
“Aduh!” Rafa jatuh tertimpa tubuh Melani. Kedua mata mereka saling beradu pandang, dan jantung keduanya berdetak sangat cepat. Melani nggak menyangka, kalau kejadian ini akan terulang lagi. Cuma bedanya, sekarang Melani nggak merasa kesakitan karena tubuhnya tertimpa Rafa, justru sebaliknya.
Rafa mendorong-dorong tubuh Melani,”Aduh, apa-apaan sih, lo? Minggir-minggir!”
Melani pun tersadar dan buru-buru berdiri, begitu juga dengan Rafa. Mereka membersihkan bajunya yang kotor kena pasir pantai.
“Eh, lo kenapa sih? Tadi pake nubruk-nubruk gue segala? Lo pikir nggak sakit, apa?” Rafa marah-marah.
“Ya maaf Raf. Gue nggak sengaja.”
“Maaf-maaf aja? Dari dulu sukanya nyari-nyari kesempatan aja lo?”
“Enak aja?! Siapa yang nyari kesempatan? Ge-er banget lo?”
“Elo, kan!”
“Eh, mana ada cewek yang nyari kesempatan duluan? Lo tuh yang nyari-nyari kesempatan!” Melani nggak mau disalahkan.
“Udah jelas-jelas lo yang selalu narik-narik gue sampe gue jatuh? Masih aja, nggak mau disalahin?”
Melani merasa bersalah. Apa yang dikatakan Rafa memang benar semuanya. Dulu memang Melani juga yang menyebabkan Rafa jatuh sampai menurbuk dia. Dan sekarang, gara-gara Melani juga Rafa menjadi bantalan empuknya.
“Sebenernya kenapa sih, lo? Tadi narik-narik baju gue segala?”
“Iya, iya, maaf. Gue ngaku deh, kalau gue yang salah. Tapi gue bener-bener nggak sengaja, Raf. Gue juga nggak tahu, kok gue selalu kepeleset kalau mau turun dari batu karang itu?”
“Emang lo-nya aja yang ceroboh! Makanya jadi cewek itu yang lembut, kalem…jangan sradak-sruduk kayak banteng begitu!”
“Jadi maksud lo gue banteng gitu?”
“Iya. Lo banteng, sukanya nyeruduk-nyeruduk orang sembarangan!”
__ADS_1
“Kalau gue banteng beneran, lo orang pertama yang bakalan gue seruduk!” Melani kesal.
“Kenapa?” Rafa pura-pura ingin tahu.
“Soalnya lo tuh rese, nyebelin, bikin dongkol, judes, galak, dan lain-lain.”
“Jadi lo mau nyeruduk gue?”
“Iya.”
“Ayo, coba aja seruduk gue kalau berani!” Rafa menantang.
“Lo nantangin gue, ya?” Melani menjejakkan kakinya ke tanah beberapa kali dan pasang kuda-kuda untuk siap menyeruduk Rafa dengan kepalanya,”Rasakan serudukan banteng Melani! Hyyyaaaaa….!!!” Melani berlari ke arah Rafa.
Rafa langsung kabru saat Melani berlari ke arahnya. Dia nggak menduga sebelumnya kalau Melani akan menyeruduknya layaknya seorang banteng, tapi Rafa sudah siap-siap untuk kabur jadi nggak terlalu kaget saat Melani menyeruduknya.
“Hoi, Bos yang di sana! Rasain nih, serudukan banteng paling cantik sedunia!”
Rafa tertawa melihat tingkah polah Melani yang gokil itu. Dia terus berlari menghindari amukan Melani. Melani pun mulai menikmati acara kejar-kejarannya dengan Rafa. Mereka tertawa berdua sambil berlarian di pinggir pantai. Suara tawa-canda mereka dilatar belakangi dengan suara deburan ombak yang terus datang. Biarpun hari sudah semakin siang dan matahari terus meninggi, Rafa dan Melani masih melanjutkan acara kejar-kejarannya.
“Ayo dong, Raf! Jalannya cepetan dikit! Gue udah kelaperan, nih. Capek, tadi udah lari-larian nyeruduk lo!” Melani memukul-mukul pantat Rafa.
