
“Lo berani sama gue cuma karena bokap lo pemegang saham terbesar di perusahaan bokap gue, kan? Dasar banci lo, yang bisanya cuma ngegunain nama bokap lo buat ngancem orang.” Anthony merasa dia nggak boleh kalah melawan Rafa. Makanya dia berusaha mencari-cari kelemahan Rafa untuk melawannya.
“Halo…Tuan Anthony. Lo sadar nggak sih, sama apa yang lo bicarain? Kayaknya, lo lagi ngomongin diri lo sendiri, deh?”
Anthony terdiam. Dia tersadar kalau ucapannya barusan justru sangat mengena dirinya.
“Oke, lo minta ganti berapa buat beli sepatu baru?” Rafa membuka dompetnya,”Gue kasih berapapun yang lo minta. Kasihan, nggak sanggup buat bayar tukang semir sepatu. Lo minta berapa, nih? Sepatunya mau disemir aja atau beli lagi sepatu yang baru?”
Anthony pergi dengan perasaan yang sangat marah sekali terhadap Rafa. Dia merasa Rafa sudah mempermalukan dia dan menghinanya di muka umum. Rafa tersenyum puas karena sudah berhasil mempermalukan Anthony. Melani dan Diandra pun tampak kaget. Sepertinya kali ini Rafa sudah berhasil memberi sedikit pelajaran pada Anthony.
“Raf, makasih ya, kamu sudah mau nolongin aku,” ujar Eddy tulus, dia sangat merasa berhutang budi pada Rafa.
“Lain kali kalau Anthony ngejahatin lo lagi, lo lawan aja dia! Lo nggak usah takut kalau emang lo nggak salah! Dia itu bukan siapa-siapa dan nggak pantes ngehina lo kayak tadi.” Rafa berkata pada Eddy.
Eddy manggut-manggut,”Iya, Raf. Makasih ya?! Kalau gitu, aku duluan ya?!”
“Iya.”
Eddy berlalu pergi dan tinggal Rafa seorang diri.
Melani bermaksud mau menghampiri Rafa dan mengatakan sesuatu padanya setelah melihat kejadian tadi. Tapi baru selangkah dia berjalan, Cyntia datang menghampiri Rafa. Langkah Melani terhenti mendadak.
“Raf, kamu nggak apa-apa, kan?!” Cyntia tampak cemas, rupanya tadi dia juga melihat kejadian tadi.
__ADS_1
“Nggak apa-apa.” Rafa masih memandangi ke arah Anthony pergi.
“Ya udah, yuk! Kita pergi aja! Lain kali kamu mendingan nggak usah terlalu ikut campur urusan orang! Aku takut terjadi apa-apa sama kamu, Raf.”
“Udah. Gue nggak apa-apa, kok.” Rafa dan Cyntia pun pergi berdua.
Melani tersenyum tipis melihat mereka. Di suatu arah, dia nggak sengaja melihat Kevin sedang memandangi Rafa dan Cyntia. Sudah bisa ditebak kalau ada apa-apa antara Kevin dan Cyntia. Mungkin memang benar, kalau Kevin memang menyimpan perasaan yang khusus terhadap Cyntia.
Melani mencari-cari seseorang sambil membawa dua gelas minuman yang tadi dibelinya dari kantin. Setelah muter-muter keliling kampus, akhirnya Melani menemukan seseorang yang sejak tadi dicarinya. Kevin sedang duduk sendirian di teras belakang kampus, tepatnya di salah satu anak tangga yang menghadap ke taman. Wajah Melani langsung ceria, lalu berjalan mendekati Kevin. Melani duduk di sebelah kevin.
“Hai, Vin!” sapa Melani.
“Hai!” Kevin menoleh sebentar ke tempat Melani, kemudian kembali melanjutkan lamunannya.
Melani memberikan segelas minuman ke hadapan Kevin dengan senyuman merekah,”Nih, Vin. Buat lo.”
“Iya.”
Kevin meneguk minumannya dengan santai.
“Sorry ya, Vin. Minumannya cuma kopi susu yang gue beli dari kantinnya Bi Ijah. Semoga aja lo suka, ya!” Melani merasa nggak enak hati memberikan minuman Kevin dengan harga yang sangat murah. Tapi Melani berpikir, harga mahal atau tidak itu nggak terlalu penting, yang penting niatnya tulus. Dan semoga saja Kevin juga berpikir begitu.
“Nggak apa-apa, kok. Gue juga selama ini suka banget beli makanan atau minuman dari warungnya Bi Ijah.”
__ADS_1
Melani kaget,”Yang bener, Vin?”
Kevin mengangguk.
“Tapi aneh aja gitu, Vin. Setahu gue, kalau orang-orang kaya kayak lo ini kan biasanya makan di kafe mahal deket kantinnya Bi Ijah itu. Terus, kok lo malah pergi ke kantinnya Bi Ijah?” Melani bingung dengan apa yang dikatakan Kevin.
Kevin tersenyum,”Emang lo pikir, kalau orang kaya itu nggak boleh makan di kantin?”
“Bukan gitu juga, sih. Cuma gue heran aja. Apa lo selera sama makanan di kantinnya Bi Ijah?”
“Lho? Kenapa musti nggak suka? Gue suka, kok. Bakso, soto ayam, nasi goreng, mie ayam…itu semua makanan kesukaan gue.”
“Wah…gue nggak nyangka, kalau ternyata orang kaya juga suka makan bakso sama soto ayam. Gue pikir cuma orang miskin kayak gue aja yang suka.” Melani nyengir.
“Mel, yang namanya selera itu nggak mengenal kaya atau miskin. Gue pikir, apapun makanannya kalau lidah kita cocok, pasti juga bakalan suka, kok.” Kevin bercerita sambil sesekali meneguk kopi susu hangatnya.
Melani manggut-manggut, dia sangat setuju dengan apa yang dikatakan Kevin. Melani pun baru sadar kalau ternyata Kevin orangnya asyik dan enak diajak ngobrol,”Bener juga lo, Vin. Gue juga setuju, tuh.”
Kevin hanya tersenyum. Nggak bisa dipungkiri lagi, Kevin itu ganteng banget kalau lagi senyum.
Melani memikirkan sesuatu. Dia teringat tentang tujuannya tadi nyamperin Kevin bukan buat ngomongin soal makanan, melainkan tentang masalah lain yang bagi Melani lumayan penting. Melani menelan ludah sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Kevin,”Nggg…Vin?”
“Iya?”
__ADS_1
“Gue…gue boleh nanya sesuatu yang agak pribadi nggak?”
TBC