Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 22 : Our Story


__ADS_3

5 tahun yang lalu. Tepatnya saat penerimaan siswa baru tingkat SMP.


“kita sudah sampai... Ayah ada pekerjaan, nanti saat pulang kamu akan dijemput sopir kita... Belajarlah dengan rajin” kata ayah dulu saat masih mengantarku sekolah.


“ibu bekerja... Ayah juga bekerja... Kenapa semua bekerja...? Bekerja itu membosankan” kata ku.


“hei kau masih sekolah... Kau tidak perlu memikirkan hal ini... Dari mana kau tahu kalau ini membosankan..? Hah... Pokoknya jangan sampai membuat masalah... Oke..?” kata ayah.


“cih... Baiklah, aku masuk dulu” kata ku.


“sampai jumpa dirumah nanti... Hahaha” kata ayah.


Aku pun keluar dari mobil dan melihat sekeliling, banyak anak yang masuk ke sekolah. Mereka terlihat senang, tersenyum didepan orang tua mereka tapj itu akan berakhir ketika mereka bertemu oleh para senior. Uang keamanan merupakan alasan paling banyak untuk para senior memeras Juniornya. Maka dari itu jangan pernah perlihatkan kelemahanmu, ditempat yang baru aku kenal ini, yang kuatlah yang menduduki rantai makanan dan yang lemah akan menunggu untuk dimakan oleh yang kuat. Jika bertemu dan mendapat masalah, maka pilihannya adalah tunduk atau bertarung, setidaknya itulah yang aku pikirkan.


“hallo... Kau anak baru ya...? Bagaimana kalau aku mengantarmu berkeliling..?” kata seorang senior itu.


“tidak perlu repot – repot, aku akan pergi ke kelas dulu” kata ku.


“Hahaha... Tidak perlu sungkan – sungkan aku akan mengantarmu berkeliling... Sudah sewajarnya kalau senior mengajari Juniornya... Ayo...” kata senior itu memaksa.


“inilah yang aku maksud... Senior yang bahkan tidak menyebutkan namanya saat baru pertama kali bertemu lalu mengajakku berkeliling... Ini sangat mencurigakan” pikirku.


Senior itu mengajakku berkeliling, saat sampai dibelakang sekolah aku melirik senior itu, dia sedang memberi kode kepada temannya dan aku berakhir, disudutkan.


“hei teman – teman..!! Aku membawa domba yang gemuk kali ini” kata senior itu.


“kau sudah membawanya...? Yang satu ini bahkan belum selesai” kata teman – temannya.


“ah yang itu ya... Sudah lah aku tadi melihat anak ini diantar pakai mobil... Pasti dari keluarga yang kaya... Ini kan lumayan...” kata senior itu.


“oh benarkah kalau begitu langsung selesaikan saja.. “ kata teman – temannya.


Mereka mulai mengancam, membentak, dan menggunakan senjata. Aku tetap diam tidak bergerak sedikitpun, mataku terus menatap senior itu dan membuat nya marah.


“hah membosankan... Aku dari tadi hanya mendengarkan omong kosongnya dan itu membuatku ingin muntah...” pikirku

__ADS_1


“sialan..!! Kau berani melihatku seperti itu..!! Aku akan menghajarmu sialan...!!” kata senior itu mendorong.


“oh ini baru menyenangkan... Pukul aku lalu kita akan bertarung sampai akhir” pikirku.


*BRAAKK suara seseorang menabrak tempat sampah.


“hei..!! Dia memukulku... Hajar dia..!!” teriak salah satu temannya.


“apa...!! Cepet habisi dia..!!” teriak senior itu.


“heh... Berani juga dia... Tapi berkatmu aku dapat kesempatan...” pikirku.


Saat senior itu tidak memperhatikan, aku menyelinap di belakangnya. Ketika senior itu sadar aku tidak ada aku akan memukulnya dari belakang, setidaknya itu akan membuatnya pingsan.


“hey dimana bocah yang ada disini tadi...?” kata senior itu.


“dibelakangmu” jawabku.


Saat senior itu melihat kearah ku, aku langsung memukul wajahnya, dan dia langsung pingsan.


“sialan akan aku hajar kau...!!” kata teman – temannya.


Mereka pun langsung menyerangku, tapi aku tidak tinggal diam, satu persatu dari mereka tumbang dan setelah beberapa menit bertarung akhirnya mereka semuanya kalah. Aku melihat sekeliling hanya ada aku yang masih berdiri, namun aku terkejut anak itu juga menang, tatapannya sekarang menjadi dingin.


