Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 71 : Feeling


__ADS_3

Disaat aku pingsan di Colosseum, Bella yang melihatku segera membawaku pulang kerumah, aku tersadar ketika pertandingan Jessie dan Elina telah selesai dan saat itu mereka sudah berada dirumah.


“aaagghhhh...” teriak ku sambil menekan tombol Log Out.


“tunggu Hideo..!! Ada apa dengan mu..?” tanya Elina sambil berusaha meraih ku.


“master..!!” teriak Jessie khawatir.


Kemudian tubuhku langsung menghilang, aku pun telah keluar dari game.


“apa yang telah terjadi kepadanya..?” tanya Lili.


“entahlah, namun sepertinya itu tadi dia benar – benar kesakitan...” jawab Eririn.


“hah...!! Mungkin saja dia hanya akting kan..? Jangan mudah percaya kepada seseorang sepertinya” sahut Bella.


“tidak, dia tadi memang benar – benar kesakitan” kata Elina dengan wajah sedih.


“tunggu, kau tadi menyebut nama Hideo kan..? Siapa sebenarnya White itu...?” tanya Bella sambil menatap Elina.


“ah... Kau masih belum tahu ya... Maaf, selama ini aku telah menyembunyikan nya...” kata Elina sambil berbalik menatap Bella.


“benar... Dia adalah Hideo, Katsuda Hideo... Dia sekelas denganmu, dia juga duduk disebelah mu... Kau dulu mengatakan kepadaku kan..? Kalau kau menyukai seseorang yang duduk disebelahmu, dia adalah orangnya...” jelas Elina.


“apa..!! Tidak... Itu tidak mungkin...!! Aku menyukai seseorang yang juga disukai oleh saudaraku, tapi...” pikir Bella yang sangat terkejut.


Beberapa bulan yang lalu, ketika Bella baru masuk kesekolah.


“ah... Anu... Ibu guru memanggil mu” kata Bella sambil berusaha menatapku.


“hmm... Benarkah..?” tanya ku sambil menatap Bella.


“ah..!! I-iya” sahut Bella sambil memalingkan wajahnya.


“anggap saja aku tidak masuk ke kelas... Malahan aku akan sangat berterima kasih jika kau menganggapku tidak pernah ada didunia ini...” kata ku sambil kembali menatap keluar jendela.


“Hideo... Hideo..!!” panggil bu Suzue.


“hmm...? Ya..?” tanya ku dengan nada seperti orang yang sudah tidak peduli.


“ada apa denganmu...?! Harus berapa kali ibu memanggil mu..!! Cepat kerjakan soal yang ada didepan..!!” kata bu Suzue marah.


“kenapa aku harus melakukan hal yang membosankan seperti ini..” keluh ku.


“kerjakan saja..!!” sahut bu Suzue.


“baiklah” kata ku sambil berdiri.

__ADS_1


*Tap.. Tap... Tap.. Suara langkah kaki ku.


“aku dapat mendengarnya... Sombong sekali dia, rasakan itu, dasar aneh... Namun aku tidak peduli” pikirku sambil terus berjalan.


Aku pun mulai mengerjakan soal itu, dengan cepat aku dapat menyelesaikannya tanpa kesulitan apapun.


“selesai” kata ku singkat.


“baiklah... Hasilnya benar, kau boleh kembali duduk” kata bu Suzue.


“tunggu sebentar..!!” teriak salah seorang murid.


“oh, apakah ada yang tidak kau mengerti..?” tanya bu Suzue sambil menetap murid itu.


“bu, cara itu tidak ada didalam buku” jawab murid itu.


“itu benar, mengkin saja dia menyontek jawaban orang lain namun dia hanya ingat jawabannya saja jadi dia menggunakan cara acak yang tidak kita ketahui seperti itu” sahut murid lainnya.


Satu persatu murid lainnya mulai terpengaruh, mereka pun mendukung murid itu untuk menjatuhkanku.


“hei... Kalian diamlah sebentar...” kata bu Suzue yang tenggelam karena banyaknya murid yang berbicara.


Aku pun merasa sedikit jengkel lalu aku mulai menepuk kan tangan sambil tersenyum kepada murid itu.


“kau siapa..? Sebutkan namamu..” kata ku sambil mengakhiri tepukan.


“hah...!! Kita sekelas namun kau tidak mengenal ku..? Baiklah, namaku adalah....” kata murid itu menyebutkan namanya.


“apa maksudmu..?” tanya murid itu.


