My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
63


__ADS_3

“Nggg…tapi, Cyn. Gue nggak berani keluar malam-malam sendirian. Gue kan cewek. Kalau ada apa-apa sama gue gimana?” Melani berusaha menolak secara halus,”Besok aja deh, di kampus ya!”


“Tapi gue butuh lo nya sekarang, Mel. Udahlah, lo nggak usah cari-cari alasan!”


Melani mendengus kesal,”Iya, iya, deh. Gue ke sana sekarang.” Melani terpaksa.


Cyntia tersenyum puas,”Oke. Gue tunggu. Jangan lama-lama ya, Mel!”


“Iya.”


Cyntia meletakkan HP di atas meja riasnya dan menatap wajah cantiknya di cermin. Bibirnya tersenyum penuh kemenangan,”Akhirnya gue bisa juga ngerjain tuh cewek, setelah tadi siang gue puas bikin dia panas dengan semua sindiran gue. Siapa suruh dia deket-deket terus sama Rafa? Rafa itu milik gue, dan gue nggak akan ngebiarin siapapun ngerebut dia dari gue!”


Melani siap-siap sambil menggerutu terus,”Si Cyntia kurang kerjaan banget, sih? Malem-malem gini masa disuruh ke rumahnya? Masa gue musti naik ojek ke sana? Mana dingin lagi, di luar!”


Melani memakai jaketnya.


Melani keluar kamar dan bertemu dengan ibunya di ruang tamu.


“Lho? Mel, kamu mau kemana malam-malam begini?” tanya Ibu yang heran melihat Melani berpakaian rapi.


“Nggg…ini, Bu. Mel mau keluar bentar.”


“Iya, tapi kemana? Ini kan udah malam!” ibu cemas.

__ADS_1


“Cuma sekitar sini aja kok, Bu. Lagian Mel juga cuma bentar.” Melani sengaja nggak mengatakan yang sebenarnya karena pasti ibunya nggak akan mengizinkannya pergi kalau dia jujur mau pergi ke rumah Cyntia.


“Ya udah, tapi cepetan pulang, ya! Ibu khawatir kalau sampai ada apa-apa, ini kan udah malam.”


“Iya. Mel pergi dulu, Bu.”


“Hati-hati, ya….”


***


Melani berjalan sendirian di jalanan sepi yang gelap, dan hanya ada beberapa cahaya lampu dari lampu pinggir jalan. Dia sudah berjalan jauh, tapi belum juga menemukan ojek lewat. Selain di daerah situ jarang sekali ada ojek lewat, sekarang juga sudah terlalu malam untuk tukang ojek beroperasi. Melani berhenti dan memegang kedua lututnya. Capek.


“Aduh…capek banget gue! Kira-kira gue udah jalan berapa kilo, ya?” Melani menoleh ke belakang. Jalanan sepi tanpa ada satupun orang selain dirinya,”Rumah gue juga udah jauh, lagi. Kok dari tadi nggak ada ojek lewat, ya? Malah jalan raya masih jauh, lagi.”


Nyuruh-nyuruh orang nggak lihat-lihat waktunya. Emangnya nggak bisa ditunda besok pagi, apa? Cyntia itu kan orang kaya, masa nggak punya pembantu? Masa musti gue juga yang ngelayanin dia?” Melani ngomel-ngomel.


Melani sempat berpikir untuk kembali aja pulang ke rumah. Nggak peduli besok Cyntia mau ngomong apaan. Soalnya kalau malam ini nggak dapat ojek, Melani nggak akan sampai ke rumah Cyntia, dan lagi hari semakin larut malam. Melani juga memikirkan keselamatannya. Tapi sebelum Melani berdiri dan kembali pulang, ada dua orang preman bertubuh kekar dan bertampang hidung belang, datang menghampirinya.


“Hai, cewek!” sapa salah seorang dari preman itu sambil cengengesan dan kayaknya terpesona dengan kecantikan serta kemolekan tubuh Melani,”Sendirian aja, nih?”


Melani kaget. Dia berdiri dan bersiap-siap untuk menjaga dirinya. Kalau dilihat-lihat dari tampangnya dua orang tersebut pasti punya niat buruk padanya,”Mau apa kalian?” Melani galak.


“Wuih…galak banget, sih?” ujar si preman dengan tampang nggak takut justru senang,”Jangan galak-galak, dong! Jadi cewek itu yang lemah lembut. Apalagi cewek secantik kamu!” si preman mencolek wajah Melani.

__ADS_1


Melani menampiknya,”Nggak usah pegang-pegang!” meskipun dengan rasa takut yang luar biasa, Melani berusaha keras untuk melawan.


“Kenapa? Kamu cantik, lho. Nggak pantas cewek secantik kamu sendirian malam-malam begini. Mendingan ikut Abang aja, yuk!” preman itu memegang tangan Melani.


“LEPASIN!!!” Melani meronta sekuat tenaga, tapi apa daya kedua tangannya dipegang oleh kedua preman tersebut,”LEPASIN GUE!!! TOLOOONGGG!!!!”


“Aduh, kamu ini ternyata tipe cewek yang suka teriak-teriak, ya? Teriak aja terus! Nggak apa-apa. Aku suka sama cewek yang sukanya teriak-teriak kayak kamu ini.”


“Lepasin gue nggak? LEPASIN!!!” Melani masih berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kedua preman itu.


“Nanti kalau Abang lepasin kamu, kamu kabur lagi. Makanya, ikut sama Abang aja, yuk! Nanti Abang beliin apapun yang kamu minta!” si preman terus berusaha untuk membawa Melani pergi.


“TOLOONGGG….TOLOOONGGG!!!” Melani berteriak sekencang-kencangnya. Meskipun tahu nggak ada orang lain di tempat itu, tapi siapa tahu aja ada orang yang dengar.


“Aduh…kamu benar-benar suka teriak, ya! Daripada teriak-teriak terus, mendingan diem aja terus ikut Abang pergi! Yuk!”


“Nggak mau. Lepasin gue! LEPASIN!!!”


BUK! Salah seorang preman, jatuh akibat pukulan sebuah kayu besar yang dilayangkan seseorang dari belakang.


Melani dan preman satunya kaget.


“Rafa?”

__ADS_1


TBC


__ADS_2