Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 64 : The Unexpected


__ADS_3

Pada saat itu, Bella dan Lili sedang bertarung didalam Dungeon, mereka bergerak dengan cepat untuk menyusul kami, dibantu oleh Eririn yang merupakan seorang Warrior membuat perjalanan mereka semakin cepat.


“hah... Sudah aku duga... Maraton dari lantai 2 menuju lantai 6 memanglah melelahkan..” kata Lili dengan nafas yang terengah – engah.


“aku juga berpikiran sama... Aku ingin beristirahat sebentar” kata Bella sambil duduk dilantai.


“hei... Ini tidak boleh, kita harus cepat menyusul mereka” sahut Eririn.


“hah...? Apa maksudmu..? Sekarang kami sudah lelah, setidaknya biarkan kami beristirahat sebentar” kata Bella sambil menatap Eririn.


“sebagai teman masa kecil Elina, aku mencemaskan keadaannya sekarang... Lebih dari siapapun..!!” kata Eririn sambil menatap balik Bella dengan tajam.


“teman masa kecil ya... Sayang sekali aku juga teman masa kecilnya dan aku percaya dengannya kalau dia akan baik – baik saja” kata Bella.


“teman masa kecil macam apa kau ini..?” tanya Eririn.


“akulah yang seharusnya bertanya, kau sebagai teman masa kecilnya malah tidak mempercayai nya, apakah kau ini memang benar – benar teman masa kecil nya..?” tanya Bella.


“Diam..!! Aku tidak bermaksud untuk tidak mempercayai nya, tapi aku mengkhawatirkan dia... Dia disana bersama para iblis...” kata Eririn.


“iblis..?” tanya Bella yang tidak mengerti.


“White dan Jessie... Mereka adalah iblis nya...” jawab Eririn.


“katakan sekali lagi atau kau akan mati disini..!!” teriak Lili marah sambil mengambil pedangnya.


“hah..? Dia adalah iblis, White dan Jessie adalah iblis..!!” kata Eririn memprovokasi Lili.


“baiklah... Kau memang cari mati..!!” kata Lili sambil menatap tajam kearah Eririn.


“baiklah pertandingan... Dimulai..!!!” teriak Bella dengan penuh samangat.


Dengan cepat Lili pun bergerak menuju Eririn, sedangkan Eririn hanya mengambil ancang – ancang saja sambil terus melihat pergerakan Lili.


“hmm..? Sudah aku duga, istirahat sambil melihat orang bertarung memanglah hebat” kata Bella sambil bersantai melihat mereka berdua.


Lili pun langsung melompat keatas dan langsung menerjang kearah Eririn, gerakan nya sangatlah cepat namun Eririn masih bisa melihat nya, Eririn pun langsung menebas kearah Lili.


“akan aku bunuh kau dengan satu tebasan ini..!!” teriak Eririn.


“kekuatan atau kecepatan... Kita akan melihatnya sekarang, siapakah yang paling hebat..!!” teriak Lili.


*Cliiingggg.... Suara pedang yang saling berbenturan.


“apa yang kalian...” kata ku sambil menahan serangan Eririn.


“lakukan..?” sahut Jessie yang melengkapi pertanyaanku, dia menahan serangan Lili.


Eririn, Lili, serta Bella pun terkejut saat itu, tiba – tiba aku dan Jessie langsung menghentikan pertarungan mereka. Eririn pun langsung ketakutan saat melihat ku menahan serangannya, saat itu aku menatapnya dengan tajam seperti yang pernah aku lakukan bersama Jessie dulu dan dia mengingat hal itu.


“mereka benar... Apa yang terjadi disini..?” tanya Elina sambil berjalan mendekat.


“cih, akan aku lepaskan kau hari ini...” kata Lili sambil kembali menyarungkan pedangnya.


Meskipun Eririn sedang ketakutan saat itu, namun ketika dia mendengar kata – kata Lili, dia pun menahan rasa takutnya dan bersikap tenang. Eririn pun hanya membalikkan badannya lalu menyarungkan pedangnya.

__ADS_1


Aku pun menatap mereka satu persatu sambil menyarungkan pedangku, Jessie pun melakukan hal yang sama. Suasana nya menjadi hening, hanya suara langkah kaki Elina saj yang terdengar.


“jadi kenapa kalian datang mencariku..?” tanya ku memecah keheningan itu.


“apakah Ricoris benar – benar seorang perempuan..?” tanya Elina sambil menghentikan langkahnya.


“hah..? Jadi kau datang mencariku sampai kesini hnya untuk memastikan hal itu saja..? Konyol sekali” jawabku sambil memalingkan wajahku.


“yah, sebenarnya itu hanya alasan yang aku buat – buat saja... Yang sebenarnya adalah...” kata Elina.


“hmm..? Katakan” kata ku sambil menatap Elina.


“yang sebenarnya kami bosan berada dirumah” lanjut Elina.


“alasanmu sangat lah lucu sekali” sahut ku.


“kalau begitu kenapa kau tidak tertawa..?” tanya Elina memandangku.


