
“Apa?”
“Iya. Perjanjian kita selesai.”
Melani nggak mengerti maksud Rafa. Apa Rafa marah karena sudah beberapa hari ini dia nggak bisa jadi asisten pribadinya gara-gara dia sakit, sehingga Rafa memecatnya? Tapi masa Rafa segitu egoisnya sampai-sampai nggak mau ngasih izin Melani untuk libur selama dia sakit?
“Raf, lo marah sama gue? Lo…lo marah karena beberapa hari ini gue nggak bisa jadi asisten lo? Gue libur jadi asisten lo tanpa lo kasih izin libur, terus lo marah sama gue? Lo mau pecat gue gara-gara itu? Iya, Raf?”
“…”
“Gue minta maaf Raf, kalau emang itu alasannya lo mecat gue sebelum batas waktu yang kita sepakati. Gue janji, begitu gue keluar dari rumah sakit, gue bakal lebih rajin lagi jadi asisten lo. Gue janji gue nggak akan ngeluh dan banyak protes lagi! Asal lo mau maafin gue, Raf. Jangan pecat gue, ya! Kalau lo pecat gue, lo tahu kan gue nggak bakalan bisa bayar utang-utang gue ke lo.”
Melani berkata tentang hutang, padahal sebenarnya bukan itu satu-satunya alasan Melani nggak mau dipecat sama Rafa.
“Lo tenang aja! Gue nggak akan minta lo ngelunasin utang lo.”
“Apa?”
“Iya. Gue sengaja mengakhiri perjanjian kerja kita, karena gue udah nggak mau lagi lo jadi asisten pribadi gue!” kata Rafa dengan nada bicara yang super santai.
“Apa? Lo nggak mau gue jadi asisten lo lagi?” Melani nggak percaya.
“Ya.”
Melani masih nggak percaya tiba-tiba Rafa mengatakan itu padanya.
“Sesuai perjanjian kita yang terakhir, kalau hanya gue yang berhak buat mecat lo kapanpun gue mau. Dan sekaranglah saatnya. Sekarang gue udah nggak mau lagi lo jadi asisten gue!”
“…"
“Bukannya ini yang selama ini lo harepin? Lo pengen bisa bebas kan, dari perjanjian itu? Nah sekarang lo udah bebas, Mel. Lo bebas buat ngelakuin apa aja yang lo mau tanpa musti minta izin dulu ke gue, karena gue bukan bos lo lagi.”
__ADS_1
Dulu memang Melani sangat berharap waktu tiga bulan akan berlalu dengan cepat sehingga dia bisa segera bebas dari Rafa. Tapi setelah cukup lama mengenal Rafa, apalagi waktu tahu Rafa itu adalah Fandy, entah kenapa tiba-tiba bagi Melani waktu tiga bulan itu berlalu begitu cepat? Melani merasa, kalau dia tetap ingin menjadi asisten Rafa sampai kapanpun. Melani ingin terus bersama Rafa.
“Sekarang lo bebas, Mel. Gue nggak akan ikut campur lagi urusan lo. Mulai sekarang, kita bisa memulai hidup kita masing-masing seperti dulu lagi.”
“Enggak Raf, gue nggak mau!”
“…”
“Gue nggak mau berhenti jadi asisten lo. Gue pengen tetep jadi asisten lo. Dan gue janji, tanpa perjanjianpun gue akan tetep turuti apapun perintah lo. Gue janji, gue nggak akan membantah, Raf!” Melani berusaha meyakinkan Rafa.
Rafa sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Melani, dan dia pun juga sudah menyiapkan jawabannya,”Tapi gue nggak mau. Gue udah nggak mau lo jadi asisten gue, baik dengan perjanjian ataupun tanpa perjanjian!”
“…”
“Mendingan mulai sekarang kita nggak usah ketemu lagi!”
Melani tersentak,”Apa, Raf? Nggak usah ketemu? Lo nggak mau ketemu sama gue lagi?”
“…”
“Lupain gue, Mel!”
“Kenapa, Raf? Kenapa gue musti lupain lo?”
“…”
“Raf, jawab dong!” Melani memegang tangan Rafa, dan Melani terkejut Rafa menarik tangannya.
“Gue nggak bisa terus-terusan deket sama lo, Mel.”
“Iya, tapi kenapa? Kenapa lo nggak mau deket sama gue lagi? Gue punya salah apa lagi Raf, sama lo? Kalau gue punya salah sama lo, gue minta maaf.”
__ADS_1
“Bukan. Bukan lo kok, yang salah. Gue yang salah.”
“…”
“Gue yang mustinya minta maaf sama lo.”
“Minta maaf? Lo punya salah apa Raf, sama gue?” Melani merasa Rafa nggak pernah punya salah yang besar padanya, sampai-sampai membuat Rafa seperti ini.
“Anthony bener.”
Melani kaget, tiba-tiba Rafa menyebut nama Anthony. Mereka kan sedang nggak membicarakan tentang Anthony? Tapi kok tiba-tiba…atau jangan-jangan Anthony sudah ngomong sesuatu pada Rafa?
“Anthony? Anthony bener apa? Dia ngomong apa sama lo, Raf?” Melani mulai curiga.
“Kalau gue ini selalu bawa sial buat lo.”
“Apa? Apa lo bilang? Sial?” Melani lagi-lagi nggak mengerti dengan maksud Rafa.
“Iya. Dari dulu, gue tuh selalu bawa sial buat lo, Mel. Lo inget nggak sama semua kejadian-kejadian yang dulu pernah lo alami dan udah bikin lo celaka gara-gara gue?”
“…”
“Dulu waktu kita masih SMA, lo pernah jatuh dari tangga sekolah gara-gara lo cuma mau nolongin gue dari kulit pisang. Waktu di laboratorium, tangan lo pernah sampai terbakar gara-gara cairan percobaan gue. Kepala lo kena bola basket yang gue lempar sampai lo pingsan.”
Untuk sekilas, Melani kembali teringat tentang semua kejadian-kejadian di masa lalu itu.
“Belum lagi kejadian-kejadian lain yang bikin lo sial terus karena deket sama gue.”
“Raf…”
TBC
__ADS_1