My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
21


__ADS_3

“Ngapain sih? Kan kerjanya masih besok?” Melani tahu pasti ada maksud tersembunyi.


“Kan buat latihan. Biar besok nggak kaku.” Rafa memang snegaja ngerjain Melani,”Ayo cepetan!”


Melani mendengus,”Selamat siang, Bos!” Melani berkata dengan nada yang dibuat-buat,”Puas?”


“Oh, puas banget!”


Melani mencibir. "By the way ... lo beneran jadi ceo di perusahaan tempat bokap gue kerja?"


"Apa gue harus jelasin dia kali?"


"Ya nggak juga, sih. Gue masih nggak percaya aja anak kuliahan bisa jadi ceo."


"Maksudnya lo ngeraguin kemampuan gue?"


"Nggak juga. Cuma nggak nyangka aja."


Rafa mendengkus. Dia juga malas menjelaskan apapun pada Melani. "Ya udah gue balik ya, Asisten."


Melani melotort kesal


Rafa tersenyum puas sudah berhasil mengerjai Melani. Dia pun masuk ke mobilnya. Dalam sekejap mata, mobil Rafa sudah hilang dari pandangan Melani.


“Aduh, gimana nih? Ini sama aja kalau gue itu keluar dari kandang buaya, masuk ke kandang singa. Aduuuhh…gawat!!!” Melani meresapi nasibnya,”Lagian tuh cowok kok tiba-tiba bisa nongol di rumah gue, sih? Dulu juga gitu. Pas gue nggak dapet angkot, dia tiba-tiba dateng terus nolongin gue? Eh, sekarang…dia tiba-tiba aja dateng pas di rumah gue lagi ada masalah? Kok dia selalu dateng di saat yang tepat, ya? Udah kayak setan aja tuh cowok dimana-mana ada?” Melani heran,”Ah, bodo amatlah. Ngapain juga gue pikirin?”

__ADS_1


***


“Kamu kerja jadi asisten pribadinya pak Rafa?” tanya Ayah. Saat itu mereka sedang makan malam bertiga.


“Nggak usah pake kata ‘Pak Pak’ segala deh, Ayah! Mel jijik dengernya! Lagian dia kan seumur sana Mel. Bisa nggak panggil namanya aja?” Melani menggigit roti tawar tanpa selai, itu sudah biasa.


“Hush, kamu itu kalau ngomong jangan sembaranagn ya!” tegur Ayah nggak suka.


Melani cemberut. "Dia itu bos Ayah. Masa Ayah harus manggil dia sembarangan?"


“Tapi Mel, bukannya tadi dia bilang kalau dia ikhlas membantu kita? Tapi kok kamu malah kerja sama dia buat ngelunasin utang?” Ibu bertanya-tanya.


“Tahu, tuh. Orang kaya emang selalu kayak gitu. Suka cari muka di depan umum, eh nggak tahunya punya maksud tertentu.”


Ayah pun sedikit berpikir,”Tunggu, tunggu! Waktu tadi siang Ayah bilang mau kerja seumur hidup di kantor tanpa bayaran, Pak Rafa nggak mau? Tapi sekarang malah menyuruh Melani kerja sama dia?”


“Iya, benar.” Ayah menganggukkan kepalanya.


Melani bingung melihat tingkah kedua orangtuanya yang aneh,”Ayah sama Ibu kenapa, sih? Memangnya kalian punya pikiran apa?”


Ayah dan Ibu memandang Melani secara bersamaan sambil tetap tersenyum lebar. Melani tambah nggak ngerti kenapa orangtuanya sepertinya begitu gembira?


“Ayah, Ibu? Kalian nggak mikirin yang macem-macem kan, soal Mel sama Rafa?” Melani mulai curiga.


“Pasti Rafa suka sama kamu, Mel.”

__ADS_1


Melani yang waktu itu sedang minum sampai tersedak dan batuk-batuk,”Ayah. Apa-apaan sih ngomong kayak gitu?”


“Ayahmu benar, Mel. Coba deh, kamu pikir! Dia tidak mau kalau ayah kamu yang bekerja untuk melunasi utang, tapi dia maunya kamu yang kerja sama dia. Itu kan berarti kalau dia pengen terus deket sama kamu. Apa itu namanya kalau bukan karena Rafael suka sama kamu? Iya kan?!”


“Aduh, Ibu. Orang kaya dan sombong kayak dia itu, nggak mungkin suka sama Mel. Lagian Mel juga nggak mau kok, sama dia. Kayak nggak ada cowok lain aja?” Melani membantah mati-matian.


“Eh, jangan begitu! Mustinya kamu itu memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati Rafa! Kapan lagi kamu bisa punya pacar yang kaya terus ganteng kayak dia itu?” Ayah masih semangat saja membujuk Melani.


“Iya, betul Mel.” ibunya menyambung,”Kamu itu cantik, lho. Ibu rasa dengan sedikit berdandan, Rafa pasti akan suka sama kamu!”


Kuping Melani rasanya sudah mau terbakar, dari tadi mendengar ayah dan ibunya membicarakan tentang Rafa, Rafa dan Rafa aja. Emang apa bagusnya sih tuh cowok sampai-sampai Ayah dan Ibu pengen banget Melani bisa pacaran sama dia.


“Ayah sama Ibu ini kenapa sih, niat banget sama tuh cowok? Mel nggak mau Ayah, Ibu!” Melani memandang ayah dan ibunya secara bergantian,”Lagian Mel kerja sama dia itu cuma sampe hutang kita lunas. Itupun juga karena terpaksa, soalnya Mel nggak mau punya utang sama cowok belagu kayak dia. Setelah utang keluarga kita lunas, Mel---”


“Akan jatuh cinta sama Rafa!” Ayah dan Ibu menyela kaliamat Melani dengan bersamaan.


“Ayah sama Ibu ngomong apa, sih? Mel nggak mau sampai jatuh cinta sama dia. Nggak mau!” Melani menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


Ayah dan Ibu saling melempar senyum.


“Pokoknya setelah utang lunas, Mel bakalan berhenti jadi asistennya dia terus menjauh sejauh-jauhnya dari cowok yang namanya Rafael itu.”


“Eh, Mel. Kamu musti ingat, kalau pas lagi kerja sama dia, kamu harus jaga sikap kamu! Bersikap yang manis, ramah, sopan, terus murah senyum!” Ibu memberi nasihat seolah nggak peduli dengan apa yang dikatakan Melani tentang ketidaksukaannya pada Rafa.


“Iya, kamu jangan sampai malu-maluin Ayah, lho!” Ayah menambahkan,”Ayah ini di kantor dikenal sebagai cleaning service yang paling rajin. Kamu juga harus memberikan kesan yang baik pada proses Ayah! Ya Mel, ya?”

__ADS_1


Melani menarik napas panjang. Sepertinya apapun yang dikatakannya tetap nggak akan merubah penilaian ayah dan ibunya tentang Rafa. Kenapa sih, semua orang membela dia? Apa memang nggak ada yang sependapat dengan Melani? Sebenarnya bagusnya tuh cowok apa sih, sampai-sampai kayaknya hampir semua orang yang dikenalnya suka sama dia?


TBC


__ADS_2