
*kriingg...
Bel masuk telah berbunyi dan ujiannya akan segera dimulai.
“baiklah... Semuanya selain alat tulis dan penghapus tolong masukkan didalam tas kalian, waktu ujian kali ini adalah 2 jam jadi jangan terburu – buru.. “ kata bu Suzue.
“baik bu... “ kata para murid.
Kertas ujiannya pun dibagikan dan dengan waktu yang telah ditentukan akhirnya ujiannya dimulai. Semuanya terlihat sangat tegang hari ini, wajahnya terlihat pucat, mereka kebingungan merkipun kemarin telah belajar.
10 menit kemudian.
“bu... Aku sudah selesai.. Aku mau langsung pulang.. ” kata ku sambil membalikkan kertas ujianku dan berjalan kearah pintu.
“eh... Ini baru 10 menit loh...” sahut bu Suzue.
“eh, aku bahkan baru selesai mengerjakan soal nomor 3... Tidak aku sangka murid pindahan ini hebat sekali.. “ bisik para murid.
“huh... Untuk seorang jenis sepertiku, ujian semacam ini sangat lah membosankan...” kata ku saat membuka pintu.
“hei... Masih ada ujian yang kedua loh...” kata bu Suzue.
“oke, aku akan pergi ke kantor kepala sekolah..” kata ku sambil menutup pintunya.
“hmm... Dia mirip kakaknya.. “ pikir bu Suzue.
Aku pergi menuju ruangan kepala sekolah, disaat aku akan mengetuk pintunya aku mendengar sebuah suara.
“bu... Jawaban soal terakhir ini apa..? Aku sudah belajar serius kemarin, tapi kenapa dibuku tidak ada materi yang berhubungan dengan soal ini..?” tanya seorang murid.
“kemari lah akan aku bantu” kata kepala sekolah.
“hmm.. Ini suara kepala sekolah.. Lalu suara siapa lagi itu..? Suaranya seperti seorang cewek... Hehehe aku punya ide bagus...” pikirku, lalu aku mengembil HP ku dan merekam pembicaraan mereka.
“oh soal ini jawabannya begini...” kata kepala sekolah itu.
“begitu ya... Terimakasih mama ku tersayang...” kata murid itu.
“mama..? Jangan – jangan...” pikirku.
*kreeek
Aku langsung membuka pintu dan masuk ke ruangan kepala sekolah.
“permisi, aku langsung masuk, tidak perlu menyambutku” kata ku.
“ternyata benar suara cewek itu adalah Elina... Ternyata ada cara curang seperti ini ya..” pikirku.
“hei bukankah saat ini waktunya ujian..?” tanya Elina marah saat aku masuk ruangan itu.
__ADS_1
“ah kita bertemu lagi.. Memang ini baru sekitar 10 menit... Tidak mungkin sekarang sudah 15 menit berlalu, seharusnya para murid lain masih mengerjakan sih” kata ku.
“jadi maksudmu kau sudah selesai..?” tanya kepala sekolah.
“tepat sekali” jawabku.
“bagaimana bisa..?” tanya Elina.
“kau memang mirip ibumu ya...” kata kepala sekolah itu.
“ahh.. Tadi kakakku sekarang ibuku, kenapa tidak sekalian ayahku juga...?” tanya ku.
“kau juga mirip ayahmu kok... Tepatnya dia tidak suka terlalu dikekang oleh sebuah aturan, dia mewakili seekor burung liar yang dengan bebas bisa pergi ke tempat yang dia mau” kata kepala sekolah.
“tidak suka dikekang oleh aturan ya... Aku pikir tidak seperti itu... Sudahlah...” pikirku.
“ibu kepala sekolah... “ kata ku.
“eits... Panggil bu Haruna” potong bu Haruna.
“... Baiklah, bu Haruna aku ada urusan penting jadi aku ingin mengerjakan ujian yang kedua sekarang” kata ku.
“hei... Sekolah ini bukan milikmu..!!” sahut Elina.
“tapi 60% saham ada ditanganku” kata ku.
“mama...” kata Elina.
“mama kau bahkan memberinya perlakuan khusus kepadanya, bukankah dia adalah murid baru, lebih tepatnya murid pindahan disekolah ini..?” tanya Elina.
“murid baru..? Siapa..? Apakah dia yang kau maksud..?” kata bu Haruna sambil menunjukku.
“memang nya siapa lagi..!!” kata Elina merasa sebal.
“sepertinya kau belum tahu ya... Dia bukanlah murid baru ataupun murid pindahan, sejak awal dia memang sudah masuk disini” jelas bu Haruna.
