Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 40 : She is Alive


__ADS_3

“apakah kau sudah siap..?” tanya ku.


“baiklah, perintah master adalah mutlak” kata Jessie yang mulai mengambil ancang – ancang.


Aku juga mulai mengambil ancang – ancang, kami bertatapan sebentar sebelum pertarungan kami kembali dimulai. Setelah mengambil ancang – ancang Jessie tidak bergerak sedikit pun, mata nya tertuju kepadaku dan dia seakan sedang menungguku untuk menyerang pertama kali.


Kemudian dengan cepat aku langsung menuju kearahnya, dalam beberapa langkah aku mengubah arahku untuk membuat Jessie bingung. Namun Jessie masih bisa melihatku, dia tidak merasa kebingungan sama sekali, bahkan dari saat aku mulai menyerang dia tidak berkedip sama sekali, dia terlalu fokus.


Setelah jarak kami sudah dekat, aku langsung menyerang nya dari atas, Jessie pun segera menahannya, namun itu adalah sebuah serangan tipuan dari ku. Sebenarnya aku mengincar kaki nya yang tidak terlindungi, saat dia akan menahan serang itu aku langsung menendang kakinya dari samping kanan. Jessie pun sempat menyadarinya, namun itu sudah terlambat baginya untuk menghindar. Kemudian dengan cepat Jessie mengangkat kaki kanannya, dan dia juga sempat melompat sedikit.


Aku tidak menyadari rencananya, namun saat aku berhasil menyerangnya Jessie pun bukannya langsung jatuh tapi dia malah berputar diudara dan kembali berdiri disamping tempatnya berdiri tadi. Aku pun sedikit terkejut, Jessie pun dengan cepat langsung menyerang balik, dia menebasku dari samping.


Secara refleks aku langsung bergerak searah dengan serangannya, kemudian aku sedikit menyentuh pedangnya dengan tanganku dan menghindari serangan itu dari bawah. Setelah aku menghindari serangan itu aku langsung memukul Jessie, namun Jessie seakan sudah memperkirakan hal ini, akhirnya pukulan tangan kami saling berbenturan. Jessie pun sedikit terdorong kebelakang beberapa langkah karena perbedaan kekuatan kami.


Melihat hal itu aku tidak menyia – nyiakan kesempatan ini, dengan cepat aku kembali mendekatinya lagi dan menyerangnya.


“BLADE DANCE...!!” teriakku langsung menyerang Jessie dengan satu pedang.


Jessie pun terkejut, dia berusaha untuk menangis setiap seranganku, namun sedikit demi sedikit seranganku menembus pertahanannya.


“CHANGE BODY : DRAGON FORM...!! DRAGON ARMOR...!!” teriak Jessie ditengah – tengah seranganku.


“Apa..!! Sisiknya berevolusi menjadi armor...!! Dan armor ini keras sekali” pikirku saat itu.


Wujud Jessie pun berubah, dari yang awalnya dia menggunakan wujud manusianya sekarang dia berubah menjadi wujud naganya.


“DRAGON SLASH... STREAK..!!” teriak Jessie membalas seranganku.


Sedikit demi sedikit Jessie mulai mengimbangi seranganku. Kami cukup lama beradu serang itu, hingga akhirnya kami mulai kelelahan, Jessie pun langsung mundur kebelakang namun aku tidak membiarkannya, aku langsung memegang tangannya dan menjatuhkan Jessie. Kemudian aku menginjak tangan Jessie yang memegang senjata dan tetap memegang tangan Jessie yang satunya, aku pun juga mengarahkan pedangku dilehernya, aku berada diatas tubuh Jessie.

__ADS_1


“master... Tidak membunuhku...?” tanya Jessie dengan nafas yang terengah – engah.


“kalau aku memang berniat untuk membunuh mu maka aku sudah melakukannya dari tadi... Jujur saja sekarang keraguanku sedikit berkurang” kata ku dengan nafas yang juga terengah – engah.


“Begitu ya... Senang aku mendengarnya” kata Jessie sambil tersenyum.


“eh..” pikirku.


Aku pun menyadari sesuatu, hal yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.


“rasa hangat dan detak nadi nya... Aku bisa merasakannya..!!” pikirku.


Kami saling bertatapan, aku bisa mencium sebuah aroma yang seharusnya tidak ada didalam game.


“apa ini...? Apa apaan ini...?!” pikirku sambil melepas tangan Jessie.


“master ada apa..?” tanya Jessie kebingungan saat aku melepas tangannya.


