelah ini bagaimana..?!” teriak bu Suzue marah.
“anu... Biar aku beritahu kepada kalian... Dengar, kalian tahu kalau selama ini aku telah mengikuti master kan..?” tanya Jessie yang sedikit berbisik dengan wajah serius.
“hmm..? Ya, memang nya ada apa..?” tanya kakakku sambil berbisik dan mendekatkan wajahnya, kemudian yang lainnya pun juga ikut – ikutan.
“setiap kali ketika aku berjalan sendirian dikota, banyak ketua Guild dan para ****** menginginkan master...” jawab Jessie.
__ADS_1
“lalu..?” tanya bu Suzue dengan wajah penasaran.
“aku... Menolak semuanya” lanjut Jessie sambil tersenyum.
“hah..!! Kenapa kau tidak bertanya kepada adikku dulu..?!” tanya kakakku marah.
“karena aku tidak mau melihat master kecewa lagi... Oh, dia memanggilku” kata Jessie sambil melihat ke rumah itu.
“kecewa..? Aku memang tahu kalau dia membuat akun lagi, tapi aku kira dia hanya ingin memakai Role lain... Lagipula, siapa yang memanggilmu..?” tanya kakakku sambil melihat kesekitar.
“benar, telingaku sangat sensitif, tapi kenapa aku tidak mendengar apapun..? Kau bohongkan..?” tanya bu Suzue sambil menatap Jessie.
Tiba – tiba Jessie mengeluarkan senjatanya dan memasang kuda – kuda. Dengan cepat, mereka bertiga pun langsung melompat menjauh sambil mengeluarkan senjata masing – masing.
“apa yang akan kau lakukan..?!” tanya kakakku.
“sebuah kebodohan jika kau ingin menantang kami bertiga..!!” kata Risa dengan nada serius.
“tenang saja... Dan tolong rahasiakan hal yang tadi dari master ya...” sahut Jessie sambil tersenyum.
Tiba – tiba Jessie pun menghilang, dia seperti berteleportasi. Ketiganya pun terkejut dan mulai mencari Jessie, namun tidak lama setelah Jessie menghilang, tiba – tiba aku pun muncul tepat ditempat Jessie menghilang.
Kembali disaat Player dengan Role Archer menyerangku dengan anak panahnya, saat itu aku tidak bisa bergerak sama sekali, kepala ku terasa sangat sakit, namun aku sekarang bisa menahannya.
“kita akhiri sampai disini..!!” teriak Player dengan Role Archer dengan tatapan penuh keyakinan kalau dia telah menang.
“heh... SWITCH... NOW...” kata ku pelan sambil sedikit tersenyum.
“tidak bisa dimaafkan... Kalian akan menyesalinya..!!” kata Jessie sangat marah sambil mengeluarkan aura membunuhnya.
Setelah beberapa saat setelah Jessie muncul didepanku, aku pun langsung berpindah. Sekilas aku dapat melihatnya, raut wajahnya tiba – tiba berubah ketika melihat ku yang terbaring dilantai. Setelah itu pandanganku mulai kabur dan seketika langsung silau karena tiba – tiba aku berada diluar rumah.
“eh... Kenapa tiba – tiba kau ada disini...?!” tanya kakakku terkejut.
“aku sudah menang... Hentikan Jessie, dia sedang bertarung didalam...” kata ku sambil mengusap mataku.
“Risa, tolong... Aku akan membantunya” kata kakakku sambil bergerak membantuku.
Risa pun langsung berlari menuju pintu dan masuk kedalam untuk menghentikan pertarungan, sementara kakakku membantuku untuk berdiri.
“bagaimana bisa seperti ini..?” keluh kakakku.
“seorang Player bertarung sendirian melawan 30 Player, tentu saja hasilnya seperti ini... Sekarang aku tidak bisa bergerak karena stamina telah habis...” jawab ku sambil terus memegang kepalaku.
“skill apa itu..?” tanya kakakku.
“cincin ini.. Aku mendapatkannya bersamaan dengan aksesoris Jessie... Efeknya, regen dan bertukar posisi... Sudah, aku sudah bisa berjalan sendiri” kata ku.
