
Anthony kaget, dia nggak menyangka Melani akan mengatakan itu padanya,”Mel, lo kok ngomong gitu, sih?” Anthony merasa ngeri mendengar kata ‘bunuh diri’.
“Kenapa? Lo pikir gue main-main?” Melani memasang muka serius.
“…”
“Udah, mendingan lo pergi! Pergi dari hadapan gue dan jangan pernah tunjukin muka lo di depan gue lagi! PERGI!!!!” Melani mengusir Anthony.
Dengan terpaksa Anthony keluar dari kamar Melani.
Seperginya Anthony, Melani terbaring lemas di tempat tidur. Pikirannya kacau mengingat semua kejadian yang dialaminya belakangan ini. Dan yang paling membuatnya resah adalah, tentang Rafa yang mengatakan nggak mau dekat dengannya lagi. Sampai sekarang pun HP Rafa tetap nggak bisa dihubungi. Melani sangat nggak sabar menunggu kapan dia akan pulang dan dia ingin menemui Rafa lagi. Melani masih nggak habis pikir, Rafa tega melakukan itu padanya.
***
Setelah tiga hari di rumah sakit, akhirnya hari ini Melani bisa kuliah lagi. Dia sudah kangen sekali dengan suasana kampus dan juga teman-temannya. Hari ini pun Melani senang sekali bisa bertemu dengan Diandra dan mengobrol berdua.
“Syukur deh, Mel. Hari ini lo udah bisa masuk kuliah lagi. Gue seneng banget. Gimana keadaan lo? Udah nggak apa-apa, kan?!” tanya Diandra.
“Iya, gue udah sehat, kok. Lagian gue juga sebenernya udah dari kemaren-kemaren pengen pulang, tapi Kevin ngelarang gue pulang dulu sebelum tiga hari, batas waktu yang dikasih sama dokter.”
“Cieee…” Diandra menyenggol-nyenggol lengan Melani dengan senyuman menggoda,”Perhatian banget si Kevin? Ada apaan, tuh?”
“Ih, lo apa-apaan sih? Emang kenapa kalau Kevin perhatian sama gue? Nggak boleh?” Melani pura-pura nggak mengerti maksud Diandra.
“Ya, bukannya gitu, Mel. Kayaknya si Kevin perhatian banget sama lo? Waktu lo di rumah sakit aja, Kevin yang tiap hari ngejagain lo. Jangan-jangan dia suka lagi, sama lo?!” Diandra belum tahu kalau dulu Kevin pernah menyatakan cinta pada Melani.
“Ah, ya enggaklah. Gue sama Kevin cuma temenan, kok.” Melani berusaha menyembunyikan tentang kejadian yang sebenarnya.
Diandra berdehem,”Ya, ya. Gue tahu, lo nggak mungkin suka sama Kevin, soalnya kan udah ada…” Diandra sengaja menggantung kalimatnya.
__ADS_1
“Ada apaan?”
“Soalnya udah ada itu tuh, si bos galak itu. Iya, kan! Hehehe…” Diandra cengengsan, dia belum tahu juga kalau sekarang Rafa sudah bukan bosnya lagi.
Melani jadi berubah sedih mendengar Diandra mengatakan tentang Rafa.
Diandra bingung melihat Melani tiba-tiba sedih,”Lho? Kok lo jadi sedih gini sih, Mel? Kenapa?”
Melani menarik napas,”Gue udah nggak kerja lagi sama Rafa, Di.”
Diandra kaget,”Apa?”
“Kemaren Rafa udah mecat gue, sekarang gue udah bukan asisten Rafa lagi dan Rafa bukan bos gue lagi.”
“Hah? Kok bisa sih? Emangnya kenapa, Mel? Terus sekarang status hubungan lo sama Rafa apaan, dong? Apa kalian malah udah jadian?”
Melani menggeleng,”Gue nggak tahu, Di. Gue sama sekali nggak ngerti sama jalan pikirannya dia.”
