
Saat aku log out dari game, tidak aku sangka kalau hari sudah malam. Aku pun melihat jam yang ada di meja sebelah tempat tidurku, setelah itu aku bangun dari tempat tidurku dan aku merasa badanku pegal – pegal karena terlalu banyak berbaring, aku langsung melakukan peregangan sedikit.
“hah... Lelahnya, sudah jam 23:00 ya... Aku lapar, semoga masih ada makanan yang tersisa didapur” kata ku.
Aku keluar dari kamar dan pergi ke dapur.
“semua lampunya mati, sepertinya semua orang sedang tidur... Hah” pikirku sambil menguap.
Saat aku berjalan melewati kamar kakak, aku lihat lampunya masih menyala. Aku ingin mengintip sebentar, namun perasaanku tidak enak jadi aku mengabaikannya.
“hmm... Kenapa lampu didapur masih menyala...? Lampu kamar kakak tadi juga masih menyala, apakah kakak sekarang sedang ada didapur..?” Pikirku.
Aku melihat sekeliling namun tidak ada seorang pun disana dan hanya ada sebuah makanan yang sudah disiapkan diatas meja, tidak ada catatan apapun disana.
“semua orang sudah tidur, tidak ada catatan dimakanan ini, berarti ini dibuat untukku” pikirku.
Aku pun memakan makanan itu, setelah habis aku langsung mencuci piringnya. Aku mematikan lampu yang ada didapur dan kembali menuju kamar. Saat aku akan melewati kamar kakak, lampu kamarnya masih menyala lalu aku memutuskan untuk mengintip.
“berantakan sekali kamarnya... Apakah dia selalu seperti ini saat diluar negeri...? Sepertinya ibu memang memanjakan kakak... Hah, karena aku adalah adik yang baik maka aku hari ini akan membantunya, untung saja dia masih tidur” pikirku.
Aku mulai membersihkan kamarnya, karena aku tidak mau membangunkan kakak aku membersihkannya dengan pelan – pelan. Saat aku hampir selesai aku melihat ada sebuah foto diantara kertas – kertas yang berserakan, itu adalah foto saat aku dan kakak masih kecil sebelum kakak pergi keluar negeri.
“kak, kau masih punya foto ini ya...” pikirku sambil tersenyum saat melihat foto itu.
“kau tidak berubah ya... Adikku tersayang...” pikir kakakku saat melihatku tersenyum memegang foto itu.
Aku merasa kalau kakakku hanya pura – pura tidur dan saat ini sedang melirik ku, namun saat aku melihatnya, mungkin kakak benar – benar tidur. Setelah itu aku mematikan lampu dikamar kakak dan kembali ke kamarku.
Keesokan harinya seperti biasa aku berangkat sekolah dan saat disekolah aku langsung pergi keuangan kepala sekolah.
*tok... Tok... Tok... Suara aku mengetuk pintu.
“permisi, aku masuk” kata ku membuka pintunya.
“kau terlambat... Ini tidak seperti kau yang sebelumnya, ada masalah apa..?” tanya Elina.
__ADS_1
“benar kata Elina hari ini kau tampak murung” tambah bu Haruna.
“ah tidak, aku tadi hanya menyuruh sopirku untuk membeli bunga” jawabku.
“ap.. Apa yang inghin kau lakukan...?” tanya Elina gugup.
“oh begitu ya... Dasar anak muda, kau tidak perlu segugup itu” kata bu Haruna menggoda.
“kenapa kau tiba – tiba seperti ini..? Ak.. Aku merasa gugup sekarang... Tapi mungkin aku akan mempertimbangkannya... ” kata Elina dengan wajah memerah.
“hah..? Jangan salah paham buat apa aku memberikan bunga kepadamu..? Ini bukan untuk mu” kata ku.
“huh sepertinya kau yang salah paham... Memangnya siapa yang membutuhkan bungamu itu..? Aku tidak tertarik” kata Elina terlihat sebal.
“Baguslah kalau begitu...” kata ku.
“kalau begitu buat siapa bunga itu..?” tanya bu Haruna.
“itu rahasia” jawabku singkat.
“kenapa harus ada rahasia juga..?” tanya bu Haruna.