“tidak... Ini tidak mungkin... Rasa ini... Seharusnya tidak ada didalam game..!!” pikirku sambil memegang kepalaku.


Saat aku masih terkejut dan kebingungan, tiba – tiba aku kembali merasakan sebuah serangan seperti gelombang kejut. Aku kesakitan, kepalaku menjadi pusing, pandanganku kembali buram dan aku pun langsung pingsan, Jessie pun langsung memelukku saat itu.


Semuanya kembali gelap, tapi berbeda dari yang terakhir kali, aku tidak melihat sebuah pertanda saat ini. Aku kembali membuka mataku, semuanya buram, aku pun mencoba bangun dan mengusap mataku. Akhirnya pandanganku kembali normal, sekarang aku kembali berada didepan pintu Altar tempat aku pingsan sebelumnya.


“ah... Ini aneh, aku kembali lagi... Jadi apakah tadi yang aku alami adalah sebuah mimpi...?” Pikirku sambil memegang kepalaku.


Kemudian aku mencoba mengingat apa yang barusan terjadi.


“aku... Masih bisa mengingat semuanya... Oh iya...!! Bagaimana dengan Jessie...!!” pikirku yang baru saja sadar ada yang aneh.

__ADS_1


Aku mencoba melihat sekeliling, dan aku menemukan Jessie yang berada disampingku, dia terlihat sangat sedih, dia terus melihat kebawah seakan tidak berani menatapku.


“Jessie...? Kau Jessie kan..?” tanya ku.


Meskipun aku tahu kalau NPC hanya bisa berbicara saat ada perintah tanda dia mengerti bukan pertanyaan, namun aku penasaran dan mencobanya. Jessie pun memalingkan wajahnya yang masih sedih, yang berarti dia mengerti apa yang aku tanyakan.


“Seperti yang aku duga... Ada yang aneh, berarti itu bukanlah mimpi” pikirku sambil berdiri.


Aku pun mendekati Jessie dan menarik tangannya, aku membawanya kembali kedalam Altar lalu menyudutkannya dipintu dalam Altar.


“jelaskan...” kata ku.


“se.. Seperti yang aku katakan sebelumnya master... Aku adalah NPC mu atau yang lebih tepatnya aku adalah milikmu” kata Jessie dengan wajah memerah.


“dia tidak mau menatapku dan dia juga malu – malu saat berbicara denganku... Sudah aku duga” pikirku.


“apakah NPC bisa memiliki perasaan..?” tanyaku.


“itu... Itu..” kata Jessie kebingungan.


Aku pun menutup mataku lalu membuka dan menatap mata Jessie dengan tajam.


“ah..” suara Jessie sambil memejamkan matanya.


“lupakan... Katakanlah jika kau sudah siap” kata ku sambil melepas tangannya.


Aku pun segera pergi dari Altar itu dan kembali menuju rumahku digame. Aku duduk disebuah sofa rumah itu dan aku sempat berpikir apakah memang benar NPC bisa memiliki perasaan atau memang ini ciptakan seperti ini oleh Gama. Jessie pun hanya berdiri mematung disamping ku, tanpa berkata apa – apa ekspresi nya tidak berubah, dia masih sedih, mungkin sikapku terlalu berlebihan bagi dirinya.


Setelah beberapa saat kemudian aku memutuskan untuk Log Out. Aku pun menyalakan komputerku untuk mencari dan memastikan apa yang ada didalam pikiranku tadi. Hasilnya, tidak ada satu pun artikel yang mendukung pemikiran tadi, yang berarti Jessie itu adalah makhluk hidup. Entah itu manusia atau semacamnya, yang pasti dia itu hidup. Karena meskipun hanya sebentar mereka yang hidup pasti pernah memiliki sebuah perasaan dan mereka yang berkata kalau mereka tidak pernah memiliki perasaan, itu adalah sebuah kebohongan yang mereka ciptakan sendiri.

__ADS_1


Kemudian aku teringat kalau yang mempunyai NPC bukanlah aku seorang, jadi aku memutuskan untuk menemui salah satu dari mereka. Memastikan gerak gerik dari NPC mereka dan bertanya apakah ada hal aneh yang terjadi belakangan ini. Mungkin itu cukup untuk memberikan sebuah jawaban mengenai hal aneh ini, ini adalah misteri yang harus aku pecahkan. Ini adalah awal dari sebuah takdir yang tidak terbatas.


__ADS_2