“dengarkan perkataanku... Ketika orang – orang mulai meniru cara orang lain, saat itulah sang jenius menciptakan cara nya sendiri” kata ku menatap murid itu.


Semua murid pun langsung terdiam, mereka terkejut dan langsung menatap kebawah.


“hoo.. Kata – kata yang menarik, jadi bagaimana...? Mau diteruskan..?” tanya bu Suzue.


“tidak” jawab murid itu.


“baiklah, kau boleh duduk” kata bu Suzue kepadaku.


Aku pun kembali berjalan menuju bangku ku dan langsung duduk.


“dia adalah... Orang yang selama ini aku cari... Apa mungkin ini adalah takdir..? Jantungku mulai berdegup kencang, aku telah jatuh cinta...” pikir Bella yang sejak awal terus memandangi ku.


“h-hey... A-anu, kau sangat berani ya” kata Bella kepada ku.


“hal konyol macam apa yang kau katakan, jika mereka tahu siapa aku sebenarnya, meskipun hanya menatap mata ku mereka tidak akan berani..” sahut ku.

__ADS_1


“a-aku tidak begitu mengerti namun sepertinya itu hebat” kata Bella.


Semenjak hari itu, tanpa aku sadari diam – diam Bella terus memperhatikanku. Dia ingin mengatakan kalau dia menyukaiku namun dia tidak percaya diri dan akhirnya terus memendam perasaan itu, hingga ketika dia mengetahui kebenarannya, dia sudah terlambat.


“jadi selama ini... Artinya...” kata Bella yang baru menyadarinya.


“ya... Dia adalah tunanganku...” kata Elina sambil berjalan mendekati Bella.


“a-apa yang aku lakukan selama ini... Tanpa aku sadari, aku telah..” kata Bella sambil menatap tangannya.


“cukup..!! Sudah cukup, aku tahu kau akan berkata apa... Jadi, sudah cukup... Aku tidak ingin mendengarnya...” kata Elina sambil memeluk Bella.


“maafkan aku...” kata Bella sambil membalas pelukan Elina.


“sudah aku bilang kan..? Itu sudah cukup, aku tidak ingin kau mengatakan hal itu...” sahut Elina yang semakin erat memeluk Bella.


Perlahan air mata Bella mulai jatuh, tubuhnya mulai lemas namun pelukan nya semakin erat. Semua orang yang melihat mereka berdua pun ikut menangis, mereka terharu.


“master... Aku ingin melihatnya...” kata Jessie sambil menatap tempat biasanya dia menyambutku.


“Jessie...” panggil Elina.


“aku ingin melihatnya...” kata Jessie sambil menatap Elina.


“kemari lah...” lanjut Elina sambil membuka tangannya.


Perlahan Jessie pun juga ikut menangis, dia langsung berlari menuju Elina dan Bella yang sedang berpelukkan. Jessie pun ikut berpelukkan, mereka saling berpelukkan untuk menenangkan diri, Lili dan Eririn juga tidak tinggal diam, mereka juga ikut bergabung.


Beberapa saat kemudian, setelah mereka sedikit merasa tenang, mereka mulai melepas pelukan masing – masing.


“baiklah, aku akan pergi melihat Hideo...” kata Elina.


“tunggu... Aku juga ikut” sahut Bella sambil menatap Elina.


“baiklah... Aku akan menjemputmu” kata Elina sambil menekan tombol menu.


Tiba – tiba Jessie memegang baju Elina, dia ingin berkata “aku juga ikut” namun dia sadar kalau keinginannya tidak akan pernah tercapai.


“tenang saja, serahkan padaku...” kata Elina sambil terus mencari tombol Log Out.


Jessie pun masih terus memegang baju Elina, dia mempererat pegangannya.


“apapun keadaannya akan aku pastikan untuk selalu memberitahumu, aku berjanji... Atau apakah ada yang ingin kau sampaikan kepadanya..?” tanya Elina.


“master... Semoga kau cepat sembuh.. Aku ingin bertemu” kata Jessie sambil melepas pegangannya.


“aku mengerti... Aku pergi dulu” kata Elina sambil menekan tombol Log Out.

__ADS_1


Kemudian yang lainnya juga ikut Log Out meninggalkan Jessie sendirian, dia masih menatap tempat dimana aku sering muncul saat Log In.


“meskipun aku harus menunggu ribuan tahun lagi, aku akan tetap menunggumu... Master”


__ADS_2