
Rafa pergi ke kafe kampus untuk makan siang dulu sebelum pulang. Saat membuka daftar menu, Rafa kaget melihat tulisan yang nggak seharusnya ada di daftar menu itu. Yaitu tulisan “MAAFKAN SAYA, BOS!”.
Rafa menutup daftar menunya dan meletakkan di meja dengan kasar.
“Tuh cewek bener-bener gila, ya!” Rafa nggak sengaja melihat ke suatu arah, dan lagi-lagi dia melihat Melani memegang kertas di atas kepala dengan tulisan “I’M SORRY, BOS!”
Melihatnya, Rafa jadi nggak napsu makan. Dia beranjak dari tempat duduknya, berjalan keluar kafe.
Rafa berjalan di antara keumunan mahasiswa, menuju tempat parkir mobilnya. Dia melihat tulisan ditempelkan di punggung seseorang yang berjalan di depannya “SAYA MINTA MAAF, BOS!”. Rafa jadi makin jengkel saja. Dia membelok ke tempat lain, bermaksud menghindar supaya nggak melihat tulisan-tulisan itu lagi. Tapi justru Rafa melihat tulisan seperti itu lagi menempel di tong sampah yang ada di dekat kantin Bi Ijah “MAAFKAN SAYA, BOS!
Rafa pun menyerah dan segera pergi ke tempat parkir. Rafa berdiri di sebelah mobil merahnya.
“Aduh, gila banget tuh cewek! Bisa-bisanya dia masang tulisan-tulisan itu dimana-mana?” mata Rafa tertuju pada kaca jendela mobilnya, di situ tertempel tulisan “MAAFKAN SAYA DONG, BOS!”.
“Lama-lama bisa gila nih, gue!”
“Raf!” panggil Melani.
Rafa menoleh, Melani berjelan ke arahnya dengan membawa kertas bertuliskan “I’M SORRY, BOS!”di atas kepalanya. Rafa lagi-lagi menyerah, dia sudah cukup pusing dengan semua ulah Melani hari ini.
“Eh, lo tuh ngapain sih, nempelin kertas-kertas kayak gitu dimana-mana?” semprot Rafa,”Maksud lo apa? Mau bikin gue malu?”
“Ngapian malu? Kan nggak ada nama lo?”
“Sama aja. Bikin gue nggak nyaman.”
Melani merengut,”Ya, makanya maafin gue dong, Raf! Mau dapet maaf dari lo aja kok lebih susah daripada tes masuk perguruan tinggi?”
__ADS_1
“…”
“Gue janji deh, nggak bakal ngulangin kesalahan gue lagi! Gue akan patuh pada peraturan bos.”
“Bener?” tanya Rafa nggak yakin.
Melani mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat,”Iya, iya, gue janji, suer, deh!” Melani mengangkat jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya di samping telinga.
“…”
“Jadi lo mau maafin gue apa enggak?”
“Oke deh, gue maafin lo.”
Melani menghembuskan napas lega,”Hhh…akhirnya dimaafin juga. Capek gue!”
“Apa? Apa maksud lo?” Melani nggak ngerti.
“Gue cuma mau ngasih pelajaran aja sama lo, biar lo nggak semena-mena lagi, seenaknya aja pergi nggak minta izin!”
“Apa? Jadi maksud lo, lo cuma mainin gue?” Melani sedikit emosi.
“Gue nggak pernah mainin lo. Sebenernya gue juga marah sih, dikit. Dan ternyata kayaknya lo takut banget kalau gue marah?” ujar Rafa tenang, tanpa melihat Melani.
Melani jengkel banget sama cowok di depannya itu. Dia sudah susah payah untuk minta maaf sejak tadi pagi, nggak tahunya semuanya cuma rencana Rafa buat ngerjain dia,”Eh, lo kurang kerjaan banget, sih? Ngapain lo ngerjain gue kayak gini? Apa tujuan lo? Kayaknya lo tuh seneng banget kalau ngerjain gue?”
“Ya terserah gue, dong. Gue kan bos.”
__ADS_1
Melani memukul-mukul Rafa, sebal,”Bas bos, bas bos? Lo pikir dengan lo jadi bos gue, lo bisa seenaknya ngerjain gue?”
“Eh, aduh, aduh! Apaan sih lo mukul-mukul gue? Baru juga dimaafin, udah bikin masalah lagi?”
“Terserah gue! Kalau gue lagi marah, suka-suka gue dong, mau ngapain? Emang kenapa? Lo mau apa?” Melani mendekatkan wajahnya ke wajah Rafa sambil marah-marah.
Rafa mengusap wajanya dan mendorong Melani menjauh darinya,”Eh, lo kalau ngomong nggak usah deket-deket gue, kek! Muncrat, nih. Muncrat!”
Melani merengut,”Ya, abis lo nyebelin, sih.”
“Jadi gimana, nih? Jadi minta maaf sama gue apa enggak?” Rafa meradang.
“Nggak jadi! Terserah lo mau marah apa enggak, gue udah nggak peduli. Bodo!” Melani berbalik.
“Eit, tunggu dulu!” Rafa memegang tangan Melani.
“Apa lagi?” Melani nggak sabar.
“Lo nggak takut bokap lo kehilangan pekerjaan?”
“Apa? Apa maksud lo?”
“Lo minta maaf sama gue, atau bokap lo gue pecat?”
“Jadi lo ngancem gue?”
TBC
__ADS_1