
“jadi master kita akan kemana hari ini...? hmm kita akan langsung pergi ke pertemuannya..?” tanya Jessie.
“tidak... Pertemuannya akan dimulai nanti jam 9 dan ini masih sekitar jam 7 jadi kita masih mempunyai sedikit waktu untuk latihan...” jawabku.
“baiklah master...”sahut Jessie.
Kemudian kami pun berjalan menuju kebelakang rumah, aku melakukan pemanasan sebentar setelah itu langsung melompat kedalam lautan kabut itu.
“hah... Sepertinya kabut didalam sini tidak berubah sama sekali... Semoga saja insting bertarung ku masih tajam, sudah satu tahun lebih aku tidak bertarung dengan cara seperti itu... Bertarung dengan menutup mata, sungguh menyenangkan... Sekarang, Jessie dimana..?” pikirku sambil melihat ke sekeliling.
“master kau ada dimana..?!” teriak Jessie tiba tiba, arah dari sebelah kanan ku.
“hmm... Jadi begitu, kau kira aku bodoh... Jika aku menjawabnya kau akan langsung menyerangku kan...? Tapi akan aku manfaatkan seranganmu ini” pikirku sambil melihat kearah asal suara Jessie.
“master tolong jawab aku..!!” teriak Jessie.
“hei...!! Jessie aku disini..!!” teriakku sambil mengeluarkan pedangku.
Ini adalah rencana ku, aku akan memancing Jessie agar datang menyerangku, namun sebelum Jessie bisa melihatku aku akan berpindah tempat dan disaat Jessie menyadari kalau aku tidak berada disana, aku akan langsung menyerangnya dari belakang.
“aku harus memutuskan dengan cepat kemanakah aku harus pergi... Jika aku berlari maka Jessie akan menyadari keberadaanku lewat suara langkah kaki ku, berarti aku harus melompat... Tapi jika aku hanya melompat, Jessie dengan mudah akan menyadarinya, Begitu pun jika aku melompat kedepan dia juga akan melihatnya, jika kebelakang kemungkinan besar dia juga akan menyadarinya, jadi aku putuskan... Kearah kanan...!!” pikirku.
Kemudian dengan cepat aku langsung melompat kearah kanan, sambil melompat aku juga melihat kebelakang untuk melihat apakah Jessie sudah memakan umpanku.
*braakk...
Aku menabrak sesuatu saat masih berada diudara.
“Aduh... Sakit” kata Jessie sambil memegang kepalanya.
“apa ada ini..? Disini kan lantainya rata... Apa jangan – jangan ada pohon...? Seharusnya tidak ada benda dan monster disini... Apa mungkin seorang Player..? Tapi ini kan tempat pribadi” pikirku sambil menahan badanku agar tidak jatuh menyentuh lantai.
“ma..ma..master..!!” kata Jessie terkejut.
Aku pun melihat ke sumber suara itu, sumbernya berada dibawahku, ternyata aku tadi telah menabrak Jessie.
“oh ini menjelaskan semuanya, lalu bagaimana kau bisa tahu kalau aku akan melompat kesebelah kanan..?” tanya ku sambil kembali berdiri.
“aku berpikir untuk memberi serangan kejutan pada master, jadi aku memutuskan untuk menyerang master dari sebelah kiri, tapi jika aku berlari maka master pasti akan menyadarinya, jadi aku melompat karena kemungkinan master akan mengetahuinya sangat kecil... Tapi ternyata aku salah...” kata Jessie yang masih duduk.
__ADS_1
“hah... Sepertinya pemikiran kita sama... Aku tidak menyangka akan seperti ini” kata ku sambil melihat keatas.
Tiba – tiba dengan cepat Jessie langsung menyerangku, dia berusaha untuk menebas leherku, untung lah aku menyadarinya dan langsung menghindari serangan Jessie. Kemudian secara refleks aku melompat kebelakang untuk menjaga jarak, kabut mulai menyelimuti kami kembali, kami hanya terlihat seperti sebuah bayangan..
“pertarungan masih berlanjut master...” kata Jessie sambil berdiri dan mengarahkan senjatanya kepadaku.
“aku bahkan tidak tahu kapan pertarungan ini dimulai” kata ku sambil mengambil ancang – ancang.
“kalau begitu sekarang adalah saatnya...” teriak Jessie langsung berlari kearahku.
“dimulainya pertarungan ini” sahut ku yang kemudian juga mulai berlari kearah Jessie.
Senjata kami pun mulai beradu, bersinar didalam kabur dan terlihat hanya ada kilatan – kilatan didalam kabut. Aku terus menerus mendesak Jessie hingga Jessie mengeluarkan semua kemampuan dan kekuatannya, namun dia masih tetap terdesak. Aku menghentikan pertarungannya ketika HP Jessie tinggal 10%.
