Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 86 : It's Party Time


__ADS_3

Keempat Player yang berada diruangan rapat pun menatapku dengan tajam. Aku tidak dapat mendengar sesuatu selain langkah kaki kakakku yang memecah keheningan. Tidak ada satu pun diantara kami yang memulai serangan, semua seakan sedang menunggu sesuatu.


Aku pun mencoba untuk tetap tenang, meskipun begitu, sekarang otakku sedang berpikir sangat cepat. Tidak ada celah yang bisa digunakan untuk keluar selain pintu depan. Ruangan yang gelap bisa menguntungkan Assassin seperti ku, namun tidak menutup kemungkinan kalau disana juga ada banyak jebakan.


*Creekk... Suara pintu terbuka.


“sepertinya akan segera dimulai... Ini adalah tandanya..” pikirku sambil mengeluarkan pedangku dan mulai mengambil ancang - ancang.


*Braakk... Suara pintu yang tertutup sangat keras.


“dimulai..!! Tapi, dimana serangan pembukanya..?” pikirku sambil melihat keempat Player yang ada dihadapan ku.


Mereka pun tetap tenang, bahkan sedari tadi mereka tidak bergerak sedikitpun, mereka hanya duduk dikursi sambil menatapku. Aku pun kembali menyarungkan pedangku, dengan tenang aku menatap keempatnya sebentar dan kemudian aku mulai melihat ke pintu ruangan itu.


Aku mulai melangkah, pada langkah pertamaku, mereka masih belum bergerak. Aku melanjutkannya lagi, pada langkah kedua ku, mereka langsung berdiri. Aku terus melanjutkannya, pada langkah ketiga mereka mulai mengeluarkan senjatanya dan pada langkah keempat mereka pun langsung berada disamping pintu.


“mereka... Cepat...!! Sekarang, bagaimana caraku untuk memenangkan pertarungan ini..?” pikirku sambil terus melangkah.


Tiba – tiba salah seorang Player itu menyerangku dengan Giant Sword. Sambil mengayunkan senjatanya, dia pun sedikit tersenyum, begitu juga yang lainnya, dalam ketenangan mereka tersenyum.


“ah... Aku paham” kata ku sambil menatap Player yang menyerangku.


*Swoosshhh... Suara angin yang dihasilkan dari pedang itu.


Pedang itu pun tiba – tiba berhenti ketika berada tepat didepan wajahku. Mereka pun terkejut ketika melihatku yang tidak menghindar tapi malah menatap temannya.


“... Sedang apa kau..?” tanya ku setelah beberapa saat menatapnya.


“heeeh... Kau pemberani juga, menarik... Lalu apa rencanamu...?” tanya Player itu.


“hanya orang bodoh saja yang mengatakan rencananya kepada musuhnya... Yah, aku juga termasuk... Pertama – tama aku akan kesana” kata ku sambil menunjuk ketengah ruangan yang berisi puluhan Player.


Mereka bertempat pun sedikit terkejut dan saling memandang satu sama lain. Kemudian mereka menyarungkan kembali senjatanya masing – masing lalu mulai mengikutiku saat aku berjalan menuju ketengah ruangan itu.


Sekarang, aku bisa melihat wajah mereka dengan sangat jelas. Seorang laki – laki Role Archer dengan ras Human serta memakai kacamata, dia terlihat sangat cerdas. Seorang laki – laki dengan ras Android, Role Warrior. Seorang laki – laki lagi dengan ras Demon, dari tatapan matanya, dia terlihat sangat tidak peduli dengan sekitarnya, Role Wizard. Serta seorang perempuan, Ras Beastman dan memiliki Role Assassin.


Puluhan pasang mata kini telah menatapku, sambil tersenyum mereka pun mulai mengeluarkan senjatanya. Keempat Player tadi langsung berjalan pelan dan mengepung ku dari 4 arah. Aku pun mengambil nafas panjang dan ketika aku menghembuskan nya, keempatnya langsung memegang senjatanya.


“instruksi... Aku menuntut keringanan” kata ku singkat sambil mengangkat tanganku.

__ADS_1


“aaahh... Sayangnya, tuntutan mu ditolak” jawab Player berkacamata.


“oh... Kalau begitu, langsung saja... Walau pun sebenarnya aku sudah pasti bisa keluar dari sini...” kata ku tanpa beban.


“IT’S PARTY TIME...!!” kata Player yang berkacamata itu sambil membuka tangannya.


Tiba – tiba, diikuti oleh semua orang, keempat player itu langsung bergerak menyerangku.


“tidak ada kesempatan, tidak ada celah, dan tidak ada ampunan, ironis sekali... Kalau begini, aku tidak boleh sampai berada diposisi bertahan...” pikirku saat melihat mereka.


Seperti sebelumnya, aku pun mencoba skill cheat ku, aku menutup mata ku perlahan lalu dengan cepat langsung membukanya. Sekarang, aku kembali melihatnya, ruangan berwarna hitam dengan garis – garis berwarna biru. Aku dapat melihat nya, semua Player yang sedang bergerak menyerangku.


“ini... Adalah sukacita..!!” teriakku sambil berlari kedepan.


*Cling...!! BOOMM...!! swooshh.. suara pertarungan itu.


