My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
85


__ADS_3

“Lo lagi ngelihatin apaan, sih? Kok gue dateng lo sampe kaget gitu?” Kevin celingukan mencari-cari objek yang mungkin sedang diamati oleh Melani. Tapi dia tidak menemukan sesuatu yang menarik di situ.


“Oh…gue nggak lagi ngelihatin apa-apa, kok. Gue cuma kaget aja, tiba-tiba lo ada di sini!” Melani menutup-nutupi apa yang membuatnya sangat nggak nyaman saat ini.


“Iya, sorry. Kalau gue bikin lo kaget, Mel.” Kevin merasa nggak enak,”Tadi itu maksudnya gue mau nyamperi lo. Eh, tiba-tiba aja lo balikin badan ke belakang?!”


“Iya, nggak apa-apa. Itu bukan salah lo, kok.”


Melani tersenyum, padahal pikirannya masih terus tertuju pada Rafa dan Cyntia. Melani sangat ingin tahu, mereka mau kemana dan membicarakan apa. Biarpun itu bukan urusan Melani, tapi nggak tahu kenapa Melani begitu ingin tahu? Mungkin memang sedikit egois bagi Melani, tapi jujur Melani sangat takut kalau Rafa dan Cyntia pacaran lagi.


“Tuh kan, bengong lagi?”


Melani kaget,”Eh?”


“Lo lagi ada masalah ya, Mel?” Kevin cemas.


Melani tersenyum dan geleng-geleng kepala,”Enggak, kok. Gue nggak ada masalah apa-apa. Mungkin karena gue laper aja kali, ya?” Melani memegangi perutnya yang sama sekali nggak lapar itu, mencari-cari alasan.


“Kalau lo laper, mendingan kita makan aja di kantinnya Bi Ijah. Gimana?”


“Iya, deh.”


***


Tempat yang dipilih Cyntia untuk bicara empat mata dengan Rafa adalah atap gedung sebuah bangunan tua yang sudah tidak berpenghuni lagi. Mereka harus bersusah payah menaiki satu per satu anak tangga supaya bisa sampai di atap gedung berlantai 15 itu. Di tempat itu juga, dulu Rafa pernah mengajak Cyntia untuk pacaran, karenanya tempat itu sangat berarti untuk Cyntia. Tempat itu menyimpan kenangan terindah untuk Cyntia. Untuk beberapa menit, Cyntia seperti melihat bayangan dirinya bersama Rafa waktu mereka baru saja jadian. Cyntia tersenyum bahagia. Namun bayangan itu menghilang setelah Cyntia ingat kalau Rafa sudah memutuskan hubungan dengannya.


Cyntia sedih karena Rafa sudah tidak menjadi miliknya lagi.


Rafa berjalan menuju tepi gedung dengan kedua tangan di dalam saku celananya. Pandangannya jauh ke depan, melihat kota Jakarta yang penuh dengan bangunan-bangunan tinggi dan kemacetan lalu lintas. Semilir angin segar menerpa tubuhnya dan menggerak-gerakkan poninya.

__ADS_1


Cyntia menyejajarkan posisinya di samping Rafa. Diam-diam memperhatikan Rafa yang kelihatannya tetap dingin padanya. Cyntia tahu, Rafa sengaja diam untuk menunggu Cyntia duluan yang memulai pembicaraan. Namun mulut Cyntia serasa terkunci rapat, tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Cyntia kembali menoleh ke Rafa. Melihat Rafa dengan jarak sedekat ini semakin membuatnya tidak rela untuk melepaskan sesoerang yang sangat dicintainya itu.


“Nggg…Raf…”


“…”


“Aku tahu, sekarang kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Tapi, aku boleh tanya sesuatu ke kamu?”


“Apa?”


Cyntia menghela napas panjang,”Apa kamu pernah cinta sama aku?”


“…”


“Raf, kali ini tolong kamu jawab dengan jujur! Aku pengen denger sendiri dari kamu. Apa kamu pernah cinta atau sekedar suka sama aku?"


“…"


“Aku tahu, aku sudah keterlaluan sama Melani, dan aku akan minta maaf sama dia.”


“Ini nggak ada hubungannya sama Melani.”


“…”


“Masalah minta maaf ke Melani, itu memang harus lo lakukan!”


Cyntia menunduk,”Iya, Raf. Aku janji, aku akan minta maaf sama Melani secepatnya. Tapi, apa Melani mau maafin aku?”


“Melani bukan tipe orang pendendam. Meskipun lo udah bikin dia hampir celaka, dia nggak pernah nyalahin lo. Tanpa lo minta maaf pun, gue rasa Melani udah maafin lo, kok. Tinggal lo nya aja sekarang yang musti introspeksi diri. Apa pantes lo dimaafin tanpa minta maaf, setelah apa yang udah lo lakuin ke dia?”

__ADS_1


“Iya, Raf. Aku akan minta maaf sama dia,” sebenarnya sudah dari dulu Cyntia ingin minta maaf pada Melani, tapi dia khawatir Melani nggak akan mau memaafkan dia sehingga Rafa akan semakin marah padanya. Dengan Rafa memutuskan hubungan dengannya saja, itu sudah membuat Cyntia nggak tenang sepanjang hari, dan dia belum siap untuk mendapat masalah yang lain lagi.


“Kalau udah nggak ada lagi yang mau dibicarain, mendingan kita balik sekarang!” Rafa membalikkan badannya dan melewati Cyntia.


“Tunggu, Raf!” Cyntia mengejar Rafa. Dia berhasil memegang tangan Rafa.


Rafa menoleh,”Ada apa?”


Cyntai nampak gugup sekali berhadapan dengan Rafa, dia ingin mengatakan sesuatu tapi takut Rafa akan menolak permintaannya,”Raf…aku…aku nggak apa-apa kalau memang kamu nggak mau jujur tentang perasaan kamu ke aku. Aku kira, tanpa kamu bilangpun aku udah tahu apa jawaban kamu.”


“…”


“Aku nggak akan maksa kamu lagi untuk mencintai aku, dan aku juga nggak akan ganggu kehidupan kamu lagi.”


“…”


“Tapi…apa aku boleh minta satu hal sama kamu?”


“Apa?"


Cyntia memandang wajah Rafa,”Peluk aku, Raf!”


“…”


“Peluk aku untuk terakhir kalinya!” pinta Cyntia dengan air mata yang berkumpul di pelupuk matanya,”Aku cuma pengen ngerasain berada dalam pelukan kamu untuk terakhir kalinya, sebelum aku benar-benar akan melepaskan kamu.”


“…”


“Peluk aku, Raf! Peluk aku sekarang!”

__ADS_1


TBC


__ADS_2