“Eh, jangan pukul-pukul pantat gue! Lo pikir gue kuda, apa?”
“Abisnya lo jalannya lama banget? Laper nih, gue!”
“Lagian nggak ada yang nyuruh lo kan, buat lari-larian ngejar-ngejar gue? Giliran udah capek gini aja, lo minta gendong?”
Melani merengut,”Iya, maaf."
“Maaf-maaf aja bisanya? Sekarang turun, dong! Capek nih, gue. Mana badan lo berat banget, lagi!”
__ADS_1
“Nggak mau!” Melani melingkarkan lengannya ke leher Rafa, memeluknya,”Gue kan capek, Raf. Kaki gue udah pegel-pegel, nih. Masa gue musti jalan sendiri?"
“Ya jalan sendiri, dong! Lo kan punya kaki. Lo pikir cuma lo doang yang capek? Gue juga capek, nih. Malahan dua kali lipet capeknya, dibanding lo!” Rafa ngomel-ngomel,”Udah capek lo kejar-kejar, lo pukul-pukul, lo seruduk-seruduk, eh…sekarang masih disuruh gendong karung beras?”
Melani menjitak kepala Rafa,”Huuu…enak aja?!”
“Abis lo berat banget gini? Sehari lo makan berapa kali, sih?” Rafa terheran-heran,”Cewek kok berat banget kayak gini?”
“Ya tiga kali lah. Tapi porsinya agak banyakan dikit. Hehehe…” Melani nyengir biarpun Rafa nggak bisa melihatnya.
“Pantesan. Berat banget?”
“Tapi Raf, emangnya penting ya, gue ini gendut apa enggak?” Melani pengen tahu.
“Kenapa lo tanya gitu?"
“Ya pengen tahu aja. Kalau kebanyakan cowok kan, sukanya sama cewek yang seksi, langsing, cantik, terus menarik. Lha, kalau lo sama kayak cowok-cowok yang lain nggak?” di dalam hatinya, Melani berharap Rafa akan mengatakan kalau dia nggak sama dengan cowok-cowok yang lain.
“Emangnya penting ya, jawaban gue buat lo?”
“Kalau nggak penting, ngapain gue nanya?”
“Ntar kalau lo sampe rumah, lo berdiri aja di depan cermin! Lo lihatin diri lo sendiri! Nah, itu jawaban gue!” ujar Rafa datar.
“Apa?” Melani kaget dengan jawaban Rafa. Secara tidak langsung, Rafa mengatakan kalau Rafa suka tipe cewek seperti Melani. Hati Melani sungguh bahagia, dan rasanya kebahagiaan itu nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Meskipun Rafa tidak mengatakannya secara langsung, tapi Melani senang jawaban Rafa sangat sesuai dengan harapannya. Melani terus memeluk Rafa dengan menyandarkan kepalanya di bahu Rafa.
Tanpa diketahui Melani, Rafa juga tersenyum. Sebuah senyuman bahagia yang selama lebih dari lima tahun ini tidak pernah didapatkannya. Sebuah senyuman yang hanya bisa dilakukannya jika dia bersama Melani.
Aku tidak tahu takdir apa yang mempermainkan kita sampai seperti ini, Raf. Aku tidak tahu Tuhan punya rencana apa dibalik semua kesedihan dan perpisahan yang pernah kita alami. Tapi apapun itu, aku yakin kalau Tuhan pasti akan memberikan kita kebahagiaan…sekarang, nanti, atau selamanya. Aku berharap kebahagiaan itu akan terus berada di pihak kita. Kebahagiaan yang tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Seperti hari ini Tuhan sudah menunjukkan kuasaNya dengan mempertemukan kita kembali setelah sekian lama.
__ADS_1
Aku bahagia Rafa…Tapi dibalik kebahagiaan yang aku rasakan ini, entah kenapa aku merasa bahwa kebahagiaan aku hari ini tidak akan berlangsung lama. Sama persis seperti lima tahun silam ketika kamu tiba-tiba meninggalkan aku. Aku tidak tahu akan ada kejadian apa, tapi aku berharap perasaanku ini salah.
TBC