My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
109


__ADS_3

Melani kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan memeluk boneka beruang putihnya. Dia berusaha menutup matanya raat-rapat supaya bisa cepat tidur.


Sementara itu, Rafa juga sedang mengalami hal yang sama seperti Melani. Dia tidak bisa tidur memikirkan keberangkatannya besok ke Kanada. Kemaren-kemaren saat membuat keputusan itu dia sangat yakin akan pergi, tapi kenapa sekarang dia merasa begitu ragu? Dia ragu untuk tetap berangkat sesuai rencana atau akan tetap tinggal di Jakarta. Rafa menoleh, dia melihat barang-barangnya sudah dikemasi dan dimasukkan ke dalam koper. Itu artinya, keberangkatan besok harus tetap berjalan sesuai rencana. Dia harus tetap berangkat ke Kanada apapun yang terjadi.


HP Rafa bergetar dari atas meja. Tangan Rafa menggapai-gapai HP dengan malas.


“Siapa sih, malam-malam gini telepon? Hah? Kevin?” Rafa heran melihat nama Kevin tertera di layar HP,”Mau ngapain malam – malam gini telepon gue?”


HP terus beretar dalam genggaman Rafa, berarti Kevin serius menghubunginya,”Halo…?”


“Udah gue duga, lo pasti nggak bisa tidur, kan?!”


“Maksud lo apa, sih?” Rafa nggak mengerti,”Telepon malam-malam cuma mau ngomongin hal yang nggak penting?”


“Santai aja, Raf! Nggak usah galak gitu, deh!” ujar Kevin santai.


Rafa mendengus,”Ya udah, langsung aja! Ada apaan sih, malem-malem telepon? Emang nggak bisa besok pagi, apa?”


“Pasti malem ini lo nggak bisa tidur kan, Raf?!”


“Bisa, kok. Tadi itu gue udah tdur, pas lo telepon. Emangnya kenapa gue musti nggak bisa tidur? Ini kan udah malem?” Rafa judes.


“Lo pasti lagi mikirin Melani, kan?!” Kevin menebak yang yakin pasti tebakannya nggak meleset.


“Ngomong apa sih, lo?” Rafa pura-pura nggak tahu.


“Gue tahu, kok. Pasti lo berat banget kan, ninggalin Melani! Kalau lo berat ninggalin dia, lo batalin kepergian lo ke Kanada!”


“Gue bakal tetep berangkat.”


“Gue juga tahu Raf, kalau Melani itu cewek di masa lalu lo, kan?!”


Rafa kaget, bagaimana Kevin bisa tahu? Selama ini dia nggak pernah menceritakan apa-apa tentang Melani pada Kevin? Atau jangan-jangan, Melani yang sudah cerita-cerita pada Kevin? Melani cerita apa aja sama Kevin? Jangan-jangan dia cerita yang enggak-enggak lagi. Rafa sudah berpikiran jelek.


“Dia itu satu-satunya cewek yang pernah deket sama lo sebelum lo ikut sama Oom Alex. Iya, kan?!”

__ADS_1


“…”


“Dan gue tahu, lo suka kan sama Melani!”


Nih anak sok tahu banget?


“Gue juga suka kok, sama Melani. Bahkan gue cinta banget sama dia.”


Udah tahu.


“Gue udah beberapa kali nembak dia.”


“APA??” Rafa memang tahu kalau Kevin cinta sama Melani, tapi nggak nyangka kalau ternyata dia sudah pernah menyatakan cintanya itu.


“Tapi Melani nolak gue, Raf.”


Jantung Rafa berdebar kencang.


“Dia nolak gue karena di hatinya udah ada orang lain. Dan orang lain itu adalah lo.”


“…”


“…”


“Kalau lo ngehargain perasaan Melani ke lo, lo jangan pergi lagi! Jangan bikin dia nangis lagi, Raf!” pinta Kevin dengan tulus.


