My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
72


__ADS_3

Melani mengambil posisi duduk di sebelah Rafa, pandangannya ikutan tertuju ke arah kolam, memandangi bunga teratai yang bermekaran indah. Semilir angin mengibar-ngibarkan rambut panjang Melani. Melani masih berdebar-debar aja berada di tempat itu dan mengingat tentang mimpinya. Kok bisa ada tempat yang benar-benar sama persis dengan yang ada di mimpinya? Pertanda apa ini?


“Lo kenapa, Mel?”


“Hah?” lagi-lagi Melani dikagetkan oleh suara Rafa.


“Kok kayaknya lo bingung gitu?” Rafa bertanya dengan pandangan nggak lepas dari tengah kolam.


“Enggak, kok. Gue nggak apa-apa. Kita ngapain sih, ke sini?”


“Lo berenang sana di kolam!”


“Heh, enak aja?! Lo aja sana yang berenang!”


“Lagian lo pake tanya-tanya segala ngapain kita ke sini? Lo itu masih asisten gue, jadi kalau gue ngajak lo kemanapun, lo tinggal ikut doang! Nggak usah kebanyakan nanya!” Rafa judes.


“Iya, iya, gue kan cuma nanya, Raf!”


“…”


“Kenapa sih Raf, lo putus sama Cyntia?” Melani sengaja mengganti topik pembicaraan.


“Bukan urusan lo!”


“Lo tega banget mutusin Cyntia? Padahal kayaknya Cyntia cinta banget tuh, sama lo?”


“Lo nggak tahu apa-apa soal Cyntia, jadi mendingan nggak usah banyak tanya deh!”

__ADS_1


“Iya, iya, maaf.” Melani mengalihkan


pandangannya ke tempat lain, kembali mengamati setiap sudut tempat itu. Dia masih bingung aja, kok bisa dia ada di tempat itu? Dengan Rafa, lagi? Cowok yang bukan siapa-siapanya,”Lo kok bisa tahu tempat ini sih, Raf?”


“Ya tahulah. Gue kan udah lama di Jakarta. Emangnya lo, yang baru kemaren nyampe Jakarta?!”


“Nggak usah sinis gitu, kek! Orang nanya baik-baik, kok malah jawabannya ketus gitu?” Melani heran.


“Terserah gue. Gue ini bos, jadi gue mau gimana itu terserah gue.”


Melani mendorong kepala Rafa dengan perasaan sebal.


“Eh, lo yang sopan dikit dong, sama bos! Heran, kayaknya dari kemaren-kemaren lo nggak ada sopan-sopannya sama gue?” Rafa ngomel-ngomel.


“Biarin aja. Lo nya juga nyebelin, sih. Buat apa gue sopan segala sama lo?” Melani nggak mau kalah.


“Jadi maksud lo, lo udah dari kecil hobi lo marah-marah mulu? Jangan-jangan dulu pas lo lahir, lo bukannya nangis tapi malah marah-marah?” Melani nyeletuk sekenanya, sudah sebel banget dengan sikap Rafa.


“Enak aja, kalau ngomong?! Lo kali yang waktu lahir berkicau kayak Burung Kakak Tua. Buktinya aja, sekarang lo jadi cewek bawel banget?”


“Gue nggak bakalan bawel kalau lo juga nggak bikin gue kesel. Jadi orang kok kerjaannya bikin kesel orang terus lo ini?"


Rafa berdiri,”Ayo pulang!”


“Nggak mau. Gue masih pengen di sini.”


“Eh, gue bilang pulang, ya pulang! Denger nggak sih, lo?” Rafa jengkel.

__ADS_1


“Nggak!” Melani tetap pada pendiriannya,”Gue nggak mau pulang.”


“Emang lo mau di sini sampe malam? Udah, cepetan berdiri! Turuti apa kata Bos!”


Melani melengos, nggak mau mendengarkan Rafa.


Rafa mengulurkan tangannya di depan Melani, yang otomatis langsung membuat Melani kaget. Dia kembali teringat mimpinya. Saat itu cowok itu juga mengulurkan tangannya pada Melani, lalu mengajaknya berdansa berdua di bawah sinar bulan.


“Ayo pulang!”


Melani menyambut tangan Rafa dan berdiri sambil terus menatap bingung ke Rafa. Setelah Melani berdiri, Melani akan berdansa dan kemudian cowok itu akan menciumnya. Tapi masa sih, Rafa akan menciumnya? Detak jantung Melani semakin nggak beraturan, saat Rafa belum juga melepaskan pegangan tangannya. Rafa memandang Melani dibalik kacamata hitamnya, padahal jujur Melani sangat ingin melihat mata Rafa. Karena terlalu terbawa suasana, Melani memejamkan matanya dan sedikit memonyongkan bibirnya seakan-akan dia mau melakukan ciuman dengan Rafa.


“Lo ngapain, Mel?”


Melani kaget dan membuka matanya. Dia juga baru sadar dengan apa yang terjadi, dan tampak kikuk di depan Rafa.


“Ngapain bibir lo, lo monyong-monyongin kayak gitu? Lo pikir gue mau nyium lo?”


“Eh, jangan sembarangan, ya! Siapa emangnya yang mau kalau lo cium? Gue sih, ogah!”


“Terus ngapain tadi, pake monyong-monyongin bibir segala?”


“Suka-suka gue, dong. Bibir, bibir gue. Mau gue monyong-monyongin atau enggak, ya terserah gue!” Melani segera pergi, malu banget sama Rafa. Di dalam hatinya, Melani memaki-maki dirinya sendiri. Kok bisa dia bersikap bodoh di depan Rafa.


Hampir aja gue ngejatuhin harga diri gue di depan Rafa!


Rafa tertawa geli melihat Melani, kelihatannya dia tampak senang kalau Melani sampai mati gaya di depannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2