Aku pun hanya menatap Elina.


“lalu kenapa kalian berdua saling bertarung..?” tanya ku kepada Eririn dan Lili.


“tidak ada alasan khusus... Kami hanya ingin bertarung saja” jawab Lili.


“di-dia benar...” tambah Eririn.


“kau sepertinya menikmatinya ya...?” tanya ku sambil menatap Bella.


“tentu saja... Ngomong – ngomong apa - apaan rumah mu itu..? Dirumahku bahkan tidak ada tempat seperti itu” tanya Bella.


“memangnya apa lagi...?” tanya Bella balik.


“tempat misterius..? Dan kabut..? Apakah benar hal itu ada dirumahmu...?” tanya Elina.


“hah..? Jadi kau belum tahu ya..?” tanya Bella.


“eh...? Jangan – jangan kalian semua...” kata Elina terkejut.


“tentu saja aku tahu, dia adalah orang yang aku kagumi.. Lagi pula aku juga tinggal bersamanya, mau ditaruh kemana muka ku ini kalau aku tidak mengetahuinya” sahut Lili.


“kalau aku... Aku menemukannya saat aku mencari rute untuk melarikan diri kalau terjadi apa – apa” kata Eririn.


“alasan yang tidak masuk akal” pikirku sambil menatap Eririn.


“ah... Jadi hanya aku saja ya... Yang tidak mengetahuinya” kata Elina murung.


“kalau begitu bagaimana kalau kita melihatnya..?” tanya ku sambil menatap nya.


“hem... Kalau kau memang seserius itu ingin menunjukannya kepada ku” kata Elina sambil memalingkan wajahnya.


Akhirnya kami pun kembali ke rumahku, aku memperlihatkan tempat misterius itu kepada Elina. Dia terkejut saat pertama kali melihatnya, dia pun berjalan menuju tempat itu dan mulai menyentuh kabutnya.


“apakah ini dalam..?” tanya Elina.


“ini terlihat dalam” sahut Bella mengikuti Elina.

__ADS_1


“aku juga penasaran” kata Lili sambil menatap kedalam kabut itu.


“tidak, ini tidaklah dalam.. Aku sering menggunakan tempat ini untuk melatih Jessie, dibawah sangatlah datar dan tidak ada apapun disana” jawabku.


“berlatih..? Kelihatannya menarik” kata Bella sambil melompat kebawah.


“aku juga ikut” kata Lili sambil ikut melompat.


Kemudian Eririn pun juga ikut melompat, saat itu aku pun juga ingin ikut melompat namun dihentikan oleh Elina.


“ada apa..?” tanya ku sambil menatap Elina.


“nanti malam... Ibu mengajak mu dan ibumu makan” kata Elina pelan.


“sungguh... Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan, tapi baiklah” kata ku sambil mengelus kepala Elina.


“sial..!! Andai saja aku punya tubuh didunia asli, aku juga ingin melihat ibunya master...!!” pikir Jessie sambil menahan emosi nya saat mendengarkan pembicaraan kami.


*BOOOM... Suara ledakan.


“hmm.. Apa itu tadi..?” tanya Elina.


“mungkin mereka sedang berlatih” jawab ku sambil melihat kearah kabut itu.


“oh iya, kau tadi menyinggung kata ‘melatih’ ya” sahut Elina.


Beberapa jam setelah itu, akhirnya aku dan ibuku mulai berangkat menuju tempat yang telah ditentukan. Disebuah restoran ditengah kota kami pun bertemu, mereka sudah menunggu kami.


“ah akhirnya kalian datang” kata ibunya Elina sambil tersenyum kearah kami.


“maaf membuatmu menunggu, aku ada urusan sedikit tadi” sahut ibuku sambil membalas senyuman ibunya Elina.


Suasana menjadi hening, seakan mereka sedang menunggu kami saling menyapa.


“hei.. Katakan sesuatu” bisik ibuku sambil mencubit lenganku.


“yo... Kita bertemu lagi” kata ku menatap Elina.


“ah ya, selamat malam” sahut Elina.


Pembicaraan pun berakhir, sambil menahan senyumannya ibuku kemudian langsung manarik bajuku.


“baiklah kita langsung saja” kata ibuku sambil mulai duduk.


“ah ya... Santai saja” sahut ibunya Elina.


“apa yang kau lakukan..? Cepatlah duduk” bisik ibuku.


“hah... Ini membosankan, aku ingin segera tidur” kata ku sambil melihat keluar restoran.


*BRUUMM... suara mobil yang lewat didepan restoran.


Sambil duduk aku pun melihat keluar restoran, suara mobil itu berhasil memancing perhatian ku. Ketika mobil itu lewat didepan restoran, hal yang tidak pernah aku duga, aku melihatnya kembali, orang yang paling aku benci saat ini. Amarahku langsung memuncak saat melihatnya, orang itu berada didalam mobil.


“aku... Tidak akan melepaskanmu lagi kali ini..!!” pikirku sambil tersenyum jahat setelah melihat mobil itu lewat.

__ADS_1


__ADS_2