“…”


“Lo nggak bisa seenaknya datang dan pergi sesuka lo. Bukannya dulu lo pernah bilang sama gue, kalau cinta harus diperjuangkan. Kalau emang lo cinta sama Melani, lo perjuangin dong cinta lo ke dia! Jangan malah kabur kayak gini!”


“…”


“Kalau gue mau, gue bisa rebut Melani dari lo, gue bisa paksa dia buat cinta sama gue dan milih gue. Tapi gue bukan tipe orang yang senang berbahagia di atas penderitaan orang. Gue tahu Melani nggak cinta sama gue, makanya gue nggak bisa maksain perasaan gue ke dia. Gue bisa mencintai dia tanpa harus memiliki dia. Gue akan bahagia kalau Melani bahagia.”


“…”

__ADS_1


“Sekarang semuanya terserah lo, Raf. Lo lebih milih Melani atau Kanada? Pikirin baik-baik keputusan lo ini. Jangan sampai lo nyesel seumur hidup! Lo masih punya waktu sampai besok pagi buat mikirin semua kata-kata gue tadi! Gue harap, lo ambil keputusan yang tepat!”


tut…tut…tut.... Kevin memutuskan sambungan telepon.


***


Esok harinya, Rafa bersiap mau ke bandara. Dia akan berangkat ke Kanada dengan pesawat pribadi yang biasanya dipakai papanya untuk pulang-pergi berbisnis ke luar negeri. Para pelayan sibuk memasukkan koper-koper Rafa ke bagasi mobil, sopir dan pengawal pun sudah siap untuk mengantarkan Rafa ke bandara. Rafa berdiri di sebelah papanya yang mengamati para pelayan sibuk mengurus koper Rafa. Nggak lama kemudian semua sudah beres, para pengawal dan siopir sudah siap untuk berangkat.


“Rafa, kamu sudah harus berangkat sekarang!” ujar Papa.


Rafa terdiam, pandangannya kosong. Pikirannya sedang tidak ada di situ, tetapi melayang kemana-mana. Saat ini hatinya diliputi keraguan antara Melani dan Kanada. Dia benar-benar ragu apa dia harus berangkat ke Kanada atau tidak? Waktu keberangkatannya hanya tinggal hitungan jam, dan Rafa justru malah bingung. Apa keputusannya untuk pergi adalah yang terbaik? Apa nanti dia akan benar-benar bisa melupakan Melani setelah tiba di Kanada? Atau justru akan semakin merindukan Melani?


Papa mengerti Rafa sangat berat meninggalkan Jakarta, dia pun tetap berusaha untuk kembali menanyakan tentang keputusan Rafa tersebut,”Rafa…sebelum kamu berangkat, Papa mau bertanya sama kamu. Apa kamu benar-benar yakin akan berangkat ke Kanada hari ini? Kamu nggak mau memikirkannya lagi?”


“Buat apa aku berpikir lagi?”


“Karena Papa lihat, kamu masih ragu untuk pergi. Papa nggak mau kamu sampai menyesal nantinya. Kalau memang kamu mau membatalkan kepergian kamu, Papa tidak keberatan. Papa tidak akan memaksa kamu untuk pergi!”


“Aku akan tetap berangkat. Papa nggak usah khawatir!”


“…”


“Tolong jangan tanyakan hal itu lagi, Pa!”


Papa memeluk Rafa, pelukan perpisahan. Rafa membiarkan papanya memeluknya,”Kalau memang itu sudah menjadi keputusan kamu, Papa bisa apa? Papa akan mendukung apapun keputusan yang kamu ambil. Papa yakin itu yang terbaik.”


“Makasih, Pa.”


Papa melepaskan pelukannya,”Kamu beneran nggak mau Papa anter sampai bandara?”


“Nggak usah. Aku bisa sendiri, kok!” ujar Rafa yang sebenarnya juga berat meninggalkan papanya,”Papa jaga diri baik-baik, ya?”


“Iya. Kamu juga jaga diri baik-baik! Kalau sudah sampai di sana, jangan lupa kabarin Papa!”


Rafa mengangguk,”Iya, Pa.”

__ADS_1


TBC


__ADS_2