“hah... Tidak aku sangka dia bertarung dan menang... Menarik” pikirku.


Kami pun saling bertatapan agak lama, aku sadar dia bukanlah lawan yang dapat dikalahkan dengan satu pukulan, dia pun pasti juga berpikir sama sepertiku, aku ingin bertarung melawannya.


“kau... Kawan atau lawan...?” tanya kami berdua bersamaan.


Aku dan dia sama – sama terkejut mendengar pertanyaan itu, kami kembali bertatapan dan perlahan mulai menghampiri. Kami berdua mulai meregangkan badan sambil tetap berjalan dan saat kami sudah berada didalam jangkauan kami kali saling bertatapan sesaat, lalu kami bersamaan mulai memukul, tangan kanan kami saling beradu kekuatan, satu pukulan. Setelah itu kami masing – masing saling memegang baju lawan dan saling beradu tatapan yang menyeramkan.


“jawabanmu... Lawan..!!” kata kami bersamaan.


Kami pun langsung bertarung, pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan kami lakukan dan kami rasakan.

__ADS_1


“bos mereka kuat... Kita mundur...?” bisik salah satu orang disana.


“jangan bodoh.. Mereka memang kuat tapi sekarang mereka bertarung satu sama lain, saat mereka nanti kelelahan baru kita akan membalas dendam... Kita hajar dia sampai ibunya tidak bisa mengenalinya” kata senior itu.


“oh begitu ya... Baiklah aku akan memberi kode kepada yang lain...” kata orang itu.


Akhirnya waktu yang ditunggu – tunggu oleh senior itu tiba. Kami berdua sudah kelelahan setelah bertarung lama, nafas kami tidak teratur, tenaga kami hampir habis, namun kami tetap berdiri. Melihat kami berdua sudah kelelahan, para senior itu bangun.


“hahaha... Lihatlah itu, dua orang bodoh yang saling bertarung... Kalian tadi memukul ku sekarang bagaimana kalau gantian kalian yang dipukul...!!” kata senior itu.


“Hahaha.. Tepat kata bos... Kita harus menghajarnya” kata yang lainnya.


“heh... Kau sudah bangun ya...? Kukira kau akan mati” kata ku.


“bodoh aku dari tadi hanya pura – pura pingsan... Hahaha... Semuanya hajar..!!” kata senior itu.


“kau sepertinya sudah tidak kuat... Istirahtlah, biarkan aku yang menghadapi mereka” kata ku.


“kenapa tidak kau saja..? Aku tidak butuh belas kasihanmu” kata nya.


“Hahaha... Jadi bagaimana..?” tanya ku.


“hanya untuk kali ini saja” kata nya.


Kami bertarung bersama, melawan puluhan musuh, dengan tenaga yang hampir habis, tubuh penuh luka, tangan berlumuran darah, puluhan kali jatuh dan puluhan kali kami bangkit, meski begitu ini sangatlah menyenangkan.


Untuk yang pertama kalinya kami berdua bertemu, untuk pertama kalinya kami bertarung, untuk pertama kalinya kami berkeja sama...


Akhirnya pertarungan kami selesai, kami memenangkannya lagi. Tubuh kami berbaring ditanah, tenaga kami sudah habis, saling menatap langit dengan senyuman.


“ini menyenangkan.. Hey, kau masih bisa berdiri..?” kata ku saat masih berbaring ditanah.


“hah... Seharusnya aku yang bertanya” katanya singkat.


Kami pun mencoba berdiri, kaki kami bergetar, tapi kami tetap memaksa untuk berdiri, namun itu sia – sia kami kembali jatuh. Kami saling menatap dan mengambil nafas panjang. Kami saling tersenyum, mencoba merangkak untuk saling mendekat, saling membantu untuk bangun dan saling merangkul untuk berjalan. Dihari pertama kami masuk sekolah, seharusnya kami sekarang berada didalam aula, namun karena keadaan kami yang seperti ini akhirnya kami pergi meninggalkan sekolah. Kami berjalan melewati gerbang dengan senyuman meski dengan tubuh yang penuh dengan luka, tapi ini menyenangkan.

__ADS_1


...Dan akhirnya ini adalah pertama kalinya kami berteman.


__ADS_2