Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 69 : Fake Skill


__ADS_3

*BOOOM..!! suara ku yang membentur tembok pembatas arena.


Saat itu aku menggunakan tubuhku untuk melindungi Jessie dari benturan.


“aduh... Sepertinya kita berhasil lolos...” kata ku sambil melihat batu itu dari kejauhan.


“master, apa kau tidak apa – apa..?” tanya Jessie sambil menatapku.


“tenang saja, bagaimana denganmu..?” tanya ku balik sambil menatap kebawah.


“aku baik – baik saja, bahkan disaat terakhir master juga melindungiku” jawab Jessie.


“itu karena aku adalah seorang laki – laki” sahut ku sambil sedikit tersenyum.


“master, aku akan membantumu” kata Jessie sambil menarik tubuhku dari tembok.


“hentikan... Tubuhku mati rasa, aku tidak bisa menggerakkan nya lagi” kata ku.


“master, apakah ini adalah...” kata Jessie sambil terus menatapku.


“untuk sekarang... Lebih baik kau membunuhnya dulu” kata ku sambil berusaha melihat kearah batu itu.


“eh... Bukankah ini sudah berakhir..?” tanya Jessie.


“apa yang kau pikirkan, jika ini sudah berakhir maka kita sudah tidak berada disini lagi” jawabku.


*BOOM...!! Suara batu itu yang tiba – tiba hancur.


“tidak mungkin... Bagaimana bisa...?” tanya Jessie saat melihat bos itu keluar dari batu.


“maaf ya, aku harus membuatmu bertarung melawan bos itu lagi” kata ku.


“tidak master..!! Ini sudah menjadi tugasku untuk melindungimu... Master ingatkan apa yang master katakan kepada ku dulu..?” tanya Jessie.


“hmm..? Tentu saja, aku akan melindungimu dan kau juga akan melindungiku dengan begitu kita akan menjadi yang terkuat” kata ku sambil menatap Jessie.


“sejak tadi master selalu melindungiku dan sekarang adalah giliranku...” sahut Jessie.


“baiklah, ini adalah perintah dari mastermu, lawan dan menang kan pertarungan ini..!!” teriakku.


“dimengerti..!!” sahut Jessie sambil mengambil senjata nya.


“dengar, jika kau menang maka aku akan memberimu sebuah hadiah... Apapun yang kau mau” kata ku pelan.


“benarkah..!! Baiklah kalau begitu..!!” kata Jessie tambah bersemangat.


Kemudian Jessie pun langsung berlari kearah bos itu, dia mengubah senjatanya menjadi sebuah tombak dan langsung menyerang kearah bos itu. Namun bos itu menyadarinya dan langsung menangkis serangan Jessie.


“Awakening tingkat kedua... RELEASE...!! Lightning Spear... Active..!! STRIKE STAB..!!” teriak Jessie sambil menyerang bos itu.


Jessie pun menggunakan Skil nya, menusuk lawan secara cepat dan mematikan membuat Skil ini menjadi Skil andalan untuk Player yang menggunakan tombak sebagai senjata. Bos itu pun terdesak karena serangan Jessie, meskipun dia berusaha untuk bertahan namun karena kecepatan Jessie terus bertambah, sedikit demi sedikit akhirnya pertahanannya mulai tertembus.


“dengan ini aku akan mengakhiri nya...!!” teriak Jessie sambil melompat keatas.


“Groooww..!!” teriak bos itu sambil berusaha menggapai Jessie.


“KILLER SPEAR..!!” sambung Jessie sambil melemparkan tombak nya kearah bos itu.


Tombak itu pun langsung melesat menuju badan bos itu, bos itu terkejut, dia berusaha untuk menangkis tobak itu namun karena kecepatan tombak itu terlalu tinggi, dia tidak berhasil menangkisnya.

__ADS_1


Akhirnya tombak itu pun menancap didada bos itu, tidak cukup sampai disitu, Jessie pun langsung meluncur kearah dada bos itu lalu menendang tombak itu hingga menembus dada bos itu. HP bos itu pun habis, dia terjatuh sambil perlahan badannya mulai menghilang, sampai akhirnya dia benar – benar menghilang ketika tubuhnya menyentuh lantai.


Jessie pun berjalan menuju tombaknya yang terjatuh bersama dengan Bos nya. Setelah kami memenangkan pertempuran, kami langsung diteleportasikan kembali kedalam Dungeon.


“master kita menang..!!” teriak Jessie sambil berlari menghampiri ku.


“ya, kerja bagus...” kata ku yang masih berbaring dilantai.


“hehehe... Biar aku bantu berdiri” kata Jessie sambil merangkul ku.


“Terima kasih... Ngomong – ngomong, bagaimana dengan hadiahnya..?” tanya ku.


“aku belum menerimanya... Fiola bahkan belum juga muncul” jawab Jessie.


“aneh sekali, biasanya dia sudah menunggu disini ketika ada Player yang mencoba untuk menaklukkan Dungeon” kata ku.


“ahh.. Aku baru tahu itu” sahut Jessie.


Disuatu tempat, Fiola sedang berbicara dengan Gama dan laki – laki misterius itu.


