My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
110


__ADS_3

Hal yang sama juga terjadi di rumah Melani. Pagi-pagi sekali Melani mengatakn pada Ayah dan Ibu untuk cuti kuliah selama beberapa waktu, dia mau pulang ke Jogja dengan alasan menenangkan pikiran. Sebenarnya Ayah dan Ibu kurang setuju dengan keputusan Melani, tapi mengingat belakangan ini banyak sekali masalah yang dihadapi Melani, membuat Ayah dan Ibu terpaksa mengizinkan Melani untuk pergi.


“Mel, kamu serius mau pulang ke Jogja?” Ibu terlihat masih sangat keberatan,”Kenapa sih, kok mendadak sekali?”


“Iya, Bu. Mel minta maaf kalau dadakan gini. Soalnya Mel butuh suasana yang tenang, dan cuma di Jogja tempat yang bisa bikin Mel tenang,” ujar Melani.


Ibu memeluk Melani dan menciumnya,”Kalau saja, Ayah dan Ibu bisa ikut ke sana, Mel. Tapi ayahmu nggak bisa meninggalkan pekerjaannya di sini.”


“Iya, Mel!” Ayah muncul dari dalam rumah dengan membawa sebuah kardus berisi sesuatu,”Sebenarnya Ayah dan Ibu juga ingin pulang kampung. Tapi kamu perginya dadakan sih, jadi Ayah juga belum sempat izin ke bos buat minta libur.”


Melani memeluk ayahnya,”Nggak apa-apa, Ayah, Ibu…Mel bisa sendiri, kok. Lagipula di sana kan ada Paman dan Bibi.”


“Ya sudah. Kamu baik-baik ya, selama ada di sana! Jangan lupa telepon kalau sudah sampai!” Ayah berpesan.


“Iya, Ayah.”


“Salam buat paman dan bibimu. Ini Ayah sudah bungkuskan oleh-oleh buat mereka!” Ayah menunjukkan sebuah kardus yang tadi dibawanya dari dalam.


“Itu bajaj-nya sudah datang!” Ibu berkata.


“Mel berangkat dulu ya, Ayah, Ibu!” Melani berpamitan dengan mencium tangan ayah dan ibunya.


“Hati-hati di jalan!”


“Iya.”


***


Di tempat lain, Rafa sedang dalam perjalanan menuju bandara dengan diantar sopir dan pengawalnya. Dia terus-menerus kepikiran tentang Melani. Hari-hari yang dilaluinya bersama Melani, sedikitpun nggak pernah hilang dari ingatannya. Rafa bukannya nggak tahu bagaimana perasaan Melani padanya, karena dia juga merasakan hal yang sama.


Tapi Rafa bersikeras untuk tidak mau tahu mengenai semua itu. Dia hanya ingin Melani bisa hidup bahagia tanpa harus kena sial karena dirinya.


“Semua itu bukan kesialan, buat gue itu cuma kecelakaan aja. Itu semua terjadi karena gue emang ceroboh, lo juga pernah bilang kan?!”


“Justru lo yang selama ini selalu nolongin gue, Raf…Lo itu dewa penolong gue Raf, bukan malah pembawa sial buat gue.”


“Lo tega banget sama gue? Kenapa sih, lo seneng banget ninggalin gue dan bikin gue sedih? Emang gue punya salah apa sama lo?”


Rafa mengubah posisi duduknya, merasa sangat gelisah karena teringat terus semua kata-kata Melani.


“Apa menurut lo, gue ini nggak pantes buat deket sama lo? Gue ini cuma orang miskin yang nggak pantes deket sama orang kaya kayak lo.”


“Gimana kalau gue bilang, gue rela sial seumur hidup gue asal gue bisa terus sama-sama lo?”


“Raf, apa belum cukup semua kesedihan yang gue rasain karena lo ninggalin gue? Kenapa sih, lo nggak pernah bisa ngertiin perasaan gue, Raf?”


Rafa juga terus terngiang-ngiang kata-kata Kevin tadi malam di telepon.


“Dia nolak gue karena di hatinya udah ada orang lain. Dan orang lain itu adalah lo.”


“Dia nggak peduli udah berapa kali lo bikin dia sedih dan nangis. Kenyataannya apapun yang udah lo lakuin ke dia, dia tetep suka sama lo. Dia tetep milih lo.”

__ADS_1


“Kalau emang lo cinta sama Melani, lo perjuangin dong cinta lo ke dia! Jangan malah kabur kayak gini!”


“Kalau gue mau, gue bisa rebut Melani dari lo, gue bisa paksa dia buat cinta sama gue dan milih gue. Tapi gue bukan tipe orang yang senang berbahagia di atas penderitaan orang.”


“Lama-lama bisa gila, gue!” Rafa jengkel pada dirinya sendiri.


“Tuan Muda, ada apa?” Pak Digo yang duduk di depan di sebelah sopir, khawatir melihat Rafa yang dari tadi terlihat gelisah terus.


“Nggak apa-apa.”


Melani kali ini sudah naik bus kota, dia duduk di dekat jendela dan terus kepikiran Rafa. Tujuannya untuk pergi ke Jogja adalah untuk menenangkan diri dan kalau bisa melupakan Rafa seperti yang diinginkan Rafa. Biarpun Melani sendiri nggak yakin apa dia bisa melupakan Rafa di kota tempat dia pertama kali bertemu dengan Rafa, yaitu Jogja?


”Seharusnya gue nggak pernah ngaku kalau gue itu Fandy.”


“Gue maunya lo jauhin gue! Kita lupain semuanya dan kembali menjalani hidup seperti biasa sebelum kita ketemu. Lo musti terbiasa buat ngejalanin kehidupan lo tanpa bayang-bayang gue!”


