My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
100


__ADS_3

“Terus soal lo yang hampir diperkosa sama preman-preman itu…lo nggak mungkin kena musibah itu kalau bukan karena Cyntia cemburu sama lo. Dan yang membuat Cyntia cemburu sampai-sampai dia nekat berbuat jahat ke lo itu gue, Mel. Kalau gue nggak bikin Cyntia cemburu, dia nggak akan jahat sama lo.”


“Raf, tunggu…!”


“Terus lagi, kejadian yang baru lo alamin kemaren. Lo tertabrak motor dan hampir kehilangan nyawa lo cuma karena lo mau nyamperin gue.”


“Rafa.”


“Itu semua belum seberapa, Mel. Kita nggak tahu akan ada kejadian apa lagi yang bakal nimpa lo kalau lo tetep deket sama gue. Semua itu salah gue. Semua kesialan yang lo alamin itu adalah kesalahan gue. Gue ini pembawa sial buat lo.”


“Rafa.”


“Jadi bakal lebih baik kalau mulai sekarang lo jauhin gue, biar lo nggak terus-terusan sial kayak gini!” Rafa masih terus melanjutkan kalimatnya, biarpun dia tahu Melani berusaha keras untuk menyelanya.


“RAFA!!!!” Melani bicara lebih keras.


Rafa spontan terdiam. Sepertinya dia harus memberikan kesempatan pada Melani untuk bicara.

__ADS_1


Melani akhirnya tahu apa yang menyebabkan Rafa menjauhinya belakangan ini,”Jadi itu alasannya kenapa lo berusaha ngejauhin gue? Cuma gara-gara omongan Anthony?”


“…”


“Raf, lo tuh kayak nggak kenal Anthony itu kayak apa? Dari dulu dia itu nggak pernah suka sama kedekatan kita. Dia sengaja ngomong gitu cuma karena pengen gue tuh nggak deket-deket lagi sama lo. Masa lo sampai ambil hati sih, sama omongannya Anthony?” Melani nggak habis pikir Rafa terpengaruh sama omongan Anthony.


“Tapi itu semua emang bener, kok!” kata Rafa,”Itu semua emang bener kalau gue emang penyebab semua kesialan yang selalu lo alamin.”


“Tapi Raf, semua itu bukan kesialan, buat gue itu cuma kecelakaan aja. Itu semua terjadi karena gue emang ceroboh, lo juga pernah bilang kan?! Bahkan ibu gue aja selalu bilang kalau gue ceroboh. Itu bukan salah lo, tapi salah gue yang selalu ceroboh.” Melani menjelaskan.


“Itu salah gue, Mel!” Rafa tetap pada pendiriannya.


“…”


“Dulu gue emang jatuh dari tangga gara-gara nolongin lo dari kulit pisang, kan?! Kulit pisang itu Anthony yang sengaja naruh di atas tangga buat bikin lo kepeleset terus jatuh. Soal tangan gue yang terbakar waktu di Lab. Fisika itu, Anthony yang sengaja mau numpahin cairan percobaan lo ke tubuh lo, gue berusaha ngehalangin dia tapi malah gue yang kena. Bola basket yang nimpa kepala gue, itu emang sengaja dilempar Anthony ke lo biar mengenai kepala lo, tapi lo buru-buru melemparnya ke tempat lain dan nggak sengaja nimpuk kepala gue.”


“…”

__ADS_1


“Raf, semua kejadian itu nggak akan terjadi kalau Anthony nggak terus-terusan iseng sama lo. Jadi itu murni kesalahannya Anthony. Anthony sengaja numpahin semua kesalahannya ke lo. Terus masalah preman-preman dan kecelakaan kemaren, itu kesalahan gue sendiri karena gue nggak hati-hati.”


“…”


“Bahkan justru lo yang selama ini selalu nolongin gue, Raf. Lo nolongin gue dari preman-preman, bayarin utang-utang keluarga gue, nolongin gue dari paksaannya Anthony, lo pernah nyelametin gue waktu gue jatuh dari tangga pas di kampus, lo juga nyelametin gue waktu gue mau ketabrak motor pas mau nyeberang jalan! Lo selalu datang di saat yang tepat, saat gue bener-bener lagi ngebutuhin bantuan. Lo itu dewa penolong gue Raf, bukan malah pembawa sial buat gue.”


“…”


“Lo ngerti kan sekarang, Raf?! Lo bukan pembawa sial buat gue, dan yang namanya orang pembawa sial itu nggak ada. Semuanya cuma kecelakaan.” Melani menjelaskan dengan harapan Rafa akan mengerti.


Namun kelihatannya Rafa tetap pada pendiriannya,”Seharusnya gue nggak pernah ngaku kalau gue itu Fandy.”


“…?”


“Seharusnya lo nggak perlu tahu hal itu sampai kapanpun.”


“Tanpa lo ngaku pun, gue yakin suatu saat gue pasti tahu semuanya. Jadi lo nggak perlu nyesel, Raf!!”

__ADS_1


“Ya udah, sekarang semuanya udah jelas, kan?! Mulai sekarang kita udah bukan bos dan asisten lagi. Jauhin gue, Mel!”


TBC


__ADS_2