Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes

Mugen Monogatari : The Infinity War Of Heroes
Chapter 66 : Amari Ryuzo


__ADS_3

“yo... Sudah lama ya... Si mata satu sialan..!” kata ku sambil menatap tajam matanya.


Dia dikenal dengan nama Taketomo Ryuzo, namun nama aslinya adalah Amari Ryuzo. Saat dia masih mengetuai sebuah geng, dia dijuluki sebagai The Giant. Seperti julukannya, dia memiliki tubuh dan kekuatan fisik yang besar, tidak hanya itu bahkan dulu geng nya merupakan salah satu dari 3 geng terkuat.


Sifatnya dulu sangatlah kasar, dia suka menyiksa seseorang terlebih dahulu sebelum membunuhnya. Sebelum mempunyai sebuah geng yang sangat besar, dia dulunya hanyalah seorang pengangguran, dia berusaha untuk melamar pekerjaan, namun selalu gagal. Setelah sekian lama akhrinya uangnya habis sebelum dia menemukan pekerjaan.


Pemilik kontrakannya dulu adalah korban pertamanya, dia membunuhnya saat pemilik kontrakan itu mengusirnya karena tidak dapat membayar uang sewa. Semenjak saat itu dia mulai berjalan dan berjuang didunia bawah, keberadaannya menghilang dan dia menjadi seorang buronan. Perlahan dia mulai merekrut seorang anggota yang nantinya akan menjadi wakil nya dan akhirnya juga akan menjadi penyebab hancurnya geng itu.


2 tahun kemudian, geng yang dia pimpin telah menjadi sebuah geng besar, dia pun juga menemukan belahan jiwanya lalu menikah. Dia dikaruniai seorang anak, semenjak kedatangan anak pertamanya didunia ini, kehidupannya pun penuh warna, dia sangat bahagia. Namun saat usia anak itu mencapai 3 tahun, anak itu meninggal karena sebuah penyakit.


Dia larut dalam kesedihannya dan membuat geng nya berada diujung tanduk. Setahun setelah itu, anak keduanya telah lahir namun istrinya meninggal saat melahirkan anak nya itu, anak itu adalah Isumi. Rasa sedih dan senang bercampur menjadi satu, tapi saat itu juga dia bertekad untuk melindungi sesuatu yang paling berharga baginya serta istrinya.


Dia menjadi seorang ayah yang terlalu overprotektif. Saat itu hidup Isumi pun seperti terkekang, dia selalu ditemani oleh para pengawal kemanapun dia pergi. Namun Isumi menyadari maksud dari ayahnya yang terlalu overprotektif, dia berusaha menjadi kuat seperti seorang laki – laki dibelakang ayahnya.


Beberapa tahun telah berlalu, geng nya yang dulunya berada diujung tanduk, perlahan mulai pulih kembali dan mencapai puncak kejayaannya ketika anaknya berusia 15 tahun. Sikapnya bertambah arogan, dia menjadi semakin kejam, dia terlalu percaya akan kekuatannya.


Hingga suatu hari, bawahannya melakukan sebuah kesalahan dan membuat sebuah geng marah, mereka membunuh orang yang salah. Geng itu pun langsung bergerak menuju markasnya, geng itu menginginkan sebuah keadilan, namun dengan sombongnya dia tolak dan malah menghina geng itu.


Akhirnya pertumpahan darah pun terjadi, dalam satu malam geng nya dihancurkan. Malaikat maut pun sudah berada didepannya namun geng itu berbaik hati dan mengampuninya dengan satu syarat.


“kami telah mengambil salah satu mata dan tanganmu... Sebenarnya kami juga bisa mengambil nyawamu sekarang, tapi...”


“tinggalkan dan jangan buat masalah lagi dikota ini...”


Itu adalah kalimat terakhir yang dia dengar sebelum dia dibiarkan lari. Setiap malam dia selalu terbayang – bayang akan tragedi itu, dia memang takut mati namun dia lebih takut kalau dia tidak bisa melindungi seseorang yang dia beserta istrinya sayangi. Harapan dan alasan satu – satunya dia hidup didunia ini adalah anaknya.


“kau...!! Kenapa kau ada disini..?” tanya Ryuzo.


“oh... Seharusnya akulah yang menanyakan hal itu... Kenapa kau berada disini..?” tanya ku dengan tatapan mengintimidasi.


“Lepaskan Isumi..!!” teriak nya.


“aku bahkan tidak menyentuhnya sama sekali... Dan yang lebih penting, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku sekarang...?” sahut ku.


“sebenarnya apa yang kau inginkan...?!” tanya Ryuzo.

__ADS_1


“hah..? Sepertinya kau sudah lupa tentang apa yang kami katakan dulu...” kata ku sambil berdiri diatas mobilnya.


