My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
40


__ADS_3

Rafa mengangkat kedua bahunya,”Menurut lo? Gue pantes marah apa enggak, dan lo pantes minta maaf apa enggak?”


Melani menarik napas,. Sabar,”Iya, iya, maaf.”


“Kurang lengkap!”


Melani melirik Rafa dengan muka cemberut,”Maaf, Bos.”


Rafa tersenyum puas,”Bagus, bagus. Itu baru namanya asisten yang baik.” Rafa mengusap-usap kepala Melani.


Apaan sih nih, ngusap-ngusap kepala gue segala? Emangnya gue kucing? Melani mencibir.


“Tadi kan udah janji kalau lo bakal patuh sama perintah bos. Jadi ya, tepatin dong janji lo!”


“Iya, iya, Bos.”


“Oh iya, ngomong-ngomong lo tadi minta maaf karena kemaren lo pergi nggak izin sama gue, kan?”


“Iya. Kenapa lagi?”


“Tapi buat kesalahan lo yang tadi pagi, kayaknya lo belum minta maaf sama gue, deh!”


“Kesalahan? Kesalahan yang mana lagi, sih? Kayaknya di mata lo gue ini banyak banget salahnya?” Melani heran.


“Emang lo lupa? Tadi pagi lo nimpuk punggung gue pake kamus!” Rafa mengingatkan.


Melani baru ingat, kalau tadi pagi dia melempari Rafa dengan kamusnya,”Iya. Abis gue kesel sama lo, gue minta maaf malah dicuekin!”


“Ya suka-suka gue dong, gue mau nyuekin apa enggak. Gue kan bos.”

__ADS_1


“Bosen gue denger lo ngomong gitu!”


Rafa nggak peduli.


“Iya, iya, gue minta maaf udah ngelempar lo pake kamus.”


“Lo pikir dengan maaf aja cukup, apa? Terus lo pikir, nggak sakit dilempar pake kamus setebel itu?” Rafa marah-marah lagi.


“Iya, iya, iya, maaf, maaf, Bos. Maaf! Terus gue musti ngapain biar lo mau maafin gue?” tanya Melani yang saat itu sudah jengkel sekali, tapi terpaksa harus minta maaf.


“Ayo masuk!” Rafa masuk ke dalam mobilnya.


“Masuk? Masuk kemana?”


“Ke tong sampah. Ya ke mobil gue lah. Udah cepetan!” Rafa geregetan.


“Ya enggaklah. Kurang kerjaan banget gue, pake ngapa-ngapain lo segala? Udah cepetan masuk!”


“Tapi kan gue belum dimaafin?”


“Ya makanya itu, kalau lo pengen gue maafin, cepetan masuk ke mobil!”


“Iya, iya.” Melani masuk ke mobil Rafa.


***


Mobil Rafa berhenti di depan sebuah warung mie ayam di pinggir jalan. Melani bingung sekali mau ngapain Rafa ngajakin pergi ke situ? Kalau mau makan, kayaknya nggak mungkin banget. Dia kan orang kaya, masa orang kaya makan mie ayam di warung pinggir jalan? Biasanya kan mereka sukanya makan pizza, spaghetti, atau humberger…tapi ini kok malah berhenti di warung? Atau jangan-jangan si Rafa mau ngerjain Melani lagi? Pikiran Melani sudah melayang kemana-mana, nggak jelas.


“Ayo turun!” Rafa keluar dari mobil.

__ADS_1


“Rafa, Rafa!” Melani buru-buru keluar dan mengejar Rafa yang mau memasuki warung mie ayam.


“Apa lagi?”


“Kita mau ngapain ke sini? Lo nggak lagi mau ngerjain gue, kan!” Melani menatap Rafa curiga.


“Eh, lo jadi cewek curigaan banget, sih? Emang tampang gue kayak tampang kriminal, gitu?” Rafa tersinggung.


“Iya. Penjahat lo.”


“Enak aja!”


“Terus kita mau ngapain ke sini?”


Rafa menarik tangan Melani,”Ayo ke dalam! Traktir gue makan mie!”


“Eh, tunggu, tunggu!” Melani justru menarik tangan Rafa.


“Yaelah, apa lagi sih?”


“Lo…lo serius mau makan di sini?” Melani nggak yakin.


“Ya iyalah. Katanya tadi lo mau gue maafin lo, makanya traktir gue makan mie dulu baru lo gue maafin. Gue ini laper, tadi mau makan siang nggak jadi gara-gara tulisan lo yang nggak penting itu. Bikin gue kehilangan napsu makan tahu!”


Melani masih bingung, nggak salah Rafa mau makan di sini,”Tapi, Raf, ini kan warung pinggir jalan!”


“Nggak ada yang bilang kalau ini restoran, kan! Emangnya kenapa kalau ini warung pinggir jalan? Gue nggak boleh makan di sini?” semprot Rafa,”Udah ayo, cepetan masuk!” Rafa menarik Melani ke dalam.


TBC

__ADS_1


__ADS_2