My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
22


__ADS_3

Melani bersiap untuk berangkat ke kampus pagi itu. Dengan langkah santai, dia berjalan keluar rumah dengan menyandang tas di bahu kanannya serta membawa sebuah kamus tebal. Sesampai di jalan depan rumah, dia kaget melihat Rafa duduk di jok depan mobil merahnya.


Kelihatannya Rafa sedang menunggunya. Melani segera saja mengampirinya.


“Lo ngapain di sini?” semprot Melani.


“Bilang dulu, selamat pagi Bos!”


“Iya, selmat pagi Bos.” Melani terpaksa,”Ngapain lo di sini?”


Raut wajah Rafa tetap terlihat tenang dan dingin dari tadi,”Ayo masuk!” Rafa membuka pintu mobilnya dan duduk di belakang setir.


“Gue masuk ke mobil lo?”


“Ya iyalah. Emang lo mau gue suruh masuk ke bagasi belakang?” Rafa menyetater mobilnya.


“Nggak mau. Gue nggak mau ke kampus sama lo.”


“Ya terserah lo sih. Kalau mau gue pecat ya nggak apa-apa.”

__ADS_1


Melani pun baru ingat kalau mulai hari ini dia bekerja sebagai asisten pribadinya Rafa untuk melunasi hutangnya pada Rafa.


“Lo lupa ya, kalau mulai hari ini lo jadi sisten pribadi gue, dan gue bos lo yang berhak ngasih lo perintah apapun. Sekarang gue perintahin lo buat masuk ke mobil gue! Cepetan!” ujar Rafa sok berkuasa.


Melani terpaksa menurut,”Iya, iya.” dia duduk di sebelah Rafa.


***


Di perjalanan, Rafa terus saja nyuekin Melani dan menganggap kalau Melani nggak ada di dekatnya. Dia terus sibuk menyetir sambil bersiul-siul ria. Melihat tingkah cowok itu, rasanya Melani sudah ingin sekali untuk menendang wajahnya yang angkuh itu.


“Nih, baca!” Rafa memberikan selembar kertas pada Melani.


“Itu surat perjanjian kerja lo.”


“Apa??? Perjanjian kerja???”


“Udah, nggak usah banyak tanya! Cepetan baca! Baca yang keras!”


Meskipun kesal sekali, Melani pun menuruti perintah Rafa untuk membacanya. Sebenarnya tanpa disuruhpun Melani pasti membacanya, dia ingin tahu apa saja yang tertulis di kertas itu.

__ADS_1


“Surat perjanjian kerja…” Melani mulai membaca isi surat tersebut,”Asisten harus mematuhi pasal-pasal di bawah ini."


Rafa hanya berperan sebagai pendengar.


“Satu, aisten harus mematuhi apa saja yang diperintahkan bos. Dua, asisten tidak boleh membantah perintah bos. Tiga, asisten harus siap kapanpun dan dimanapun untuk memenuhi panggilan bos.” untuk ketiga syarat itu Melani sudah bisa ambil toleransi, soalnya kemaren Rafa sudah sempat mengatakan padanya. Dan dia juga sudah terpaksa menyanggupinya,”Empat, pada waktu sedang bekerja asisten tidak diperbolehkan menjawab telepon, menelepon, menerima SMS, atau membalas SMS dari siapapaun tanpa seizin bos. Eh, ini udah nggak bener nih!” Melani protes.


“Apanya yang nggak bener?”


“Masa gue nggak boleh telepon sama SMS, sih?”


“Ya terserah gue, dong. Kan gue yang nentuin.” Rafa cuek,”Udah, lanjutin bacanya!”


“Lima, pada waktu jam kerja asisten dilarang pergi dengan siapapun tanpa seizin dari bos.  Enam, hari libur asisten ditentukan oleh bos dan tergantung mood dari bos.” Melani langsung kalang kabut,”Eh, lo jadi orang jangan seenaknya sendiri, ya! Lo nggak bisa seenaknya begini!”


“Ya terserah gue, dong! Gue kan bos.”


“Terus maksud lo, mentang-mentang lo bos terus bisa memperlakukan gue seenaknya gitu? Terus kalau misalnya lo nggak mood buat ngeliburin gue, gue juga musti kerja terus tiap hari, gitu?”


Rafa menutup sebelah telinganya dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2