
Rafa tetap berjalan santai dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana,”Gue ini bos lo. Inget! Masa bos suruh bantuin asistennya?”
“Iya, tapi kan…aduh sorry ya, gue nggak sengaja.”
Melani nggak sengaja menabrak orang dan buku-buku yang dibawanya jatuh semua. Dia pun sibuk memunguti buku-bukunya dengan dibantu orang yang ditabraknya.
Rafa menoleh ke belakang,”Eh, lo lama banget sih, jalannya? Cepet sedikit bisa nggak sih?”
“Ah, bawel banget sih lo? Nggak lihat nih, gue kerepotan gini?”
“Udah, cepetan jalan!!!!!” Rafa berbalik dan kembali berjalan dengan santai. Melani mengejar di belakang sambil ngomel-ngomel nggak jelas.
“Hai, Raf!” Cyntia menyapa Rafa dengan ciuman manis di pipi Rafa.
“Hai.”
“Kamu lama banget sih, datangnya? Aku udah nungguin kamu dari tadi, lho. Aku pikir kamu kemana?”
“Nggak kemana-mana.” Rafa memang datang agak siang karena tadi ke rumah Melani dulu untuk menjemput Melani.
Cyntia heran melihat Melani berdiri di belakang Rafa dengan membawa setumpuk buku dan jaket Rafa. Melani tersenyum ramah pada Cyntia,”Lho? Hari ini kamu berangkat sama Melani?”
“Iya. Mulai hari ini Melani kerja jadi asisten pribadi gue, dan kemanapun gue pergi dia musti ikut.”
__ADS_1
Cyntia kaget,”Hah? Asisten pribadi?” Cyntia memandang Rafa dan Melani secara bergantian, tampak terheran-heran,”Kok bisa sih?”
“Udahlah, itu nggak penting buat dibahas!” ujar Rafa,”Lo nggak keberatan kan, kalau gue punya asisten pribadi?”
“Ya enggaklah, Raf. Buat apa aku keberatan?” Cyntia pengertian,”Tapi Raf, apa kamu nggak kelewatan tuh, nyuruh Melani bawa buku sebanyak itu?” Cyntia sedikit prihatin melihat Melani repot membawa setumpuk buku dan kayaknya berat banget.
“Nggak apa-apa, itu kan emang tugas dia. Yuk!”
Rafa jalan duluan yang kemudian disusul oleh Cyntia yang kelihatannya masih sedikit prihatin dengan Melani.
“Dasar cowok gila! Malah asyik pacaran sementara gue kerepotan begini, bawain barang-barang dia!” gerutu Melani.
“Eh, Aisten! Ngapain lo malah bengong aja di situ? Cepetan bawa buku-bukunya ke sini!” Rafa memanggilnya setelah tahu Melani nggak mengikutinya.
“Inget ya? Gue ini bos lo!”
“Iya, iya, gue juga nggak bilang kalau lo itu om gue!” Melani sebal.
Cyntia menahan tawa mendengar ucapan Melani. Soalnya jujur saja, baru kali ini dia melihat ada bawahan yang berani sama bosnya.
*
“WHATTTTT????” Diandra kelihatan shock sekali,”Lo kerja jadi asisten pribadinya Rafa???”
__ADS_1
Melani menyantap baksonya dengan perasaan dongkol abis, waktu itu dia dan Diandra sedang makan siang di kantin,”Iya, udah gitu tuh cowok rese banget, lagi. Masa belum apa-apa, dia udah nyuruh gue buat tanda tangan surat perjanjian yang isinya tuh bener-bener nggak masuh akal banget. Siapa coba yang nggak dongkol? Terus tanda tangannya di atas materai lagi? Emang dia pikir gue ini buronan, apa?”
“Tapi Mel, lo kok bisa sampai kerja sama Rafa, sih?” Diandra masih bingung. Setahu Diandra, Melani ini adalah satu-satunya cewek di kampus itu yang paling nggak tertarik dengan Rafa, tapi kok malah jadi asisten pribadinya?
“Ceritanya panjang, Di. Ntar deh, gue ceritan sedetail-detailnya ke lo. Yang jelas, sekarang gue tuh lagi kesel banget sama tuh cowok. Kayaknya gue bakalan dikerjain habis-habisan deh selama jadi asisten dia?” Melani menggigit baksonya dengan perasaan kesal, lalu meneguk segelas air mineral.
“Tapi emangnya si Cyntia nggak cemburu gitu, sama lo?”
“Kayaknya sih enggak. Tadi pagi gue juga udah ketemu sama dia, dan kayaknya dia nggak keberatan gue jadi asisten pribadi cowoknya? Cyntia itu tipe pacar yang pengertian, ya? Gue aja heran, kok dia bisa tahan pacaran sama cowok dingin dan ngeselin kayak si Rafa itu?”
Diandra menggigit sepotong roti bungkus,”Ya, namanya juga udah cinta, Mel. Gimanapun sifat cowoknya, Cyntia udah pasti tahan lah.”
“Dunia emang udah gila gara-gara cinta.”
HP Melani bergetar, ada 1 pesan masuk.
Asisten, anterin jus alpukat dingin ke kelas gue sekarang.
Minuman yang diminum Melani menyembur keluar karena kaget membaca SMS dari Rafa.
“Lo kenapa, Mel? Kok minuman disembur-semburin gitu?” Diandra bingung.
TBC
__ADS_1