“baiklah... Hati – hati..” sahut kakakku.
Beberapa saat kemudian, stamina ku perlahan mulai pulih. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres karena Risa masih belum kembali. Kemudian aku pun langsung berlari dan kembali masuk kedalam.
“hentikan dia..!! Pertarungan nya telah selesai, jangan menyerangnya...!! Cukup hentikan saja..!!” teriak Player Role Warrior.
__ADS_1
“dia bisa menghindari serangan ku dengan mudah... SHOCK BALL..!!” teriak Player Role Wizard.
“apakah dia monster..!!” teriak Player lainnya.
Mereka berusaha untuk menghentikan Jessie yang sedang mengamuk. Kakakku pun yang mengikutiku masuk, ketika melihat Jessie dia langsung turun tangan, namun aku menghentikannya. Aku pun langsung berlari kearah Jessie yang sedang mengayunkan senjatanya membabi buta.
“mati semua kalian..!!” teriak Jessie sambil terus menyerang.
*Cling... Suara tangkisan.
“apa yang kau lakukan...?” tanya ku sambil menangkis serangannya dan menatap matanya.
“eh.. Master..?” kata Jessie yang terkejut ketika melihatku, aura membunuhnya pun lenyap seketika.
“dasar kau ini...” kata ku sambil menyentil keningnya.
“aduh... Sakit..” kata Jessie sambil mengusap keningnya.
Setelah Jessie kembali tenang, keenam pendiri guild pun menghampiri kami, namun mereka masih sedikit waspada.
“itu tadi sangat berbahaya... Namun, kalian berhasil... Selamat bergabung di guild kami..!!” kata Player dengan Role Archer sambil mengusap kacamatanya.
“yah, meskipun kami dikenal sedikit bar – bar ketika bertarung, tapi semoga kita akrab..” kata Player Role Warrior.
“kalau begini kita akan ikut Event nya” sahut Player Role Wizard.
“huh..? Apa maksud kalian..?” tanya ku sedikit kebingungan.
“huh..? Bukannya kau ingin bergabung..? Itu adalah alasan tes inikan..?” tanya Player Role Archer.
“bergabung..? Buat apa..?” tanya ku.
“aahhh... Lalu apa tujuanmu kemari..?!” tanya Player Role Archer menatapku tajam.
“apakah kalain tidak mengikuti Eventnya..?” tanya ku.
“tidak, dari analisis kami selama ini, kami bertarung kurang optimal, kami belum bisa mengeluarkan seluruh potensi kami... Jadi untuk sementara kami tidak akan mengikuti Event kaliini, tujuan kami adalah kemenangan dan kami tidak akan bisa mencapainya kalau setengah – setengah” jawab Player Role Archer.
“aku mengerti, kalau begitu aku ingin meminjam kakak, boleh kan...?” tanya ku sambil menatapnya.
“oh, kalau itu jangan bertanya kepada kami... Kami permisi dulu” jawab Player itu sambil meninggalkan kami diikuti oleh yang lainnya.
“bagaimana..?” tanya ku sambil menatap kakakku.
“hah... Setidaknya katakan dari awal, tapi untuk adik kecilku, apapun akan aku lakukan... Sampai jumpa” jawab kakakku sambil berjalan menyusul yang lain.
Saat itu aku merasa seperti sedang mempermainkan mereka, namun mereka lah yang memulainya duluan, jadi aku memutuskan untuk langsung keluar dari tempat itu.
“selanjutnya, apakah kita akan langsung ke Dungeon..?” tanya Jessie ketika berada diluar.
“kita akan kesana esok hari... Sekarang, bersiaplah untuk pertempuran selanjutnya” jawabku.
Aku sudah memperhitungkannya, musuh kali ini tidak sekuat mereka, jadi meskipun tidak dalam keadaan terbaik kami, kami masih bisa memenangkan nya. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami telah sampai, di guild yang juga masih baru berdiri, guild Destroyer.
__ADS_1