“baiklah latihannya cukup sampai disini” kata ku sambil kembali menyarungkan pedangku.
“jadi bagiamana master..?” tanya Jessie sambil menatapku.
“hmm..? Ah yah, lumayan... Meskipun masih ada banyak kesalahan namun itu tetap kerja bagus” kata ku.
“benarkah..?” tanya Jessie yang masih menatapku.
“ya...” jawabku singkat.
“hmm..? Ada apa dengannya hari ini..?” pikirku saat melihatnya.
Kemudian aku pun memalingkan wajahku, Jessie tetap menatapku, beberapa kali aku mencoba meliriknya namun dia masih tetap saja menatapku.
“hentikan tatapanmu itu, meskipun kau terlihat imut...” pikirku saat meliriknya.
“tataaappp..!!” kata Jessie semakin keras.
“apa yang kau inginkan..?” tanya ku.
“aah... Hadiahnya” jawab Jessie sambil tersenyum.
“hadiah..? Apa maksudmu..?” tanya ku yang sedikit tidak mengerti.
“bukankah jika aku melakukan dengan baik aku akan mendapatkan hadiah..? Humm” tanya Jessie dengan wajah cemberut.
__ADS_1
“aku tadi masih bilang lumayan... Aku tidaklah setengah – setengah dalam hal ini, kau tahu bilangan biner kan..? Hanya ada 2 angka yaitu 0 dan 1, jika 0 berarti gagal dan jika 1 berarti berhasil, tidak ada 0,5 atau setengah berhasil... Dan kata lumayan itu termasuk gagal dalam kamusku, singkatnya tidak ada hadiah” jelasku yang sebenarnya aku sedang mencari sebuah alasan untuk menghindari Jessie.
“master itu curang... Itu tidak adil...” sahut Jessie yang tidak terima.
“lebih baik kita berangkat sekarang...” kata ku.
“master setidaknya berikanlah aku...” kata Jessie yang masih memaksaku.
Kemudian aku pun menutup kedua telingaku dengan tanganku, suara Jessie pun tidak lagi terdengar. Aku langsung pergi menuju tempat pertemuan, tepatnya berada didalam guild milik Elina, Jessie pun mengikutiku dari belakang sambil terus berbicara.
Saat dijalan aku melihat ada banyak Player yang melihat dan mulai menjauhi ku saat aku sedang berjalan, aku kira itu karena Jessie yang terus saja berbicara, jadi terlihat seperti orang gila, namun sebenarnya bukan karena hal itu. Banyak orang yang mulai membicarakannya selama kami lewat, namun aku tidak mengetahuinya karena aku terus menutup telingaku sampai aku tiba di guild.
*ting... Suara lonceng saat aku membuka pintu guild.
“ah White... Selamat datang, rapatnya akan dimulai sebentar lagi... Silahkan duduk dulu” kata Elina menyabutku.
“lama sekali...!! Aku kira kau tidak akan datang” kata Bella.
“aah.. Emm.. Sepertinya aku akan...” kata Eririn sambil mencoba pergi, dia masih ketakutan saat melihat kami.
“mau kemana kau...? Rapatnya akan segera dimulai, kau tidak diperbolehkan untuk pergi meski sebentar” kata Bella sambil memegang baju Eririn.
Eririn pun kemudian duduk, disusul olehku dan juga Jessie. Meja yang digunakan berbentuk segi lima, kami duduk dikursi yang telah disiapkan disetiap sisinya. Posisi duduk berada diantara Elina (sebelah kananku) dan Jessie (sebelah kiri ku), Eririn yang berada didepan sebelah kiri dan Bella yang berada didepan sebelah kanan.
Tiba – tiba suasananya hening, Bella pun melihat Eririn yang ternyata masih ketakutan saat melihatku.
“apa yang kau lakukan kepada Eririn hingga dia menjadi seperti ini..?” tanya Bella dengan wajah serius.
Aku pun terkejut mendengar pertanyaan Bella, aku melihat Bella sebentar kemudian melihat Eririn yang terus melihat kebawah, dengan cepat aku langsung memalingkan wajahku kesebelah kiri, tempat dimana Jessie berada.
“hmm..? Ada apa master..?” tanya Jessie sambil tersenyum dan sedari tadi masih menatapku.
“kenapa kau malah membuat situasinya menjadi lebih buruk..!!” pikirku tambah terkejut.
Kemudian aku memalingkan wajahku lagi kesebelah kanan, tempat mana Elina duduk, dia terlihat sangat terkejut.
“jelaskan...!!” tanya Elina sambil menatapku dengan tajam.
“yah, ini akan sangat merepotkan” pikirku yang langsung melihat keatas.
__ADS_1
Ternyata diatas ada banyak Player anggota Guild yang menyaksikan jalannya rapat hari ini.
“aku ingin pulang” pikirku sambil menundukkan kepalaku dan menutup mata ku.