My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
29


__ADS_3

"Oh iya, Vin. Gue masih nggak percaya lho kalo Rafa itu ceo."


"Lo tahu juga soal itu Mel?"


"Tahu. Soalnya bokap guae kerja di kantornya dia."


Kevin memgangguk. "Iya. Gara udah jadi ceo di sana sejak dua tahun yang lalu. Selain kuliah jurusan bisnis, dia juga dibimbing sama papanya dan beberapa orang kepercayaan papanya di kantor. Makanya dia udah bisa diandelin di usianya yang masih muda. Bahkan lab perusahaan meningkat 30% sejak Rafa jadi ceo di sana."


Melani membelalak. Cowok angkuh dan judes seperti Rafa ternyata punya otak seencer itu. Tapi dia tidak heran sih, kan dia dibimbing oleh orang - orang berpengalaman juga selama ini.


Karena keasyikan ngobrol, nggak terasa Melani sudah sampai di depan kelas.


“Eh, Vin gue masuk dulu ya? Kuliah bentar lagi mulai, nih!” Melani dn Kevin berhenti di depan kelas.


“Oh iya, iya.” Kevin tampaknya juga kaget karena keasyikan ngobrol,”By the way, ntar pulang kuliah kita keluar, yuk!” ajak Kevin.


“Keluar?” Melani tampak bingung.


“Iya. Ya itung-itung jalan-jalan gitu. Gimana? Lo bisa nggak?”


“Nggg…gimana, ya? Ntar gue usahain, deh. Ya lo kan tahu sendiri, Rafa bisa kapan aja ngehubungin gue dan minta gue dateng tanpa toleransi apapun.”

__ADS_1


Kevin mengerti,”Oke. Ntar gue tunggu kabar dari lo, ya?!”


Melani mengangguk,”Ya.”


Saat Melani masuk ke dalam kelas, Kevin masih berdiri di tempat. Dia juga melihat, Diandra menanyai Melani sesuatu dan sempat tersenyum ke arahnya. Kevin membalas senyuman Diandra dengan senyuman manisnya, lalu pergi meninggalkan kelas Melani.


*


Begtu keluar dari kelas selesai kuliah, Melani waste ditarik-tarik sama Rafa tanpa ngomong apa-apa. Udah kayak maling yang tertangkap polisi saja.


“Eh, eh, eh, apa-apaan sih lo, Raf?” Melani protes karena nggak terima tangannya ditarik-tarik tanpa sebab,”Ngapain narik-narik gue kayak gini?”


“Ikut gue ke toko buku sekarang!” Rafa tetap menarik Melani tanpa peduli dengan pengaduan protes dari Melani.


“Apa lagi? Lo nggak mau ikut gue?” Rafa waste marah-marah.


“Sekali-sekali kalau ngomong sama orang nggak usah pake marah-marah kenapa, sih? Apa lo nggak bisa, bersikap lebih ramah dikit sama orang?”


“Eh, suka-suka gue ya, gue mau gimana ngomong sama orang. Ya udah, ayo cepetan! Ikut gue ke toko buku!”


“Nggg…tunggu Raf!” Melani memegang tangan Rafa, mencegahnya untuk tidak pergi dulu.

__ADS_1


“Apa lagi?”


“Raf, gue boleh izin nggak hari ini? Gue mau keluar sama temen.” Melani teringat tentang ajakan Kevin tadi pagi untuk keluar bareng.


“Minta izin? Mau keluar sama temen?”


Melani manggut-manggut. Dia tahu kemungkinannya sangat kecil untuk Rafa memberinya izin, tapi nggak ada salahnya kan dicoba. Siapa tahu Rafa tiba-tiba baik terus ngasih dia izin.


“Nggak boleh.”


“Apa???”


“Baru juga sehari kerja, lo udah minta izin? Lo lupa sama perjanjian nomor lima?”


Melani cemberut. Sudah diduga, Rafa pasti akan mengungkit-ungkit tentang perjanjian itu. Melani sendiri lupa apa isi perjanjian nomor lima itu? Abis banyak banget perjanjiannya.


“Pada waste sedang bekerja, asisten dilarang pergi dengan siapapun, tanpa seizin bos.” Rafa mengingatkan tentang salah satu isi dari perjanjian.”Dan gue nggak izinin lo buat pergi.”


“Tapi, Raf…”


“Nggak ada tapi-tapian. Sekarang lo tinggal pilih, mau ikut gue ke toko buku atau gue pecat?”

__ADS_1


TBC


__ADS_2