Pengawalnya pun langsung bergerak melindungi Ryuzo sambil menodongkan senjatanya kearah ku.


“bos... Bolehkah kami menembaknya..?” tanya pengawal nya yang berbisik.


“jika dia adalah orang yang mudah tertembak maka dari dulu dia pasti sudah mati” sahut Ryuzo.


“baiklah, maafkan aku bos” kata pengawal itu.


“sudah selesai bicaranya..? Jadi masalah apa lagi yang akan kau lakukan..?” tanya ku sambil melompat turun dari mobil.


“sebelum itu lepaskan dulu Isumi...” kata Ryuzo yang khawatir.


“Isumi..? Oh gadis ini maksudmu.. Memangnya apa hubunganmu dengannya..?” tanya ku.


“dia adalah orang yang paling berharga bagiku, jadi...” jawab Ryuzo.


“jadi bagaimana kalau aku membunuhnya... Agar kau tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling berharga bagimu” sahut ku memotong sambil mengarahkan pistolku ke Isumi.


“lepaskan anakku..!!” teriak Ryuzo.


“aku tahu aku salah, jadi ambillah nyawaku tapi aku mohon... Tolong lepaskan anakku” sambung Ryuzo.


Aku pun menurunkan senjataku, kemudian aku berjalan kedepan mobilnya dan duduk diatasnya lagi.


“jawablah” kata ku singkat.


“baiklah, tapi sebelum itu..” kata Ryuzo sambil menatap anak nya.


“baik – baik, aku paham, aku jamin keselamatannya...” sahut ku.


Ryuzo pun menatapku, dia masih tidak yakin dengan kata – kata ku, aku pun langsung meletakkan pistol ku.


“hah... Kau tahu kan tentang game itu..? Baru – baru ini Isumi kalah bertaruh dengan seseorang dan taruhannya adalah akun nya..” kata Ryuzo sambil terus menatapku.

__ADS_1


“apa hubungannya dengan yang kau lakukan disini..?” tanya ku.


“aku kesini untuk membeli sebuah informasi tentang orang yang bertaruh dengannya” jawab Ryuzo.


“ho... Lalu apa yang akan kau lakukan jika kau menemukannya..?” tanya ku.


“kalau bisa, aku ingin dia mengembalikan akun nya, tentu saja aku akan mengganti kerugiannya” jawab Ryuzo dengan tegas.


“bagaimana kalau orang itu dari kota ini...?” tanya ku.


“meskipun begitu aku akan tetap memohon, aku janji tidak akan membuat masalah lagi” jawab Ryuzo.


Aku pun menatap Ryuzo, dari tatapan nya aku dapat melihat kalau yang dia serius tentang hal ini.


“baiklah serahkan saja kepadaku” kata ku.


Aku pun langsung turun dari atas mobil itu dan mengambil bom asap ku.


“hei..!! Apa yang kau lakukan..?!” teriak Ryuzo yang terkejut saat melihatku mengeluarkan sesuatu.


“tebaklah..!!” sahut ku sambil menjatuhkan bom itu didepanku.


Dengan singkat, asap pun menyelimuti mobil itu.


*DOORR.. suara tembakan.


Ryuzo pun terkejut saat mendengar tembakan itu, dia langsung berlari kedalam asap itu dan menuju mobilnya. Dia sangat takut kalau terjadi apa – apa kepada anaknya.


“sialan kau..!!!” teriak Ryuzo saat berlari.


“Isumi kau baik – baik saja kan..?” tanya Ryuzo sambil melihat Isumi dari kaca jendela.


“dia hanya pingsan... Ingatlah hal ini, mau lari kemanapun, aku tetap bisa membunuhmu..!!” kata ku dibelakang Ryuzo.


“ap...!! Baiklah akan aku ingat baik – baik” kata Ryuzo sambil membuka pintu mobilnya.

__ADS_1


Aku pun langsung pergi meninggalkan mereka, aku mengerti perasaan Ryuzo, dia ingin yang terbaik untuk anaknya. Kemudian aku langsung menuju mobil ku yang terparkir diseberang jalan utama, aku mengambil semua barang yang menurutku penting, aku juga mengambil sebuah skateboard yang berada dibagasi mobil.


Berurusan dengan penjual informasi sangatlah berbahaya jadi aku bersembunyi sebentar didalam hutan dan keluar ketika aku merasa situasinya sudah aman. Karena ada kemungkinan kalau aku terlacak oleh mereka jika aku menggunakan mobil, maka aku memutuskan untuk membuangnya disebuah jurang. Aku membuatnya seolah itu adalah sebuah kecelakaan dan setelah itu aku pun pulang menggunakan skateboard.


__ADS_2