My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
45


__ADS_3

“Gue nggak apa-apa, kok.”


“Tadi itu gawat banget tahu nggak, Mel. Gue pikir lo bakalan diapa-apain sama si Anthony. Untung aja ada bos lo yang hebat. Bisa belain lo di depan Anthony.” Diandra nyerocos.


“Pasti lo kan yang cerita-cerita sama Anthony soal gue yang punya utang sama Rafa! Iya kan! Udah, ngaku aja!” tebak Melani yang dia yakin pasti benar.


“Iya, Mel. Sorry, deh! Gue juga nggak nyangka kalau si Anthony bakalan ngelakuin itu ke lo, Mel. Gue bener-bener minta maaf, ya! Lo mau kan, maafin gue?” Diandra sangat menyesal.


“…”


“Mel, lo mau maafin gue, kan! Gue sama sekali nggak bermaksud kok, buat bikin Anthony marah. Lo jangan marah sama gue ya! Please!” Diandra memohon-mohon, dia sangat takut kalau Melani akan marah padanya.


“Iya, iya gue nggak marah, kok.”


Diandra tersenyum lebar,”Yang bener, Mel? Aduuuhhh…makasih banget ya…” Diandra mau memeluk Melani, tapi Melani buru-buru mencegahnya,”Hehehe…sorry, Mel. Gue terlalu seneng soalnya,” Diandra nyengir.


“Lagian ini bukan salah lo, kok. Emang Anthony aja yang kurang kerjaan. Kayaknya dia nggak bakalan berhenti gangguin hidup gue sebelum gue bener-bener hancur!” melani sedikit terkenang masa lalu.


Diandra jadi pendengar. Dia berpikir, mungkin ini saatnya Melani akan menceritakan tentang kehidupan pribadinya.

__ADS_1


“Kayaknya belum cukup tuh cowok bikin hidup gue sengsara selama ini. Dia juga udah bikin gue pisah sama Fandy.”


“Hah? Siapa tadi? Fandy?” Diandra memperjelas kata-kata Melani yang terakhir.


Ups, sepertinya Melani keceplosan. Dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, tampak bingung dengan apa yang baru saja dikatakannya barusan.


“Fandy itu siapa sih, Mel? Cowok lo?” Diandra penasaran,”Ayo dong, cerita sama gue!”


“Nggg…bukan, kok. Bukan siapa-siapa. Udah yuk, kita ke kelas! Kayaknya kita udah telat, nih!” Melani buru-buru pergi sebelum Diandra sempat menanyainya lagi.


“…???”


Malam itu Melani mendapat telepon dari Rafa.


“Halo…?” sapa Melani malas.


“Gue minta lo ke sini sekarang juga!”


“Apa?? Apa sih maksud lo? Ke sini? Itu maksudnya ke rumah lo?” Melani langsung sewot.

__ADS_1


“Ya iyalah, masa ke pasar malem.” Rafa menjawab dengan nada santai,”Udah cepetan ke sini sekarang! Gue tunggu!”


“Eh, lo jangan seenaknya kayak gini, dong! Ini tuh udah malem, masa malem-malem gue suruh ke rumah lo? Yang bener aja dong, lo!”


“Heh, lo ini banyak omong banget, sih? Gue ini bos lo, gue berhak nentuin kapan aja lo musti dateng. Dan gue maunya sekarang juga lo ke sini!” Rafa nggak mau tahu. Dia sedang menelepon Melani sambil menikmati udara malam di balkon rumahnya.


“Ini tuh udah malem, Bos. Udah malem. Kenapa sih nggak besok aja? Emangnya gue disuruh ngapain malem-malem ke sana? Mencurigakan banget?” penyakit curigaan Melani ke Rafa kambuh lagi.


“Buat nemenin gue tidur.”


“APA???” Melani melotot, biarpun Rafa nggak bisa melihatnya,”Eh, lo jadi cowok jangan kurang ajar, ya! Mentang-mentang lo bos, terus lo bisa seenaknya sama gue. Lo udah gila, ya?”


“Lo tuh yang gila. Jadi cewek kok curigaan banget? Heran gue!” Rafa sebal sekali dengan Melani,”Lagian gue juga nggak minat kok, buat ngapa-ngapain lo. Ih, ngapain? Kurang kerjaan banget?”


“Ya makanya, besok aja. Sekarang udah malem, Ayah sama Ibu nggak bakalan ngizinin gue pergi.”


“Lo yakin?”


“Maksud lo?”

__ADS_1


TBC


__ADS_2