My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
64


__ADS_3

Rafa berdiri di dekat mereka dengan membawa sebuah kayu besar di tangannya yang tadi dipakainya untuk memukul preman,”Lepasin dia!” Rafa langsung galak.


Si preman yang memegang tangan Melani, segera saja melepaskannya dengan wajah marah memandang Rafa. Melani berlari dan berlindung di belakang tubuh Rafa. Dia tampak sangat ketakutan sekali dengan kejadian yang baru dialaminya. Preman yang jatuh tadi memegangi lehernya yang sakit akibat dipukul Rafa. Dia bergabung dengan temanya untuk melawan Rafa.


“Eh, kurang ajar lo berani-beraninya mukul gue!”


“Udah, hajar aja dia!” usul preman satunya.


Rafa pun berkelahi dengan kedua preman itu. Melani menjauh dari mereka, takut kena pukul.


Setelah perkelahian yang cukup lama, akhirnya Rafa berhasil membuat kedua preman itu babak belur sehingga lari tunggang langgang. Melani baru tahu kalau ternyata Rafa pandai juga dalam hal berkelahi.


“Rafa!” Melani berlari menghampiri Rafa,”Raf, lo nggak apa-apa, kan!” Melani cemas melihat sudut bibir Rafa berdarah,”Lo berdarah, Raf?”


Rafa mengusap darah di bibirnya,”Lo nggak apa-apa kan, Mel?”


“Gue nggak apa-apa, kok. Sekarang malah lo yang babak belur. Makasih ya, Raf. Lo udah nolongin gue!” Melani merasa sangat berhutang budi pada Rafa. Kalau aja Rafa nggak datang, pasti dia sudah dibawa preman-preman tadi.

__ADS_1


“Lo ngapain sih, malem-malem di jalanan kayak gini? Kurang kerjaan banget jadi cewek?” Rafa malah marah-marah.


“Nggg…gue…” sebelum Melani melanjutkan kalimatnya, HP nya berdering,”Halo…?”


“Mel, lo dimana, sih? Lama banget nyampenya?”


“Iya, ini…gue masih di jalan, Cyn.”


Rafa mengernyitkan alisnya mendengar Melani menyebut nama ‘Cyn’, apa yang dimaksud Melani itu adalah Cyntia. Kalau memang benar itu dari Cyntia, ngapain dia malam-malam telepon Melani? Karena penasaran, Rafa merebut HP yang dipegang Melani dan mendengarkan suara orang yang menelepon. Melani nggak sempat mencegahnya, bahkan dia juga jadinya nggak bisa ngomong apa-apa.


“Gue kan nyuruh lo buat dateng ke sini, Mel. Lo lama banget sih, gitu aja? Lo kan asisten gue juga, jadi lo juga musti patuhin perintah gue dong, Mel! Masa disuruh dateng ke rumah gue aja lama banget?” Cyntia terus nyerocos tanpa tahu apa yang baru saja dialami Melani, dan juga belum menyadari kalau yang mendengarkan suaranya di ujung sana adalah Rafa.


“Mel, kok lo diem aja, sih? Becus kerja nggak sih, lo?” Cyntia kesal karena Melani nggak memberi jawaban apa-apa,”Gue pecat jadi asistennya Rafa baru tahu rasa lo!”


“Lo mau pecat Melani?”


Jantung Cyntia berdegup kencang mendengar suara Rafa. Cyntia bingung, kok tiba-tiba Rafa ada di sana sama Melani, sih? Berarti tadi yang mendengarkan ucapannya adalah Rafa, bukan Melani. Cyntia jadi gugup, Rafa sudah tahu semuanya.

__ADS_1


“R-Rafa?”


“…”


“Raf, Raf tolong kamu jangan salah paham dulu! Aku bisa jelasin semuanya!” Cyntia kebingungan sendiri, dia benar-benar takut Rafa akan marah padanya.


“…”


“Raf, aku minta kamu jangan marah, ya! Aku bisa jelasin semuanya kok. Ya?”


“Kita bicara besok di kampus.” Rafa menon-aktifkan HP Melani. Wajahnya terlihat marah sekali.


“Raf, kok HP nya dimatiin, sih?” Melani bingung.


“Ayo pulang! Gue anter!””


Cyntia sedang kalang kabut sendiri di rumahnya. Dia mondar-mandir di kamar sambil terus menghubungi Rafa, tapi HP Rafa masih tetap belum aktif dari tadi, sementara HP Melani juga nggak aktif karena dimatikan oleh Rafa. Cyntia jadi panik karena di atahu Rafa pasti akan marah banget padanya.

__ADS_1


“Duuuhhh…kok bisa kayak gini, sih? Si Rafa juga, tiba-tiba ngapain ada di sana sama Melani? Pasti Melani bakalan cerita-cerita deh, sama Rafa! Aduh…mampus gue! Besok Rafa pasti bakalan ngamuk-ngamuk sama gue?” Cyntia menjatuhkan dirinya di tempat tidur,”Gimana dong, nih? Malah HP mereka berdua nggak bisa dihubungi, lagi?”


TBC


__ADS_2