My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
86


__ADS_3

Rafa memeluk Cyntia sesuai keinginan Cyntia.


Cyntia menangis dan memeluk Rafa dengan erat. Rafa - seorang cowok yang dulu didapatkannya dengan penuh perjuangan, dan selama ini selalu berusaha dipertahankannya, kini harus rela dilepaskannya demi kebahagiaan Rafa. Mungkin sekarang Cyntia harus berusaha untuk mencintai seseorang tanpa harus memilikinya.


“Aku akan tetap cinta sama kamu, Raf.”


Rafa memeluk Cyntia dengan penuh rasa bersalah, dia merasa sangat bersalah sudah membuat Cyntia sakit hati sampai seperti ini. Sebenarnya dari dulu Rafa nggak pernah bermaksud membuat Cyntia jatuh cinta, dia nggak pernah melakukan sesuatu untuk membuat cewek jatuh cinta padanya. Tapi kenapa Cyntia mencintainya? Dan kenapa usahanya selama ini untuk bisa mencintai Cyntia selalu gagal? Rafa tetap tidak bisa mencintai Cyntia? Apa itu karena di hatinya sudah ada orang lain?


***


“Cyntia?” Melani kaget bertemu dengan Cyntia di kampus. Sejak kejadian tempo hari, Melani memang baru sekarang bertatap muka dengan Cyntia,”Ada apa ya, Cyn?” Melani bingung.


“Gue mau minta maaf Mel, sama lo!” ujar Cyntia tulus.


“Maaf?” Melani terkejut, Cyntia minta maaf padanya. Padahal tanpa minta maafpun, Melani sudah memaafkannya. Dia tahu semua itu bukan sepenuhnya salah Cyntia. Cyntia hanya jealous saja karena Rafa dekat dengan dia.


Cyntia menganggukkan kepalanya,”Iya. Gue sama sekali nggak ada maksud buat nyelakain lo, Mel. Gue…gue cuma terlalu jealous aja sama lo, karena lo terlalu deket sama Rafa. Gue aja yang pacarnya, Rafa nggak pernah seperhatian itu ke gue. Tapi kalau sama lo, gue seperti ngelihat Rafa seperti orang lain. Bukan Rafa yang selama ini gue kenal.”


“…”


“Bahkan kemaren, gue lihat Rafa tertawa. Satu hal yang selama ini belum pernah gue lihat. Rafa nggak seceria itu saat lagi sama gue.”


Melani tahu, pasti Cyntia memang belum tahu tentang siapa Rafa sebenarnya. Sifat ceria dan murah senyum itu memang sifat asli Rafa dari dulu. Meskipun banyak orang yang menyakitinya, Rafa tetap berusaha untuk ceria. Biarpun Rafa sudah berusaha untuk merubah sifatnya, tetap saja sifat asli tidak akan mungkin semudah itu hilang.

__ADS_1


“Gue sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuat Rafa jatuh cinta sama gue, tapi tetep nggak berhasil. Sampai sekarang Rafa belum bisa cinta sama gue, dan mungkin nggak akan pernah bisa sampai kapanpun.”


“…”


“Rafa nggak pernah bilang kalau dia cinta sama gue, itu karena dia emang nggak pernah cinta sama gue, Mel.” Cyntia terlihat sedih sekali,”Meskipun gue tahu kalau pacar gue nggak cinta sama gue, apa salahnya kalau gue tetep berusaha untuk membuat dia cinta sama gue dan ngelakuin berbagai cara supaya dia nggak berpaling ke cewek lain?”


“…”


“Gue sengaja nyindir-nyindir lo, dan mungkin lebih terkesan seperti hinaan, karena gue nggak mau lo sampai ngerebut Rafa dari gue. Gue takut banget lo bakal ngambil Rafa dari gue. Karena lo itu satu-satunya cewek yang beda dari cewek-cewek sebelumnya yang pernah deket sama Rafa.”