Dalam sekejap, ruangan yang hening sekarang menjadi sangat ramai. Semua langsung mengincar ku ketika aku berlari. Didepanku sekarang ada salah seorang dari keempat Player tadi, dia adalah seorang perempuan dengan ras Beastman. Dengan kecepatan penuh, aku pun langsung menyerangnya, namun dia berhasil menghindarinya.


“dia langsung menyerangku ya... Baiklah kalau begitu” pikir perempuan itu.


Perempuan itu membalas, dia pun menambahkan kecepatannya dan langsung mengejarku, namun tiba – tiba aku menghilang dari pandangannya. Disaat perempuan itu kebingungan dan masih mencariku, aku pun dengan cepat langsung menebasnya dari belakang.


“apa..!! Bagaimana bisa kau...?! Ughh” teriak perempuan itu saat aku menempelkan pedangku dipunggung nya.


“sekarang, tolong keluarlah...” kata ku langsung menusuk punggungnya.


Kemudian aku mencabut pedangku, lalu aku menggunakan punggungnya sebagai pijakan untuk melompat keatas.


“apa..!! Dia menghilang..!!” teriak Player Role Warrior.


“sepertinya kita harus serius menghadapinya” sahut Player Role Archer dengan tenang.


“cih, dasar payah..!!” teriak Player Role Warrior itu kepada perempuan yang baru saja aku tusuk.


“maaf saja..!! Tapi meskipun tidak sakit, aku tetap terkena serangannya... Jadi, aku pergi dulu, aku akan menemui DE.. Sampai jumpa” sahut perempuan itu sambil berjalan menuju pintu keluar.


“jangan lengah..” kata Player Role Archer sambil menyerangku dengan panahnya.


“akan aku bantu... SHOCK BALL..!!” teriak Player Role Wizard ikut membantu.

__ADS_1


Secara refleks aku pun menghindari lalu menangkap anak panah itu, kemudian aku melemparnya kearah sekarang Wizard itu. Bola itu pun langsung hancur.


“oh... Cerdik sekali dia... BLACK ARROW..!!” teriak Player Role Archer yang mengicarku tepat saat aku jatuh.


“SWORD OF CALAMITY... RELEASE..!!” teriak saat anak panah itu mengarah langsung kepadaku.


Aku pun menahan anak panah itu, namun aku tidak melawan, aku sengaja agar anak panah itu dapat mendorongku sampai ke tembok. Aku pun langsung mendorongnya ketika jarak antara tembok dengan ku hampir dekat. Berkat itu, aku pun terlempar ketembok dan anak panah itu melambat.


“hadang dia dibawah dan ketika dia sudah mencapai, langsung serbu..!!” teriak salah satu Player yang berada dibawahku.


“SPEED BOOST... ON..!! Awakening tingkat kedua... RELEASE..!!” teriak sambil berlari ditembok menuju kebawah.


*BOOOM... Suara ketika aku menyentuh tanah, debu – debu pun beterbangan ditempat aku jatuh.


Tanpa membuang waktu, aku pun langsung menghadapi mereka semua, satu persatu aku mulai mendarat kan sebuah serangan kepada mereka.


“cepat..!! Dia bertambah cepat..!! Role Assassin tahan dia sebentar, Role Wizard beri bantuan, Role tank bentuk pertahanan, jangan sampai kalian terkena serangannya..!!” teriak Player Role Archer memberi arahan.


“dimengerti..!!” sahut para Player.


Dalam sekejap, mereka pun melakukan apa yang dikatakan oleh Player itu. Sebuah barusan kokoh berada didepanku, aku pun memutarinya dan mencoba untuk mencari celah, namun itu sia – sia. Seperti seekor landak yang mempertahankan dirinya, mereka terus bergerak dan menghadap kearah ku.


“sepertinya tidak bisa, aku harus mencari cara lain... Apakah disini ada- ughh...” pikirku namun tiba – tiba aku terjatuh.


“huh..? Apa yang terjadi..?” tanya Player Role Warrior.


“baiklah, cukup sampai disini... Sepertinya kau sudah mencapai batasmu” kata Player Role Archer.


“sakit... Kepalaku kembali sakit... Sialan..!!” pikirku yang sedang terbaring dilantai.


“kita akhiri sampai disini..!!” kata Player Role Archer sambil membidikku.


Sambil membidik, Player itu pun tersenyum kepadaku, namun apa yang dia lihat ketika membidikku membuatnya terkejut, aku membalas senyumannya, seakan – akan aku berkata kalau ini belum berakhir. Namun dia masih percaya diri, dia langsung menembakku dengan anak panahnya.


*Cling... Suara tangkisan.


Suara itu menggema, dan menghentikan senyuman nya. Semuanya terkejut serta tidak percaya dengan apa yang mereka lihat didepan mata mereka sendiri. Disaat aku sedang terdesak, seorang gadis pun muncul dan menyelamatkan ku. Dengan ekspresi terkejut bercampur dengan marah, gadis itu pun menatap tajam kearah mereka dan berkata...


“tidak bisa dimaafkan... Kalian akan menyesalinya..!!”

__ADS_1


Dengan penuh amarah, gadis itu pun mengangkat senjatanya dan mengarahkannya kepada mereka. Gadis yang pemberani, rambut yang indah serta tajam, tatapan yang mengerikan, siapa dia..?


__ADS_2