“aku datang sesuai perintah mu master...” kata Fiola.


“bagus, kau datang tepat waktu” sahut laki – laki misterius itu.


“jadi apa hadiah yang tepat untuk diberikan kepada Player bernama White dan si beta” tanya Fiola.


“ah... Aku tidak mau pusing – pusing, berikan saja dia tiket untuk Lucky Spin” jawab laki – laki misterius.


“tidak, Berikan dia Skill Double Exp” sahut Gama.


“hah..? Hei kau serius, bukankah kita sepakat untuk tidak memberikan skill itu kepada Player mana pun..?” tanya laki – laki misterius itu.


“kau memang saudara yang baik ya” kata laki – laki misterius itu.


“jangan panggil aku saudara... Sialan...!!” teriak Gama.


“Siapa juga... Sialan..!!” teriak laki – laki itu.


“aku mengerti” kata Fiola.


“oh iya, sembunyi kan saja skill itu darinya, gunakan Fake Skill” kata Gama.


“tulis saja untuk menambah kecepatan” sahut laki – laki itu.


“dimengerti” kata Fiola.


Kemudian Fiola pun meninggalkan tempat Gama serta laki – laki misterius itu dan langsung menuju ke tempat kami.


“selamat untuk Player bernama White serta Jessie yang telah menaklukkan Dungeon kedua....!! Tadi itu nyaris saja ya.. Sekarang sebagai hadiah kalian akan menerima sebuah Skill khusus..!! Oh iya, nama kalian juga sudah diukir dibatu emas depan Dungeon... Sekarang terimalah..!!” kata Fiola sambil memetikkan jarinya.


Tiba – tiba tubuh kami berdua bersinar dan sebuah pemberitahuan kalau kami telah menerima sebuah skill muncul.


“skill telah berhasil ditambahkan... Sekarang sampai bertemu lagi... Aku menantikan pencapaian mu selanjutnya..!!” kata Fiola sambil perlahan mulai menghilang.


“seperti biasa terlihat sangat bersemangat ya” kata ku setelah melihat Fiola.


“tapi sepertinya ada yang aneh” sahut Jessie.


“ya, dia terlihat seperti sedang terburu – buru... Mungkin ada urusan lain yang harus dia lakukan” kata ku.

__ADS_1


“kita pulang..?” tanya Jessie.


“ya, kita pulang” jawab ku.


Kemudian kami pun langsung pulang kerumah menggunakan teleportasi, namun setelah kami berada didepan rumah, kami langsung disambut oleh Elina dan yang lainnya.


“hmm..? Ah, dari wajahnya mereka terlihat kesal” pikirku saat melihat mereka.


“masuk” kata Elina singkat.


“hah..?” kata ku singkat.


“masuk sekarang..!!” kata Elina sambil menatapku dengan tajam.


Dengan dibantu Jessie, aku pun berjalan menuju kedalam rumah. Aku pun melepas semua armor ku dan berganti menggunakan baju biasa yang aku punya lalu berbaring diatas sofa.


“kau yakin ingin meminta hal ini..?” tanya ku kepada Jessie.


“sangat yakin, ini adalah hadiah yang terbaik menurutku” jawab Jessie sambil tersenyum kepadaku.


“apakah ini berguna..?” pikirku.


“hehehe... Aku bisa menyentuh tubuh master” pikir Jessie.


Jessie pun langsung memijat tubuhku didepan Elina dan yang lainnya.


“hei..!! Ini bukan waktu yang tepat untuk bermesra – mesraan..!!” teriak Elina marah.


“apa maksudmu..? Master sangat kelelahan jadi apa salahnya kalau aku memijatnya..?” tanya Jessie.


“apakah itu berguna..?!” tanya Elina.


“ah.. Aku juga ingin bertanya seperti itu” pikirku sambil memejamkan mata.


“tentu saja berguna untuk ku, lagi pula ini adalah permintaan dari ku yang telah memenangkan pertarungan tadi..!!” jawab Jessie marah.


“cih, baiklah kalau begitu, mari bertanding dengan adil..!!” kata Elina memprovokasi.


“siapa takut..!!” jawab Jessie sambil menatap Elina dengan tajam.


“sudah... Tenanglah kalian berdua” kata ku berusaha menenangkan.


“diam..!! Lagi pula kenapa kau tidak mengajakku tadi..?!” tanya Elina.


“bukankah kau sedang sekolah..?” tanya ku balik.


“kenapa kau tidak sekolah..?!” tanya Elina.


“aku dihukum” jawab ku singkat.


“kenapa kau dihukum..?!” tanya Elina lagi.


“kau lucu kalau sedang cemburu” sahutku.


“Di-diam..!! Besok..!! Besok kita akan bertemu di Colosseum” kata Elina kepada Jessie.


“baiklah... Akan aku terima tantanganmu..!!” sahut Jessie.


Pertengkaran antara mereka berdua terus berlanjut, aku pun berusaha untuk tidak mendengar karena mungkin saja akan memperburuk keadaan. Sedangkan yang lainnya terlihat seperti sedang menikmati pertengkaran antara Elina dan Jessie.

__ADS_1


__ADS_2