
“Mel, lo nggak apa-apa, kan?” Rafa panik melihat keadaan Melani,”Vin, gimana keadaannya?”
“Nggak tahu, Raf. Tapi kayaknya darah yang keluar banyak banget!” jawab Kevin dengan raut wajah yang nggak kalah paniknya dengan Rafa,”Kita harus bawa dia ke rumah sakit.”
“Iya, iya, ayo kita ke rumah sakit sekarang!” ketika Rafa mau mengikuti Kevin menuju mobilnya, Anthony menariknya dari belakang.
“Eh, mau ngapain lo?” Anthony mencengkeram lengan Rafa.
“Thon, lepasin nggak? Gue mau bawa Melani ke rumah sakit.” Rafa berusaha melepaskan cengkeraman Anthony, tapi Anthony tetap tidak mau melepaskannya, dan justru mencengkeram tangan Rafa semakin kuat.
Kevin menoleh mendengar ribut-ribut di belakang. Dia melihat Rafa dan Anthony sedang berdebat.
“Udah. Vin! Lo bawa aja Melani ke rumah sakit!” Anthony berkata pada Kevin,”Si Curut ini masih ada urusan sama gue!”
Meskipun penasaran dengan masalah Rafa dan Anthony, tapi Kevin tahu ada hal lain yang jauh lebih penting. Melani harus secepatnya dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan pertolongan. Kevin pun meninggalkan Rafa dan Anthony berdua. Untuk saat ini nggak ada yang lebih penting selain keselamatannya Melani.
“Eh, lo apa-apaan, sih? Lepasin gue nggak?” Rafa marah.
“Eh, Curut. Gue minta mulai sekarang lo nggak usah lagi ngedeketin Melani!” Anthony mengancam.
“Itu bukan urusan lo, ya!” Rafa berhasil lepas dari cengkeraman Anthony.”Sekarang gue lagi nggak mau berantem sama lo. Gue mau lihat Melani.”
“Heh, heh!” Anthony menghadang jalan Rafa.
__ADS_1
“Apaan sih, lo? Minggir!” Rafa marah sekali. Di saat situasi sedang gawat begini, Anthony tetap saja mau cari masalah sama dia.
“Heh, Raf…gue bilang apa tadi? Lo nggak usah ngedeketin Melani lagi! Karena dia akan selalu sial kalau deket sama lo.”
“Maksud lo apa sih, hah?” Rafa nggak terima.
“Eh, lo nggak usah belagak bego, deh! Dari dulu tuh Melani selalu kena sial kalau dia deket sama lo. Lo nyadar nggak sih, kalau lo itu pembawa sial buat dia?”
Rafa terlihat masih belum mengerti dengan maksud Anthony,”Eh, lo kalau ngomong jangan asal, ya! Sekarang minggir, dan biarin gue pergi ke rumah sakit!” Rafa kembali mencari jalan untuk pergi, tapi lagi-lagi Anthony menghalanginya.
“Udah gue bilang, lo jangan deketin Melani lagi!”
“Thon, kalau emang lo mau ngajak berantem, oke gue ladenin kapanpun lo mau. Gue udah bukan yang dulu lagi, jangan dikira gue takut ya, sama lo!” Rafa semakin nggak sabar menghadapi Anthony. Pikirannya dipenuhi tentang Melani.
Rafa mengepalkan tinjunya, dia marah sekali dengan hinaan Anthony padanya.
“Eh, Raf. Lo sadar, dong! Lo inget apa aja dulu yang udah dialamin Melani cuma gara-gara lo! Jangan dibilang lo lupa waktu Melani sampe jatuh dari tangga sekolah cuma karena mau nolongin lo.”
Terlintas di kepala Rafa, saat Melani berusaha menyelamatkan Rafa dari sebuah kulit pisang di atas tangga, sampai akhirnya Melani yang kepeleset dan jatuh dari tangga. Karena kejadian itu, dua hari Melani nggak masuk sekolah karena kakinya terkilir dan kepalanya membentur lantai sekolah.
“Terus ada lagi, waktu di laboratorium tangannya Melani tuh terbakar gara-gara ketumpahan cairan percobaan lo.”
Rafa pun juga ingat tentang kejadian di Lab. Fisika. Waktu tangan Melani ketumpahan cairan percobaan miliknya yang belum selesai dibuat. Tangan Melani sampai melepuh dan dia tidak bisa menulis dengan tangan kanannya karena tangannya sakit.
__ADS_1
“Lo juga yang udah nyebabin Melani pingsan dan hampir gegar otak gara-gara kena bola basket yang lo lempar.”
Waktu sedang berolahraga basket, kepala Melani nggak sengaja terkena bola nyasar yang dilempar Rafa. Karena Rafa nggak berbakat dalam bidang basket, permainan basketnya pun buruk. Bola yang dilemparnya mengenai kepala Melani tanpa sengaja.
“Dan hari ini, Raf. Cuma gara-gara mau nyamperin lo, Melani tuh sampai ketabrak motor. Lo lihat sendiri kan tadi, keadaannya tuh parah banget!”
“…” Rafa tanpa disadari mengendurkan kepalan tinjunya. Dia nggak lagi mengepalkan tangannya.
“Tadi itu masih motor yang nabrak Melani.
Gimana kalau nanti mobil atau bus? Lo mustinya sadar dong, kalau Melani tuh selalu sial gara-gara lo.”
Rafa mulai memikirkan kata-kata Anthony. Memang dari dulu Rafa sangat nggak menyukai apapun yang ada dalam diri Anthony, tapi entah kenapa kali ini Rafa merasa omongan Atnhony sedikit ada benarnya. Semua kejadian itu memang benar. Secara nggak langsung, Melani selalu celaka gara-gara dia. Dan nggak usah heran kalau Anthony tahu tentang semua kejadian itu, karena di SMA Anthony termasuk murid yang nakal dan sering dihukum keluar kelas. Jadi dia selalu mengganggu kegiatan belajar di kelas lain, terutama kelas Rafa dengan Melani untuk mengerjai Rafa.
“Kalau lo nggak pengen Melani terus-terusan sial, lo jauhin dia dan jangan deketin dia lagi! Kecuali kalau lo pengen Melani terus sial, ya nggak apa-apa. Lo deketin aja dia terus. Ntar kalau Melani sampai mati gara-gara kesialan yang lo bawa, baru lo puas!”
Rafa merinding dan takut sekali mendengar kata ‘mati’ yang keluar dari mulut Anthony. Rafa nggak mau Melani terus sial dan sampai meninggal gara-gara dirinya. Sekarang ini Rafa bingung harus berbuat apa? Memang sih, agak nggak masuk akal mempercayai omongan Anthony ini, tapi semua itu memang benar adanya. Melani selalu celaka saat ada di dekatnya.
Anthony terlihat sangat puas, dia merasa menang sudah berhasil mempengaruhi Rafa supaya mau meninggalkan Melani. Karena kalau Rafa sudah menjauh dari Melani, Anthony bisa dengan leluasa untuk mendekati Melani lagi.
“Sekarang semuanya terserah lo. Lo pikirin sendiri deh, apa semua yang gue bilang tadi itu bener apa enggak? Dan kalau sampai terjadi apa-apa sama Melani, gue nggak akan biarin lo hidup tenang!” Anthony pergi melewati Rafa.
TBC
__ADS_1