Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 53 : My Revenge


__ADS_3

“MULAI HITUNG MUNDURNYA...!!” teriak kami.


“5... 4... 3... 2... 1... START..!!” teriak semua penonton dengan penuh semangat.


Pertandingannya pun dimulai, aku dan Jessie dengan cepat langsung berlari kearah Ricoris. Namun Ricoris telah menyadarinya, Ricoris pun menyuruh NPC nya untuk segera memblokir kami. NPC itu bergerak maju dan menghadang kami, kemudian dengan kekuatan penuhnya, NPC itu mengayunkan pedangnya kearah kami.


“Jessie...” kata ku sambil memberi kode.


“dimengerti master...” kata Jessie sambil mengangguk.


“Lucian tebas mereka sampai mati..!!” teriak Ricoris saat NPC nya menyerang kami.


“ternyata nama dari NPC nya adalah Lucian, seperti nya Ricoris juga memiliki sebuah rencana... ” pikirku.


aku pun menurunkan kecepatanku lalu aku bergerak kebelakang Jessie dan berlari mengikutinya dari belakang, semakin lama jarak kami semakin jauh. Sesuai yang kami rencanakan, Jessie langsung menahan serangan dari Lucian, Jessie terlihat sangat mudah dalam menahan serangan itu, ini sudah menjelaskan kalau Jessie lebih unggul dari Lucian.


Kemudian dengan cepat aku pun langsung berlari kearah Jessie dan Lucian. Jessie pun melirik ku sebentar dan langsung melompat saat jarakku sudah semakin dekat, setelah itu Jessie langsung menuju kearah Ricoris. Disaat yang sama setelah Jessie melompat, aku pun langsung menyerang Lucian, aku menendang badannya dari samping, dengan satu tendangan Lucian pun terlempar jauh.


Setelah itu aku langsung menyusul Jessie, aku memerlukan sedikit waktu agar aku dapat menyusulnya. Ricoris pun terkejut, dia tidak menyangka kalau NPC nya akan kalah dengan begitu mudahnya. Kami pun menyerang Ricoris dalam waktu yang bersamaan, namun Ricoris masih dapat menahannya meskipun dia sedikit terdorong.


Ricoris menyerang kami balik, dia menggunakan kedua tombaknya untuk menyerang kami, Jessie pun menghindari serangan itu dan langsung melompat sedangkan aku menangis serangannya.


“SWORD OF CALAMITY... RELEASE..!! BLADE DANCE..!!” teriakku.


Aku pun langsung menyerang kembali, dalam tahap ini kecepatan serangan kami masih seimbang, namun tujuanku bukanlah itu.


“serangan yang sebenarnya adalah... Dari atas...” pikirku sambil sedikit tersenyum.


“apa...!! Jangan – jangan...!!” pikir Ricoris sambil melihat keatas.


“kesempatan... Akan aku ambil kesempatanmu...” kata ku dengan senyuman yang semakin lebar.


“hah..? Apa..” kata Ricoris yang terkejut saat melihatku kembali.


“LIGHTNING JUDGMENT..!!” teriakku sambil menyerang Ricoris.


Ricoris pun mencoba untuk menghindar, namun dalam waktu yang sesingkat itu, meskipun dia memiliki kecepatan yang tinggi, tetap saja dia tidak akan dapat menghindarinya.


“sialan..!! Aku tidak bisa bergerak...” pikir Ricoris sambil melihat kearahku.


“lalu silahkan nikmati pelayanan khusus dari kami...” kata ku sambil mundur beberapa langkah.

__ADS_1


Jessie pun langsung menyerang Ricoris dari atas, dia mengubah senjatanya menjadi sebuah kapak.


“FULL ATTACK...!!” teriak Jessie.


“gawat... Lucian tahan serangan ini...!!” teriak Ricoris.


Kemudian dengan cepat Lucian berlari menghampiri Ricoris, namun aku tidak hanya tinggal diam saja, aku langsung menghadangnya. Meskipun begitu Lucian tidak menyerangku, dia lebih fokus untuk melewatiku, dia tidak ingin membuang – buang waktu untuk menyerangku.


“sayang sekali kau tidak diperbolehkan lewat...” kata ku yang masih menghadangnya.


Lucian pun mencoba berbagai cara untuk melewatiku, namun semua caranya telah aku gagalkan hingga akhirnya dia mulai menyerangku, dia menebasku berkali – kali namun dengan mudah aku bisa menghindarinya.


“Lucian apa yang sedang kau lakukan..!!” teriak Ricoris sambil melihat kearah Lucian.


“hyaa... 120 persen..!!” teriak Jessie yang terus menyerang.


Ketika Lucian mendengar teriakan Ricoris, kecepatan serangannya bertambah, tatapan nya fokus terhadap ku dan sesekali melihat Ricoris. Meski begitu aku masih tetap mempermainkan dia, aku dengan sengaja memang ingin membuat mereka terlihat lemah, tiba - tiba Lucian berlari menerobosku, dia dengan sengaja menabrak ku dan ketika aku kehilangan keseimbangannya dia akan langsung menuju masternya.


