My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
107


__ADS_3

“Iya, Mel. Nggak apa-apa. Meskipun kita cuma sebatas temen aja, tapi gue seneng banget. Kenal sama lo adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidup gue. Apalagi gue bisa mencintai lo.”


Maafin gue, Vin. Gue juga nggak tahu kenapa gue sampai segininya uska sama cowok? Padahal cowok itu sering banget bikin gue sedih, dia sering banget bikin gue nangis. Tapi kenapa gue nggak bisa ngelupain dia? Kenapa hati gue cuma mau dia?”


 


*


Rafa termenung di pinggiran kolam renang sambil memeluk lututnya. Dia memandangi banyangan wajahnya di air kolam yang jernih. Namun tiba-tiba bayangan dirinya berubah menjadi wajah Melani yang sedang tersenyum padanya.


“Hah?” Rafa tersentak. Dia memejamkan matanya sejenak lalu membukanya lagi.


Bayangan wajah Melani kembali berubah menjadi bayangan dirinya. Rupanya Rafa masih saja kepikiran Melani.


Mau sampai kapan gue kayak gini terus? Kenapa gue nggak bisa ngilangin bayangan Melani dari pikiran gue? Masih aja gue kepikiran dia terus? Kapan gue bisa ngelupain dia?


“Rafa!” Papa datang menghampiri Rafa dan berdiri di dekatnya.


Rafa bersikap acuh dengan tetap memandang air kolam yang jernih,”Ada apa, Pa?”


“Kamu serius dengan keputusan kamu?” tanya Papa.


“Keputusan yang mana?”

__ADS_1


“Kamu serius mau pergi ke Kanada?”


“…”


“Rafa! Tolong kamu jawab pertanyaan Papa!” pinta Papa yang kelihatannya masih belum yakin dengan keputusan Rafa.


“Iya.”


“Tapi, Rafa…”


“Bukannya dulu Papa sendiri yang minta supaya aku ngelanjutin kuliah di Kanada? Sekarang ini keputusan aku, Pa. Aku pengen kuliah di Kanada. Itu kan yang Papa inginkan dari dulu?”


“Iya, Rafa. Tapi…” dulu Papa memang sangat ingin Rafa melanjutkan kuliah di Kanada, tapi sekarang justru Papa terlihat nggak senang,”Kamu pergi ke Kanada bukan karena mau menghindari Melani, kan?!”


“Udahlah, Pa! Aku nggak mau ngomongin soal itu!” Rafa berdiri,”Besok aku berangkat ke Kanada!” Rafa pergi melewati papanya yang kelihatan masih sangat keberatan.


“Iya, Oom. Ada apa?” jawab Kevin yang berada di ujung telepon.


“Kevin…”


***


Melani berjalan sendirian sambil menangis. Sebelum ini Melani mendapat telepon dari Kevin mengenai rencana Rafa yang akan pergi ke Kanada.

__ADS_1


“Mel, tadi gue dapet telepon dari Oom Alex, katanya besok Rafa mau pergi ke Kanada selama lima tahun. Dia mau ngelanjutin kuliah di sana sesuai apa yang dari dulu diinginkan sama Oom Alex. Lo musti secepetnya ketemu sama Rafa, sebelum Rafa berangkat besok. Kecuali lo mau nunggu Rafa selama bertahun-tahun untuk tahu perasaan dia ke lo.


Melani nggak tahu kemana harus pergi, dia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Sampai akhirnya dia sampai di sebuah tempat yang dulu dia pernah datangi. Sebuah kolam ikan yang berada di tengah-tengah kerumunan pepohonan yang mengelilinginya. Melani sendiri kaget, kenapa dia bisa sampai ke tempat itu. Padahal tadi dia hanya berjalan tanpa tujuan. Tempat itu masih nggak berubah, pepohonannya masih subur, bunga-bunga teratai kebetulan juga sedang bermekaran menapung di atas air.


Mata Melani tertuju ke suatu arah, dia sana dia melihat Rafa sedang berdiri di pinggir kolam memandangi kolam ikan yang penuh dengan bunga teratai itu. Melani nggak menyangka akan bertemu Rafa di sini. Mungkin tadi langkah kakinya yang sengaja melangkah ke tempat itu, karena dia harus bicara dengan Rafa hari itu juga. Melani menghapus air matanya.


Rafa mengetahui kehadiran Melani di dekatnya, tapi dia tetap nggak mau mengalihkan pandangannya dari bunga teratai yang bermekaran di atas air. Sejak tadi Rafa berada di tempat itu, dia berharap Melani akan datang. Dan ternyata perasaannya sampai ke Melani. Melani benar-benar datang.


“Gue denger dari Kevin, katanya besok lo mau ke Kanada?” tanya Melani yang berharap Rafa akan mengatakan kalau semua itu tidak benar.


Rafa sudah nggak kaget Melani menanyakan soal kepergiannya ke Kanada, karena dia yakin Papa yang memberitahu Kevin, dan Kevin mengatakannya pada Melani,”Iya. Kenapa?” jawab Rafa santai.


Melani sedih, jawaban Rafa sama sekali tidak sesuai dengan keinginannya,”Berapa lama?”


“Lima tahun.”


“Kenapa lo mau pergi?”


“Buat apa lo tanya soal itu?”


“Apa semuanya gara-gara gue?”


“Maksud lo?” Rafa pura-pura nggak tahu.

__ADS_1


“Apa lo pergi karena mau ngehindarin gue, Raf? Lo beneran pengen ngelupain gue?”


TBC


__ADS_2