“…”


“Tapi sekarang gue sadar, kalau gue nggak bisa maksain kehendak gue ke orang lain, gue enggak bisa maksa Rafa buat cinta sama gue. Cinta itu nggak bisa dipaksa!” Cyntia menangis jika teringat dia sudah melepaskan Rafa,”Gue nggak bisa maksa Rafa buat mencintai gue, karena gue tahu di hatinya sudah ada orang lain.”


“Mel, gue minta maaf. Gue bener-bener nyesel udah hampir bikin lo celaka. Lo musti percaya, kalau gue sama sekali nggak bermaksud seperti itu. Gue nggak sengaja, Mel!” Cyntia berkata dengan penuh harap Melani akan memaafkannya.


“Cyn, udah! Lo nggak perlu minta maaf terus! Gue udah maafin lo, kok. Gue udah maafin lo sejak dulu. Tanpa lo minta maafpun, gue udah maafin lo. Gue juga tahu itu semua bukan sepenuhnya salah lo. Gue juga salah, Cyn. Gue juga minta maaf.”


“Lo beneran mau maafin gue, Mel?” Cyntia masih terlihat belum yakin Melani sudah memaafkannya, mengingat kesalahannya begitu besar pada Melani.


Melani mengangguk tegas,”Iya. Gue udah maafin lo.”


Cyntia tersenyum lega dan menghapus air matanya,”Makasih ya, Mel. Ternyata bener yang dibilang sama Rafa.”

__ADS_1


Melani kaget,”Rafa?” dia bingung kenapa tiba-tiba Cyntia membicarakan tentang Rafa? Jangan-jangan tuh cowok sudah ngomong yang macam-macam tentang dia? Melani sudah berencana akan mengomeli Rafa kalau sampai Rafa cerita yang enggak-enggak tentang dirinya pada Cyntia.


“Iya, Rafa bilang kalau lo itu bukan tipe orang yang pendendam. Dan Rafa juga bilang, lo udah maafin gue tanpa gue minta maaf sama lo. Ternyata semua itu bener. Semua yang dikatakan Rafa emang bener. Gue nggak heran, kalau Rafa lebih milih lo daripada gue.”


Melani nggak mengerti, kenapa Cyntia berkata begitu padanya? Rafa lebih memilihnya daripada Cyntia? Apa sih maksudnya? Apa jangan-jangan Rafa sudah mengatakannya pada Cyntia? Apa benar Rafa mengatakan itu? Melani semakin bingung.


“M-maksud lo, Cyn? Gue…gue nggak ngerti.”


“Biarpun Rafa nggak pernah bilang, tapi gue tahu. Gue tahu Rafa suka sama lo, Mel. Lo nggak tahu seberapa marahnya Rafa sama gue waktu tahu lo hampir celaka gara-gara gue?! Dia begitu care sama lo. Dan itu adalah sesuatu yang nggak pernah gue dapet dari Rafa selama kita pacaran.”


“…"


Cyntia berubah untuk tersenyum meskipun hatinya masih belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan itu,”Nggak apa-apa kok, Mel. Kalau lo emang suka sama Rafa, gue nggak akan ngehalangin lo lagi! Gue akan coba buat belajar mencintai orang tanpa harus memilikinya.”


“…”


Cyntia mengulurkan tangannya,”Sekarang kita sahabat, kan?!”


Melani memandang Cyntia dan juga tangannya yang terulur secara bergantian. Setelah berpikir beberapa detik, akhirnya Melani menjabat tangan Cyntia,”I-iya.”


Cyntia tersenyum bahagia,”Makasih ya, Mel. Gue seneng banget hari ini.”


Tanpa disadari keduanya, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka. Rafa diam-diam mendengar pembicaraan Melani dan Cyntia. Rafa lega, akhirnya satu masalah sudah terselesaikan. Rafa juga senang, sekarang Cyntia sudah bisa belajar untuk melupakannya. Karena itu memang demi kebaikan Cyntia sendiri.

__ADS_1


TBC


__ADS_2