“baiklah kalau begitu” kata bu Haruna.
Aku pun langsung mengerjakan ujiannya, aku hanya memerlukan beberapa menit saja untuk menyelesaikan ujian itu. Setelah selesai aku langsung pamit untuk pulang.
“Elina kau sudak selesaikan..?” tanya bu Haruna.
“aku baru selesai mengerjakan satu pelajaran... Masih kurang satu lagi” jawab Elina.
“baiklah selesaikan satunya lagi nanti, sekarang ikuti saja calon suami mu itu...” kata bu Haruna.
“calon suami apaan..? Mama jangan begitu, aku sudah hilangkan aku tidak setuju” kata Elina dengan wajahnya memerah.
“hahaha... Tapi raut wajahmu itu tidak bisa berbohong” kata bu Haruna menggoda.
__ADS_1
“huh sebel aku keluar dulu...” kata Elina keluar dari ruangan itu.
“apa jangan – jangan dia punya cewek lain..? Padahal dia sudah punya tunangan... Aku akan mengikutinya, jangan salah paham aku hanya disuruh mama ku saja jika tidak mana mungkin aku mau” kata Elina dalam hati.
Aku pun langsung pergi meninggalkan sekolah dan Elina mengikutiku dari belakang. Aku menyuruh sopirku agar berjalan lebih cepat dan Elina masih mengikutiku, tapi aku tidak mempermasalahkannya.
“tuan muda kita sudah sampai” kata sopirku.
“baiklah tunggu disini” kata ku sambil turun dari mobil.
“hey benarkah mereka datang kemari tadi..?” tanya Elina.
“Benar nona, mobilnya ada didepan” kata sopir itu.
“menyeramkan... Kenapa dia pergi ke pemakaman...? Baiklah tunggu disini” kata Elina sambil turun dari mobil.
Elina berencana mengikutiku namun dia kehilangan jejakku dan mencariku. Aku terus berjalan, pemakaman itu sangat luas jika tidak pernah kemari mereka pasti tersesat jika terlalu jauh masuk.
“dimana dia...? Aku tadi melihat dia berada disekitar sini tapi kenapa tidak ada..? Tenanglah Elina... Tenang... Ini siang hari, hantu tidak akan muncul pada siang hari... Hum semangat” kata Elina ketakutan.
Aku sudah berkali – kali datang ke tempat ini, tapi tetap saja perasaanku seperti baru saja datang, perasaan yang tidak bisa aku katakan, apakah ini perasaan sedih atau yang lain. Didepan sebuah batu nisan aku berdiri, menatap cukup lama dan akhirnya aku duduk didepannya, aku mengambil nafas panjang dan menatap langit lalu menghembuskannya sambil menatap nisan itu.
“Yo... Aku datang menjengukmu... Sudah... Lama... Ya...” kata ku sedih.
“kita tidak bertemu... Apakah kau melihatku sekarang...? Aku datang mengunjungi mu loh...” kata ku sambil meletakkan bunga yang ku bawa didepan batu nisan itu.
“kau tahu setelah kepergianmu aku mengurung diriku didalam kamar selama lebih dari 1 minggu...” kata ku, tanpa terduga air mataku mulai mengalir.
“jika kau masih hidup... Kau pasti akan memarahiku kan...? Apa gunanya terus bersedih..? Apakah jika kau bersedih aku akan merasa senang..? Berhentilah bersedih kawan... Kau pasti akan berkata begitu kan...?” kata ku meneteskan air mata.
“hari ini adalah hari kau meninggalkanku... Tepat tanggal ini... Aku selalu datang kesini...” kata ku patah – patah.
“kau tahu berapa banyak masalah yang aku hadapi saat kau tidak disamping ku...? Hah.. Ini sangatlah berat bagiku... Untuk menyelesaikannya sendiri...” kata ku sambil mengusap batu nisan itu.
“hey... Kau mendengarkan kan disana..? Apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu..?” kata ku menangis.
__ADS_1
“jangan katakan aku tidak boleh menangis... Biarkan aku mengingat semua nya... Ini adalah kisah kita...” kata ku memeluk batu nisan itu,
“Aku aku mulai mengingatnya kembali... Saat – saat kita bersama dulu...”