My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
37


__ADS_3

Sampai esok harinya, Cyntia masih belum menyerah untuk menghubungi Rafa. Tapi kali ini bukannya Rafa nggak mau menerima teleponnya, tapi malah HP nya dimatikan. Sejak tadi Cyntia menelepon Rafa tapi HP nya mailbox terus.


“Aduh, ini si Rafa kenapa, sih? Tetep aja nggak bisa dihubungi? Masa marah sama aku sampe segitunya?” Cyntia sebelah tangannya masih terus menekan-nekan tombol di HP nya dan menelepon Rafa, meskipun sampai sekarang tetap belum bisa dihubungi.


Cyntia melihat Rafa dari sela-sela lalu lalang orang-orang di kampus. Wajahnya langsung ceria seceria matahari pagi. Cyntia melangkahkan kakinya dengan wajah bersinar-sinar untuk menghampiri Rafa yang sedang berdiri di depan mading membaca pengumuman. Namun langkah Cyntia terhenti mendadak, dia melihat Melani yang lebih dulu sampai di dekat Rafa.


“Raf!” panggil Melani.


Rafa nggak peduli. Dia tetap sibuk membaca pengumuman di mading, padahal menurut Melani sama sekali nggak ada pengumuman yang baru. Semua pengumuman sudah basi dan kayaknya nggak penting lagi buat dibaca.


“Raf, lo marah sama gue?”


Rafa tetap nggak peduli. Menoleh ke tempat Melani pun dia nggak mau.


Cyntia nggak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan Melani pada Rafa, tapi dia sedikit merasa cemburu melihat Rafa bersama Melani.


“Raf, kalau orang lagi ngajak ngomong itu dijawab, kek! Gue ini lagi ngomong sama lo.” Melani mulai sewot.


Rafa bukannya merespon, dia malah ngeloyor pergi dengan angkuhnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.


“Raf, Raf, tunggu!” Melani mengejar Rafa,”Eh, kalau orang lagi ngomong itu didengerin, kek! Rafa!!!”

__ADS_1


Melihat Rafa sudah bersama Melani, Cyntia mengurungkan niatnya menemui Rafa. Soalnya nggak mungkin juga dia membicarakan tentang masalah mereka di depan Melani. Saat Cyntia melangkah pergi, Kevin tanpa sengaja diam-diam memperhatikannya.


*


Di tempat lain, Melani masih nggak menyerah mengejar Rafa sebelum bisa menyelesaikan masalahnya dengan Rafa. Karena gara-gara masalah yang bagi Melani nggak terlalu penting itu, sudah membuat Melani nggak tenang semalaman, belajarpun nggak bisa konsentrasi.


“Rafa, Rafa, tunggu dong!” Melani berhasil memegang tangan Rafa dan membalikkan tubuhnya,”Dengerin gue dulu!”


Rafa melengos.


“Raf, lo marah ya, sama gue?”


“Menurut lo?”


“Jalan-jalan? Apa lo lupa sama tugas lo? Gue ini bos lo, dan yang berhak ngasih izin lo boleh pergi apa enggak itu gue.” Rafa marah-marah.


“Iya, iya. Kan gue udah minta maaf tadi? Lagian lo cuma digituin sekali aja, ngambeknya udah sampe kayak gini?”


“Suka-suka gue dong, mau marah apa enggak. Dan kayaknya gue juga berhak kok, buat marah sama lo!” Rafa masih saja galak.


“Ya makanya gue minta maaf. Masa nggak mau maafin gue, sih?” Melani bersikeras.

__ADS_1


“…”


“Lo tahu nggak, gara-gara kemaren lo dateng ke rumah gue, Ayah sama Ibu tuh marahin gue!”


“Itu kan emang lo yang salah.”


“Iya, tapi kan sekarang gue udah minta maaf, Raf. Lo maafin gue kek, biar gue bisa tenang!” desak Melani sebal.


Rafa malah ngeloyor pergi dengan santai, tanpa peduli dengan Melani yang berusaha minta maaf padanya. Seolah-olah kalau permintaan maaf Melani sama sekali nggak ada artinya buat Rafa.


Melihat sikap Rafa yang tetap dingin itu, Melani jadi tambah jengkel,”Sebenernya tuh cowok maunya apa, sih? Dikiranya gue apaan suruh ngerengek-rengek minta maaf sama dia? Dasar cowok gila!” Melani dengan gerak refleks nya melempar kamus tebal ke arah Rafa. Kamus pun mengenai punggung Rafa. Melani kaget, dia nggak nyangka kalau kamusnya akan beneran mengenai Rafa, soalnya tadi dia cuma iseng-iseng aja.


“Oh my God!”


  Rafa membalikkan badannya dan melihat Melani dengan raut wajah marah,”Eh, lo sebenernya niat minta maaf apa enggak, sih? Belum juga dimaafin, udah bikin masalah lagi? Mau lo apa sih, sebenernya?”


Melani garuk-garuk kepala bingung,”Nggg…nggg…abis gue kesel sama lo. Gue udah minta maaf baik-baik, lo nya malah kayak gitu? Siapa coba yang nggak kesel? Mustinya gue yang nanya, mau lo apa?” Melani marah-marah untuk menutupi kegugupannya di depan Rafa, karena sudah melempar kamus tanpa sengaja.


“Kok jadi lo yang marah-marah sama gue? Mustinya gue yang marah sama lo. Dasar cewek aneh!” Rafa ngeloyor pergi.


Melani berlari memungut kamusnya yang tadi dia pakai untuk memukul Rafa,”Aduh, gagal deh gue minta maaf sama Rafa. Abis tuh cowok rese banget, sih? Siapa coba yang nggak kesel, kalau minta maaf tapi malah dicuekin kayak gitu?”

__ADS_1


TBC


__ADS_2