“hei kau mau kemana..?” tanya ku sambil memegang baju Lucian.


“hei berhentilah bermain – main dan cepatlah bantu aku...!!” teriak Ricoris marah.


“sudah aku bilangkan... Kau tidak diperbolehkan lewat..!!” teriakku sambil melempar Lucian ke tembok pembatas arena.


*BOOOM suara Lucian yang terbentur ke tembok.


“Lucian..!!” teriak Ricoris sambil melihat Lucian.


Lucian pun tidak dapat bergerak untuk waktu yang lama, kemudian aku pun melihat Jessie yang terus menyerang Ricoris.


“ini sudah waktunya untuk mengakhiri pertandingan kali ini... SPEED BOOST... ON..!!” kata ku sambil mengambil ancang – ancang.


Aku pun dengan cepat berlari kearah Ricoris dan membantu Jessie untuk mengakhiri pertandingannya. Kami terus menyerang Ricoris tanpa memberikan kesempatan sedikitpun baginya untuk kabur hingga HP miliknya habis. Tubuh Ricoris pun bersinar dan perlahan memudar.


“teng... Teng... Teng... Pertandingannya telah berakhir...!! Pemenangnya adalah tim milik White.... Selamat... Selamat..!!” kata Fiola ketika pertandingannya berakhir.


“master aku berhasil” kata Jessie yang melihatku sambil tersenyum.


“yah, kau benar... Kau berhasil kali ini” kata ku sambil mengelus kepala Jessie.


“hehe... Kalau begitu hadiahnya..?” tanya Jessie senang.

__ADS_1


“jadi kenapa kau berteriak seperti itu saat menyerang Ricoris tadi..?” tanya ku sambil mengalihkan topik.


“tentu saja karena itu keren... Jadi bagaimana dengan hadiahnya..?” tanya Jessie.


“tapi itu tadi bukan semacam Skil kan..?” tanya ku yang terus mengalihkan topik.


“tentu saja bukan... Master juga seperti itu kan..? Dan hadiahnya..?” tanya Jessie yang masih tersenyum.


“benar juga... Aku juga melakukan hal itu ya...” kata ku sambil memalingkan wajahku.


“ha-di-ah-nya..?” tanya Jessie dengan wajah cemberut.


“ahh... Aku menyesal berkata seperti itu” kata ku pelan.


Cahaya milik Ricoris pun kembali berkumpul dan Ricoris pun akhirnya kembali hidup,


“heh... Tidak aku sangka ini akan terjadi kepadaku... Aku tidak tahu bagaimana cara mu menaikkan level denagn begitu cepat, sudah hampir 2 minggu aku tidak bermain dan tiba – tiba level mu sudah hampir melampauiku padahal satu bulan yang lalu level kita terpaut sangat jauh... Sepertinya aku terlalu meremehkan mu... Baiklah akan aku berikan armor dan senjata ini kepadamu..” kata Ricoris sambil menyerahkan armor dan senjatanya.


“huh...? Apa maksudnya ini..? Ini masih kurangkan..?” tanya ku sambil melihat Ricoris.


“apa yang kau maksudkan..? Ini adalah taruhan kita tadi bukan..?” tanya Ricoris balik.


“hei...!!” teriakku memanggil Fiola yang masih menunggu kami keluar dari arena.


“hmm...? Mau diulang..?” tanya Fiola sambil mendekati kami.


“tentu saja tidak... Huh... Apa taruhannya jika aku menang tadi..?” tanya ku.


“semua item yang dipakai lawan hari ini akan menjadi milikmu” jawab Fiola.


“hah...!! Apa maksudnya ini..!!” teriak Ricoris yang sangat terkejut.


“hei... Apakah kau bertaruh tanpa tahu apa yang kau pertaruhkan..?” tanya ku.


“cih sialan..!! Aku telah ditipu..!!” teriak Ricoris.


Kemudian dengan wajah terpaksa, Ricoris pun menyerahkan semu item yang dia bahkan pakai selama hari ini. Aku puh hanya terus tersenyum saat Ricoris memberikan itemnya, dan mungkin itu membuatnya sangat geram.


“oh iya jika kau ingin balas dendam, ikutilah Party War besok... Akan aku tunggu dirimu” kata ku yang meninggalkan arena sambil melambaikan tangan kepada Ricoris.


Aku pun kembali menuju rumah, meskipun sebagian besar item milik Ricoris adalah item sampah, namun mungkin ini akan berguna nantinya, jadi aku akan menyimpannya untuk sementara. Namun masalah baru muncul saat itu, selama dijalan bahkan sampai dirumah, aku terus disiksa dengan pertanyaan – pertanyaan Jessie, dia ingin hadiah. Aku bahkan tidak ingat, kapan aku berkata jika dia melakukan tugas dengan baik maka aku akan memberinya hadiah. Dan dengan terpaksa aku berbohong kepadanya, kalau aku akan memberinya hadiah esok hari, aku tidak tahu harus berkata apa lagi hari ini.

__ADS_1


__ADS_2