“jika memang begitu kenapa aku tidak pernah melihatnya disekolah selama ini..? Aku bahkan baru bertemu dengannya disekolah pagi ini” tanya Elina.
“ya karena dia hanya masuk saat ujian saja, dan kau juga tidak mau ujian didalam kelaskan, itulah alasan kau tidak pernah bertemu dengannya” jelas bu Haruna.
“hah.. Mama bukankah dia baru saja membeli saham sekolah ini...? Jadi kenapa kau memberinya perlakuan khusus sejak masuk sekolah..? Aku bahkah tidak sampai seperti itu” tanya Elina.
“pertengkaran ibu dan anak sangatlah hebat, aku bahkan sampai tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan...” pikirku.
“sepertinya aku harus memberitahu kalian hal yang penting.. Huh.. “ kata bu Haruna.
“kalian..? Kenapa aku juga..?” tanya ku.
“benar, apakah kau tidak tahu hubunganku dengan ibu mu..?” jawab bu Haruna.
__ADS_1
“yah... Yang aku tahu bu Haruna adalah kenalan ibuku saja... Ah apakah aku salah..? Jangan – jangan hubungan yang ibu maksud adalah hubungan antara wanita dengan wanita..?” tanya ku.
“BUKAN...!!” sahut bu Haruna.
“atau jangan – jangan ibu adalah mantan kekasih ayahku..?” tanya ku.
“ugh... Bu.. Bukan” kata bu Haruna, wajahnya memerah.
“ah... Sepertinya aku benar” kata ku.
“diam...!! Sepertinya aku salah karena bertanya kepadamu... Biar aku jelaskan, aku dan ibumu adalah sahabat sejak kecil, dulu saat kami baru saja lulus sekolah dan baru saja mencari pekerjaan kami telah berjanji suatu saat kalau kami memiliki anak maka kami akan menikahkan anak kami, dan sekarang sepertinya kami bisa menepati janji yang kami buat dulu” jelas bu Haruna.
“jadi intinya kalau kami ini sudah bertunangan..?” tanya ku.
“benar sekali” jawab bu Haruna.
“APA...?!!” teriak ku dan Elina bersamaan.
“tunggu dulu mama..!! Kenapa mama seenaknya memutuskan masa depanku...? Pokok nya aku tidak setuju... “ protes Elina.
*Tut... Tut.. Tut
Aku pun langsung menelpon ibu ku.
“hallo ibu...” kata ku.
“dasar anak kurang ajar kenapa kau menelponku saat aku sedang rapat..!!” kata ibu marah.
“kenapa kau sudah memutuskan pertunanganku saat aku bahkan belum lahir..?!” tanya ku marah.
“oh aku kira kenapa... Jadi kau sudah tahu ya... Hahaha... Aku lupa tidak memberitahumu, jadi bagaimana tunanganmu..? Dia cantikkan..?” kata ibu tiba – tiba suasana hatinya berubah.
“ibu kenapa tiba – tiba suasana hatimu berubah, saat aku baru menelponmu kau tadi marahkan tapi kenapa saat aku membahas ini kau merasa senang..? Sebenarnya apa yang ibu pikirkan dulu saat membuat keputusan ini hah..? Katakan kepada anakmu ini..? Pokoknya aku tidak setuju, jika ibu tetap memaksa maka aku akan...” kata ku.
“ehem... Jadi kau mau mengancam ibumu ini hah..?” sahut ibu marah.
“iya aku akan berbicara kepada ayah untuk... “ kata ku.
“cukup..!! Pokoknya keputusan ini telah kami tetapkan bahkan jauh sebelum kau ada diperut kami” kata ibu ku dan bu Haruna.
*Tut... Tut... Tut...
Ibu mematikan telpon nya.
“kenapa kalian bisa berkata kompak seperti itu..? Apakah ini juga sudah direncanakan..?” tanya ku.
“mungkin ini adalah sebuah takdir... Hahaha...baiklah tadi kau ingin mengerjakan ujianya langsungkan..? Aku akan memberikannya kepadamu tapi kau harus mengerjakannya bersama putriku” kata bu Haruna.
“baiklah” kata ku singkat tapi saat aku melihat Elina, dia terlihat marah.
__ADS_1
Setelah itu aku mulai mengerjakan ujianku dan seperti sebelumnya aku selesai dengan waktu sekitar 10 menit. Elina sepertinya sangat terkejut saat aku menyelesaikannya dalam waktu sesingkat itu, dia tidak terima dan saat aku keluar dari ruangan itu dia kembali berdebat dengan ibunya. Aku langsing pulang kerumah dan berbaring diatas kasurku, hariini adalah hari yang melelahkan bagi ku, kepalaku pusing dan aku langsung tidur.