
“Eh, lo kemana aja, sih? Lama banget disuruh naruh belanjaan di mobil aja? Nyasar ya, lo?” semprot Rafa yang saat ini sedang berada di sebuah kafe bersama Cyntia.
“Gue di mobil lo. Istirahat.”
“Istirahat? Apa gue udah nyuruh lo buat istirahat?”
“Belum. Tapi gue capek, mau tidur bentar.”
“Tidur kata lo?” Rafa tampak setengah berteriak, Cyntia sampai heran melihat reaksinya,”Pokoknya sekarang gue minta lo ke sini, ke kafe! Cepetan!”
“Aduh, ngapain sih Raf, gue ke sana? Mendingan gue di sini aja nungguin mobil lo? Daripada gue ke sana cuma buat ngelihatin lo pacaran sama Cyntia doang.”
“Pokoknya gue mau sekarang lo ke sini! Titik.” Rafa nggak mau tahu.
“Nggak mau.”
“Ini perintah dari bos.”
“Tapi gue nggak mau, Raf. Lagian gue ngapain sih ke sana segala? Di sana kan udah ada Cyntia. Emangnya lo mau gue nyuapin lo makan, gitu?” Melani sebal.
“Lo cepetan ke sini sekarang, atau gue yang ke sana terus gendong lo ke sini?” Rafa semakin galak.
“Aduh, iya, iya. Lo ini jadi bos galak banget? Nggak tahu apa, kalau gue ini capek, laper…”
“Ya makanya cepetan ke sini! Ini perintah.”
__ADS_1
“Iya, iya, gue ke sana sekarang.” Melani memutuskan sambungan telepon secara sepihak,”Huh, nyebelin banget sih, tuh cowok? Ngapain juga gue musti ke sana segala?”
*
Setelah keliling mal mencari keberadaan Rafa, akhirnya Melani menemukan Rafa dan Cyntia di sebuah kafe di mal. Soalnya mal itu ada sekitar lima kafe dan Rafa nggak ngasih tahu dimana tepatnya dia makan, Rafa cuma menyuruhnya untuk datang ke kafe.
“Kemana aja lo? Lama banget?”
“Tidur.” Melani menjawab asal.
“Ya udah. Duduk!” ujar Rafa,”Gue udah mesenin makan siang tuh, buat lo. Cepetan dimakan terus kita pulang!”
Melani tetap berdiri.
“Gue bilang duduk! Lo kenapa masih berdiri aja?”
“Makan, tuh! Udah dipesenin juga!” Rafa berkata dengan cuek tanpa melihat ke Melani.
Melani tetap diam, nggak mau menyentuh makanannya sedikitpun.
“Lo ngapain masih diem aja? Ayo dimakan! Katanya lo laper?” akhirnya Rafa mau juga melihat ke arah Melani yang menatapnya dengan tatapan nggak suka,”Lo ngapain ngelihatin gue kayak gitu?”
“Sebel sama lo.”
“Kenapa?” Rafa pura-pura nggak tahu.
__ADS_1
“Kalau lo nggak niat buat mesenin gue makan siang, ya udah mendingan nggak usah dipesenin aja sekalian! Gue juga nggak minta lo buat mesenin gue makanan, kok. Mendingan gue kelaperan, daripada musti makan makanan dari lo.”
“Jadi lo nggak mau?”
“Nggak.”
“Ya udah, nggak usah dimakan! Gitu aja repot banget?”
“Emang gue nggak bakalan makan.”
Melihat perdebatan Melani dan Rafa, Cyntia jadi bingung. Diapun segera mengambil inisiatif untuk menengahi perdebatan mereka,”Nggg…sorry, sorry.”
Rafa dan Melani menoleh ke Cyntia. Sepertinya mereka baru ingat kalau dari tadi ada Cyntia di dekat mereka.
“Udahlah, kalian jangan berantem lagi, ya?! Nggak enak dilihatin orang.”
Rafa dan Melani saling melirik sebentar, lalu sama-sama membuang muka.
“Mel, lo makan ya, makan siangnya!” Cyntia berkata pada Melani,”Tadi Rafa sengaja mesenin makanan itu buat lo, karena yakin lo pasti laper karena dari tadi ngikutin kita. Jadi lo makan ya, Mel?” ujar Cyntia penuh perhatian.
Melani melirik ke arah Rafa yang sibuk menikmati makan siangnya. Dia sudah salah sangka pada Rafa.
“Ya udah, ayo makan bareng, Mel!”
Melani tersenyum ramah pada Cyntia, lalu memulai makan siangnya. Perutnya sudah keroncongan dari tadi.
__ADS_1
TBC