My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
28


__ADS_3

Melani menjatuhkan tubunya di tempat tidur setelah pulang dari mal bersama Rafa dan Cyntia. Melani lelah sekali. Lelah fisik, lelah pikiran…soalnya Rafa tetap nggak ada henti-hentinya bikin dia kesel dan marah.


“Ya ampun, gue capek banget hari ini. Kira-kira apa lagi ya, yang bakalan terjadi sama gue besok?”


HP Melani berbunyi.


“Aduh, apaan lagi sih nih?” Melani menerima telepon dengan malas dan mata terpejam,”Halohhh…?”


“Halo, Mel? Lo lagi sibuk nggak? Malam ini lo ada acara apa enggak?” tanya Anthony di ujung telepon.


“Nggak ada acara. Emang kenapa?” Melani malas.


“Ntar malem kita keluar nonton, yuk! Ada film yang bagus lho, di bioskop. Terus setelah itu, gue traktir makan malam, deh. Lo mau makan dimana, pasti gue temenin.” Anthony menggebu-begu.


“Aduh, sorry banget, Thon. Hari ini gue capek banget, gue lagi males kemana-mana,” suara Melani terdengar sangat menyesal, padahal aslinya dia memang malas keluar sama Anthony.


Anthony tampak kecewa,”Lho? Kok males gimana, Mel?”


“Gue capek banget, Thon. Lain kali aja, ya?” Melani berharap lain kali Anthony nggak akan lagi mengajaknya keluar.


“Padahal gue pengen banget malam ini keluar sama lo, Mel. Emangnya tadi lo ngapain aja sih, seharian? Kok sampe kecapekan gitu?”


“Ya ada deh, pokoknya.” Melani sengaja nggak mau mengaku kalau dia kerja jadi asisten pribadinya Rafa.


“Masa lo nggak mau cerita sama gue sih, Mel? Kalau lo ada masalah, cerita dong sama gue! Siapa tahu gue bisa bantu lo?” Anthony menawari.

__ADS_1


“Nggak apa-apa, kok. Gue nggak ada masalah apa-apa. Makasih udah mau bantuin,” nggak tahu kenapa Melani merasa lebih nyaman dimarah-marahin dan dikerjain sama Rafa daripada terus berurusan dengan Anthony.


“Oh gitu ya?” Anthony kecewa keran Melani nggak mau terbuka sama dia.


“Thon, udah dulu ya? Gue mau mandi, nih.”


“Ya udah. Tapi lain kali lo pasti bisa kan, nonton sama gue?”


“Ya gue usahain, deh. Daaaa…!!!” Melani melempar HP nya ke sampingnya,”Hhh…ampun, deh! Si Anthony masih aja nggak nyerah buat ngedeketin gue? Mau sampai kapan gue kayak gini terus?” Melani pusing,”Kapan Anthony tuh bisa ngertiin gue, kalau gue tuh nggak mungkin bisa suka sama dia?”


Melani duduk dan menerawang ke langit-langit kamarnya sepertinya melihat wajah seseorang di sana,”Sampai kapan gue musti kayak gini terus?”


***


Melani berjalan di serambi kampus dengan langkah santai. Lalu dia nggak sengaja bertemu dengan Kevin di belokan. Kevin tampak sedang asyik mendengarkan musik di i-Pod nya dengan earphone. Begitu melihat Melani, Kevin melepas earphone nya.


“Hai, Vin! Lagi asyik kayaknya?”


“Iya nih. Biasa, lagi dengerin musik biar nggak bosen. Soalnya suasana kampus tiap hari cuma gini-gini doang, sih. Nggak ada yang menarik.” Kevin nyengir.


Melani tertawa,”Kevin, Kevin? Yang namanya kampus itu dimana-mana juga pasti Cuma kayak gini doang. Emangnya musti ada panggung gembira gitu?”


Kevin ikutan tertawa,”Ya makanya itu. Suasananya bikin bosen. Eh, jalan bareng yuk!”


Melani mengangguk,”Oke!” mereka jalan santai berdua sambil ngobrol seadanya.

__ADS_1


“Nggg…Mel. Gue denger dari Cyntia, katanya lo sekarang jadi asisten pribadinya Rafa, ya?”


Melani kaget, Kevin tiba-tiba membahas soal itu. Tapi ya wajarlah kalau Kevin tahu dari Cyntia. Mereka kan emang sahabat dekat,”Nggg…iya, sih. Kenapa?”


“Nggak apa-apa. Cuma kata Cyntia, Rafa udah bikin lo kesel ya, kemaren?”


“Ya, gitu deh.”


“Lo yang sabar aja ya, Mel! Rafa itu orangnya emang kayak gitu. Buat gue, bukan Rafa namanya kalau nggak bisa bikin kesel orang.”


Melani hanya tersenyum, sependapat dengan ucapan Kevin. Emang si Rafa itu kayaknya nggak bakalan puas kalau belum berhasil bikin orang gondok seharian.


“Gue yakin, lama-lama ntar lo juga terbiasa kok, sama semua sifatnya Rafa.”


Hah? Terbiasa? Terbiasa gimana maksudnya? Terbiasa buat dimarah-marahin dan dikerjain sama Rafa? Ih, nih cowok kok semakin di belakang nyebelin juga ternyata? Pikir Melani.


“Kenapa bengong?” tanya Kevin.


Melani kaget,”Oh, nggak apa-apa kok.”


“Gue nggak salah ngomong, kan?!” Kevin mengernyitkan alisnya, curiga.


“Enggak, kok. Enggak. Nggak ada yang salah.” Melani nyengir. Nggak mungkin kan dia terus terang soal penilaiannya tentang Kevin pada orangnya sendiri.


“Oh…”

__ADS_1


TBC


__ADS_2