“Mana?” Melani mengikuti kemana Diandra memandang. Dia melihat Rafa sedang jalan berdua dengan seorang cewek cantik nan seksi yang diketahui Melani bernama Veronica. Mereka kelihatannya mesra sekali, Veronica menggandeng tangan Rafa dan Rafa sepertinya juga sangat menikmatinya.
“Itu si Rafa kok malah jalan sama Veronica, sih? Apa mereka pacaran?” Diandra bertanya-tanya.
Hati Melani gelisah dan merasa nggak nyaman melihat kedekatan Rafa dengan Veronica. Melani masih nggak rela melihat Rafa dekat dengan cewek lain, soalnya beberapa hari yang lalu Rafa masih sering jalan dengan dia. Apa benar, Rafa sungguh-sungguh dengan ucapannya kemaren? Rafa benar-benar ingin menjauh dari Melani?
“Eh, Rat, Rat!” Diandra memanggil seorang temannya yang kebetulan lewat,”Lo sekelas sama Rafa, kan?!”
Cewek yang bernama Ratu itu menganggukkan kepalanya,”Iya. Emang kenapa, ya?”
“Tadi gue lihat Rafa lagi jalan berdua tuh, sama Veronica. Apa mereka pacaran?” tanya Diandra.
__ADS_1
“Iya. Setahu gue mereka mulai jalan kemaren. Ya gitu deh, pacaran.”
“Oh gitu, ya? Makasih ya, Rat!”
Ratu pun pergi melewati Diandra dan Melani.
“Mereka pacaran, Mel. Padahal gue pikir, si Rafa suka sama lo!” Diandra terlihat kecewa.
Melani tiba-tiba pergi tanpa ngomong apa-apa pada Diandra.
“Mel, mau kemana?”
Melani sudah keburu jauh. Diandra sudak tidak bisa lagi mengejarnya.
“Melani kenapa, ya?”
*
Melani pergi ke taman belakang dan menangis sendirian di salah satu anak tangga, tempat dulu dia pertama kalinya nyamperin Kevin. Melani sedih melihat Rafa sudah bersama cewek lain. Padahal dulu dia nggak ngerasa sebegini sedihnya saat Rafa masih jalan dengan Cyntia.
Dia teringat hari-harinya yang dulu dilaluinya bersama Rafa. Itu adalah hari-hari paling indah yang pernah terjadi dalam hidup Melani. Rafa selalu membuat Melani dongkol abis dengan semua sifat-sifatnya yang nyebelin, namun Rafa juga selalu membuat Melani bahagia dengan senyumannya. Kemana Rafa pergi, Melani diwajibkan untuk ikut, dimana ada Rafa di situ ada Melani. Tapi kenapa sekarang semuanya berbeda? Sekarang Melani kembali sendirian tanpa ada Rafa yang selalu melotot-melotot padanya, nyuekin dia, bikin dia kesel…Melani ingin semuanya itu kembali. Seandainya saja kecelakaan tempo hari nggak pernah terjadi, pasti sekarang dia masih bisa bersama dengan Rafa.
Tanpa diketahui Melani, Rafa muncul jauh di belakang Melani. Dia tahu Melani sedang menangis dan semua itu gara-gara dirinya. Rafa ingin sekali menghampiri Melani dan memeluknya supaya dia berhenti menangis, karena Rafa paling nggak bisa melihat Melani menangis. Selama ini setiap Rafa melihatnya menangis, itu selalu diakibatkan karena dirinya. Rafa yang selalu membuat Melani menangis.
“Mel, lo kenapa?” Kevin datang menghampiri Melani,”Kok lo nangis sih?”
Melani buru-buru menghapus air matanya begitu Kevin datang,”Enggak, kok. Gue nggak apa-apa, Vin.”
Begitu melihat Kevin mendekati Melani, Rafa memutuskan untuk pergi.
__ADS_1
TBC