
“Vin!” Rafa membalikkan badannya, kini mereka berdua bertatap muka,”Kalau lo emang cinta sama Cyntia, lo care sama dia, mustinya dari dulu lo nggak pernah ngelakuin ini sama dia. Mustinya lo bilang ke dia kalau lo cinta sama dia. Bukannya malah nyuruh gue buat jadian sama dia!”
“…”
“Gue udah berusaha buat bisa cinta sama Cyntia. Gue udah berusaha keras, tapi apa? Gue tetep nggak bisa. Daripada Cyntia sakit hati terus, mendingan gue lepasin dia aja. Dan lo bisa gantiin posisi gue buat jadi pacarnya.” Rafa berjalan melewati Kevin, membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin.
“Raf…” Kevin masih belum bisa menerima,”Gue tahu cinta itu nggak bisa dipaksain, tapi apa lo nggak bisa ngasih kesempatan lagi buat Cyntia? Gue tahu, Cyntia itu beneran cinta sama lo, Raf. Dia itu nggak cuma terobsesi doang, tapi dia juga cinta sama lo.”
“Mungkin lo bener. Mungkin Cyntia emang cinta sama seseorang, tapi orang itu bukan gue. Orang yang dicintai Cyntia itu seharusnya bisa ngerasain cinta di hatinya Cyntia. Dan orang itu adalah lo.”
“…”
“Kalau lo emang cinta sama Cyntia, lo perjuangin dong cinta lo! Bukannya malah nyuruh gue buat jadian sama dia!”
“…”
“Sekarang lo lihat sendiri kan, gimana hubungan gue sama Cyntia? Gagal. Karena apa? Karena gue nggak cinta sama dia, dan nggak akan pernah bisa cinta sama dia. Gue cuma nganggep dia sebagai sahabat gue.” Rafa kembali berjalan melewati Kevin, kali ini menuju lemari buku yang ada di sebelah meja belajarnya.
“Apa lo suka sama Melani?”
__ADS_1
Deg! Jantung Rafa tiba-tiba serasa berhenti berdetak. Dia nggak pernah berpikir, Kevin akan menanyakan itu padanya.
“Apa karena Melani, lo nggak bisa mencintai Cyntia?”
“Udah gue bilang kan, kalau ini nggak ada hubungannya sama Melani. Jangan bawa-bawa dia ke dalam masalah ini!” Rafa membuka sebuah novel dengan posisi tetap membelakangi Kevin.
“…”
“Sorry. Gue lagi nggak pengen diganggu. Lo bisa kan, keluar sekarang?” pinta Rafa.
***
“Jadi Rafa sama Cyntia udah putus?”
Kevin mengangguk.
“Gue jadi ngerasa bersalah nih, sama mereka, Vin. Pasti gara-gara gue deh, mereka putus.”
“Bukan, kok. Bukan gara-gara lo. Tapi gara-gara gue!”
__ADS_1
Melani menatap Kevin bingung,”Kok gara-gara lo, sih? Kan udah jelas semua gara-gara gue, Vin? Lo sendiri juga tahu, kan?! Dan gue juga nggak pernah nyangka kalau kejadiannya bakal kayak gini.”
“Enggak. Gue yang salah kok, Mel.”
Melani jadi tambah bingung. Kevin tetap saja mengatakan kalau dirinya yang salah, padahal sudah jelas-jelas kalau Melani yang salah. Emang salahnya Kevin dimana? Melani jadi pusing.
“Nggg…Vin. Emang salah lo dimana, ya?”
“Dulu gue yang nyuruh Rafa buat jadian sama Cyntia.”
“APA???” Melani kaget,”Lo…lo yang…”
“Ya. Gue yang nyuruh Rafa buat macarin Cyntia.”
Melani garuk-garuk kepala, sama sekali nggak mengerti dengan apa yang dibicarakan Kevin.
Kevin tersenyum,”Lo bingung, ya?”
TBC
__ADS_1