My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
105


__ADS_3

Pelayan menundukkan kepalanya,”Baiklah, mari saya antar!”


“Siapa yang datang?” terdengar suara seseorang dari belakang.


Melani dan pelayan menoleh. Pelayan membungkukkan badannya pada papa Rafa, sementara Melani hanya tersenyum seramah mungkin dan menganggukkan kepalanya.


Meskipun belum pernah bertemu sebelumnya, tapi Melani tahu laki-laki di depannya itu adalah papa Rafa, soalnya dulu sudah pernah melihat fotonya di kamar Rafa, dan Melani masih ingat betul seperti apa wajahnya.


Papa Rafa memandang asing ke arah Melani, karena memang mereka belum pernah bertatap muka sebelum ini. Papa memberi isyarat pada pelayan untuk pergi, pelayan pun pergi setelah membungkukkan badannya. Akhirnya hanya tinggal Melani dan papa Rafa berdua.


Melani merasa gugup berhadapan dengan papa Rafa. Dia tidak tahu apa papa Rafa ini tipe orang yang galak apa enggak, soalnya selama ini Rafa juga nggak pernah cerita seperti apa sifat papanya? Apa dia baik, lemah lembut, atau justru galak mirip sama Rafa?


“Kamu temannya Rafa?” tanya Papa dengan suara yang lantang dan terdengar tegas.


“I-iya…s-saya temannya Rafa, Oom.” Melani gugup sekali. Eh, tadi gue bilang apa? Oom? Memangnya sejak kapan papanya Rafa kawin sama tante gue? Kok bisa-bisanya gue memanggilnya dengan sebutan Oom? Nggak sopan banget, sok akrab lagi. Melani memaki-maki dirinya sendiri.


“Nama kamu?”


“Oh…saya…saya Melani.”


“Melani?” Papa mengernyitkan alisnya, sepertinya dia baru kali ini mendengar nama Melani. Terang saja, pasti selama ini Rafa juga nggak pernah cerita tentang dirinya, pikir Melani.


“I-iya.” Melani masih saja gugup. Dia sudah berpikir yang macam-macam. Jangan-jangan nanti tiba-tiba papanya Rafa menginterogasinya dengan pertanyaan yang aneh-aneh, misalnya saja apa pekerjaan ayahnya, dia berasal dari keluarga kaya apa enggak, terus mau apa dia datang ke sini dan mau bertemu dengan Rafa? Berani sekali dia?


“Sudah bertemu dengan Rafa?”


Hah? Ketemu? Ketemu gimana? Orang Rafa – nya aja nggak mau ketemu sama dia?

__ADS_1


“Nggg…belum, Oom.” Hah, Oom lagi? Gimana sih, nih? Kok manggilnya Oom terus” “Katanya, Rafa lagi nggak mau diganggu. Makanya, sekarang saya mau pamitan pulang saja!”


Kali ini papa Rafa nggak memberi tanggapan apa-apa, melainkan malah mengamati Melani seperti sedang mengadakan penelitian terhadap percobaan biologi,”Duduk dulu!”


Melani kaget,”Apa???”


“Duduk dulu! Oom mau bicara sedikit. Boleh, kan?!”


Melani tersentak, akhirnya papa Rafa menyebut dirinya Oom di depannya, dan kali ini Melani nggak perlu grogi untuk memanggil papa Rafa dengan sebutan Oom lagi.


“Apa kamu sedang buru-buru?” papa Rafa heran karena Melani tetap berdiri saja di tempat.


“Eh?”


“Bisa kita bicara sebentar saja?”


“Eh, i-iya Oom. Bisa…bisa…!” Melani buru-buru menjawab.


“Iya, terima kasih.”


Sementara Melani dan Papa mengobrol, Rafa diam-diam melihatnya dari atas. Dia melihat papanya sedang bicara serius dengan Melani, dan sedikit-sedikit Rafa bisa mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.


Papa sedang menanyakan kepada Melani tentang hubungannya dengan Rafa. Melani yang tadinya mengira kalau papa Rafa itu galak, segera saja membuang jauh-jauh pikiran jeleknya itu karena ternyata papa Rafa orangnya sangat menyenangkan, dia juga tidak menanyakan tentang apa pekerjaan ayah Melani dan semacamnya. Di mata Melani, papa Rafa adalah figur seorang ayah yang baik dan selalu memikirkan kebahagiaan anaknya. Dan lagi, papa Rafa juga sangat ramah dan murah senyum, beda sekali dengan Rafa yang judes, angkuh, dan pelit senyum itu


***


Melani pulang ke rumahnya dengan naik bajaj. Sebenarnya tadi papa Rafa menawarkan untuk mengantar Melani pulang, tapi Melani menolak. Dia merasa nggak enak aja sama papanya Rafa. Melani berada di dalam bajaj yang meluncur dengan kecepatan sedang sambil teringat kata-kata papa Rafa.

__ADS_1


“Kamu sudah lebih dulu mengenal Rafa daripada Oom, dan tentunya kamu sangat mengenal baik bagaimana sifat dia.”


“Selama ini Oom tidak pernah melarangnya untuk berhubungan dengan gadis manapun, Oom selalu memberinya kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri.”


“Mungkin kamu juga sudah tahu tentang hubungan Rafa dengan Cyntia yang sekarang sudah berakhir. Dulu Oom itu sangat ingin kalau Rafa bisa serius dengan Cyntia, tapi kenyataannya mereka putus juga.”


“Setelah mendengar cerita kamu tadi, sekarang Oom baru tahu kalau sampai sekarang Rafa tidak bisa melupakan kamu, karena itu dia sering sekali putus dengan pacarnya.”


“Melani, kali ini Oom justru berharap kalau kamu adalah pilihan terakhir untuk Rafa.”


Melani sama sekali nggak mengerti kenapa papa Rafa bicara seperti itu padanya, seolah-olah dia mau menjodohkannya dengan Rafa? Padahal mereka ketemu kan baru tadi? Kok tiba-tiba dia bilang kalau dia berharap Melani menjadi pilihan terakhir Rafa? Memangnya kapan Rafa pernah memilihnya? Bilang suka aja nggak pernah? Udah gitu, sekarang boro-boro mau ketemu, terima telepon dari Melani aja nggak mau dan HP nya sengaja dimatiin terus?


Aaaahhh…pusing!  Melani mengacak-acak rambutnya sendiri.


***


“Oom Alex bilang gitu sama lo?”


Melani manggut-manggut, saat dia menceritakan pada Kevin tentang papa Rafa yang berharap Melani jadi pilihan terakhir Rafa,”Iya. Gue juga nggak tahu kenapa tiba-tiba dia ngomong gitu? Gue aja ketemu sama papanya Rafa baru kemaren.”


“Jadi lo belum ketemu juga sama Rafa?”


Melani menggeleng,”Boro-boro ketemu, Rafa aja nggak pernah ngaktifin HP nya. Dia emang sengaja mau ngehindarin gue.”


“…”


“Yang gue bingung, kok Oom Alex bisa-bisanya bilang kalau gue ini pilihan terakhir buat Rafa? Emangnya kapan Rafa pernah milih gue? Bilang suka aja nggak pernah?” Melani bingung.

__ADS_1


“Tapi lo berharap kan, Rafa bilang suka sama lo?”


TBC


__ADS_2