My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
79


__ADS_3

Diandra menarik napas panjang,”Oke.Sebenernya gue cuma heran aja Mel, sama lo dan Rafa.”


Melani kaget, meskipun sebelumnya sudah bisa menduga kira-kira apa yang akan ditanyakan Diandra, tapi tetap lumayan kaget juga ketika Diandra benar-benar menanyakannya.


“Kok belakangan ini gue lihat lo sama Rafa jadi aneh, sih? Jadi kayak orang asing gitu? Ketemu cuma diem-dieman, nggak ngomong apa-apa. Kan biasanya lo selalu nyerocos tuh, kalau ketemu sama bos lo itu?” Diandra heran.


“…”


“Lo kenapa sih, Mel? Apa kalian berdua ada masalah? Masalah apa, Mel? Kok lo nggak cerita-cerita sama gue?”


“…”


“Hoi, Mel! Kok lo diem aja sih? Ditanyain juga,” Diandra sebal,”Gue ini khawatir sama lo, Mel.”


Melani memperbaiki posisi duduknya,”Iya sih, Di. Gue emang ada sedikit masalah sama Rafa.”


“Hah? Sedikit? Kalau cuma sedikit masalah, kok marahannya sampe kayak gitu? Sampe berhari-hari? Pasti bukan masalah yang kecil, deh. Pasti masalah besar. Iya, kan?!”

__ADS_1


Melani diam saja.


“Heh, Mel! Kok diem aja, sih? Jawab dong!”


“Iya, iya. Emang masalah yang besar.” Melani akhirnya mengaku.


“Tuh, kan?! Pasti masalah yang besar.” Diandra berkata setengah berteriak,”Ada masalah apa Mel, sama Rafa? Kayaknya nih masalah serius banget?”


Melani menghela napas, sepertinya ini sudah saatnya Melani menceritakan tentang Fandy pada Diandra. Karena Melani juga sudah nggak kuat untuk memendam semua masalah ini seorang diri. Siapa tahu dengan dia bercerita kepada Diandra, itu akan sedikit mengurangi beban di hatinya.


“Oke, gue akan cerita.”


“Dulu…waktu gue masih SMA, gue pernah punya temen cowok namanya Fandy…” Melani mulai bercerita.


Fandy? Tunggu dulu! Diandra sepertinya pernah mendengar Melani menyebut nama itu dulu. Setelah mengingat-ingat, akhirnya Diandra pun yakin, dulu Melani memang sempat menyebut nama cowok itu di suatu kesempatan.


“Fandy? Fandy yang dulu pernah lo sebut namanya itu, ya?”

__ADS_1


Melani kaget,”Emangnya gue kapan pernah nyebut nama dia?” Melani nggak ingat.


“Iya pernah, dulu!” ujar Diandra,”Pas gue tanya Fandy itu siapa, lo malah nggak mau ngaku!” Diandra mengingatkan.


Melani sama sekali nggak ingat, kapan tepatnya dulu dia pernah menyebut nama Fandy di depan Diandra? Tapi biarpun diingat-ingat, tetap saja Melani lupa.


“Ah, udah! Nggak usah diinget-inget lagi! Nggak penting!” Diandra nggak mau pertanyaannya soal Fandy tadi menghambat cerita Melani,”Udah, terusin lagi ceritanya!”


Melani menganggukkan kepalanya,”Iya. Jadi gue kenal sama Fandy waktu OSPEK di SMA gue yang di Jogja. Fandy itu tipe cowok pendiem, pinter, baik, ramah sama siapapun, murah senyum, dan pemalu pula. Tapi nggak tahu kenapa gue ngerasa cocok aja sama dia? Hubungan gue sama dia ya, bisa dibilang lumayan deketlah. Tapi lo tahu kan, kalau Anthony itu naksir gitu sama gue. Ya, jadi dia itu selalu ngehalang-halangin Fandy buat deket sama gue. Berhubung Fandy itu bukan tipe-tipe cowok yang suka berantem, ya dia selalu jadi bulan-bulanan si Anthony selama sekolah di sana.”


Diandra jadi pendengar.


“Tapi baru tiga bulan dia sekolah di SMA itu, Fandy ngilang.”


“Ngilang?” Diandra tampak bingung.


“Iya. Fandy pergi, nggak tahu kemana? Dia juga nggak ngasih kabar apa-apa ke gue selama lima tahun.”

__ADS_1


“Apa lo pacaran sama Fandy?”


TBC


__ADS_2