“Lagipula, selama ini kita juga nggak punya hubungan yang spesial, kan?! Jadi menurut gue, pasti gampang banget buat lo lupain gue.”


Semua kalimat yang diucapkan Kevin juga terus menggangu pikirannya. Kenapa sih, dia nggak bisa tenang sebentar aja untuk nggak inget-inget soal Rafa atau Kevin?


“Mel, gue cinta sama lo. Dan gue pengen lo jadi pacar gue. Gue janji, gue akan bahagiain lo terus. Gue nggak akan pernah bikin lo sedih.”


“Gue tahu lo deket sama Rafa. Mungkin lo suka sama Rafa, dan gue nggak akan maksa lo buat ngelupain Rafa, Mel. Kalau emang lo nggak suka sama gue, gue juga nggak akan maksa lo buat suka sama gue!”


“Tapi kalau Rafa selalu bikin lo sedih terus, gue nggak mau, Mel. Gue nggak sanggup ngelihat lo sedih terus, gue pengen lo bahagia.”


“Gue tahu ada cinta di hati lo. Tapi bukan buat gue.”


Melani mengubah posisi duduknya dengan membelakangi jendela.


”Lo yang nggak ngerti, Mel. Lo bisa nggak sih, sedikit aja ngerti dan ngehargain keputusan gue?”


“Kevin yang terbaik buat lo.”


“Buat apa gue cemburu? Kita kan nggak ada hubungan apa-apa.”


Melani memegang kepalanya, pusing.Aduh, pusing gue. Kalau Rafa nggak cemburu gue deket sama Kevin, apa emang ini berarti Rafa emang nggak pernah suka sama gue? Tapi gue ngerasa…


Bus kota berhenti di lampu merah. Mobil yang mengantar Rafa juga berhenti tepat di sebelah bus yang ditumpangi Melani berhenti. Terlihat di dalam mobil Rafa sedang bingung. Lagi-lagi dia ragu dengan keberangkatannya ke Kanada. Sedangkan Melani bingung kenapa terus-terusan kepikiran soal Rafa. Melani terus duduk membelakangi jendela, tanpa tahu mobil yang dinaiki Rafa berhenti tepat di sebelahnya.


Rafa sendiri juga tidak menyadari keberadaan Melani karena terlalu sibuk memikirkan tetap berangkat atau tetap tinggal. Sampai akhirnya lampu hijau menyala, Rafa dan Melani masih tidak menyadari posisi mereka yang tadi sempat berdekatan. Bus kota dan mobil Rafa berjalan berlawanan arah untuk menuju ke tempat tujuan masing-masing.


***


Sudah satu minggu Melani di Jogja. Pikirannya sudah sedikit tenang sekarang, biarpun sekali-sekali bayangan Rafa masih datang dalam mimpinya. Namun Melani sekarang sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Jogja yang merupakan kota kelahirannya itu memang satu-satunya tempat yang cocok untuknya melupakan semua masalah. Karena itu, Melani sudah bertekad tidak akan meninggalkan kota itu. Setelah nanti dia lulus kuliah, dia ingin kembali tinggal di Jogja bersama kedua orangtuanya. Kalaupun menikah, Melani tetap ingin tinggal di Jogja apapun yang terjadi.


Melani berjalan di tengah-tengah arena persawahan yang padinya sudah mulai menguning, bahkan juga sudah ada beberapa yang panen. Terlihat di kejauhan, serombongan orang-orang sedang bekerja sama untuk menuai padi mereka. Melani tersenyum bahagia biarpun sinar matahari siang menyengat kulit. Namun itu semua nggak menjadi masalah untuk Melani, dia senang bisa kembali merasakan panasnya sinar matahari di persawahan dan juga angin segar yang berhembus mengibar-ngibarkan rambut panjangnya.


Melani menemukan sebuah gubuk kecil beratap jerami di tengah sawah. Dia pun segera menghampiri gubuk itu dan menikmati rasanya duduk di gubuk dengan semilir angin yang terus datang menerpa tubuhnya. Segarnya udara di situ sangat membuat Melani merasa nyaman.


Melani melihat burung-burung camar terbang di atas gubuk, dia tersenyum memandang burung-burung camar itu. Rasanya sudah lama sekali Melani tidak melihat semua keindahan ini semenjak dia pindah ke Jakarta.

__ADS_1


Melani mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dua buah novel berjudul White Love kini berada di tangannya. Satu milik Rafa dan yang satu milik Melani. Novel itu mengingatkan Melani pada Rafa. Dulu mereka juga sering pergi ke sawah, selain cuma sekedar jalan-jalan aja, mereka juga biasanya membantu orang-orang menuai padi secara iseng-iseng. Melani kembali tersenyum teringat masa lalunya yang indah. Waktu itu Melani merasa sangat bahagia dan berharap kenahagiaan itu tidak akan pernah hilang.


Namun ternyata semua kenangan manis itu hanya tinggal masa lalu, dan nggak akan pernah ada lagi kebahagiaan seperti itu di tempat ini. Rafa sudah pergi, dia benar-benar ingin melupakan Melani untuk selamanya. Melani memandangi kedua novel yang ada di tangannya itu secara bergantian dengan tatapan sedih.


“Raf…sekarang udah nggak ada apa-apa lagi di tempat lo yang bisa ngingetin lo sama gue. Novel ini adalah satu-satunya benda untuk lo bisa inget sama gue pun, udah lo balikin ke gue. Apa sekarang lo udah bisa ngelupain gue?”


Melani menatap lurus ke depan, terlihat olehnya orang-orang sedang sibuk menuai padi. Mereka terlihat sangat bahagia biarpun bekerja di bawah sinar matahari yang panas. Semuanya bahagia, kecuali Melani. Meskipun sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakan Rafa, Melani tetap belum bisa melupakannya. Entah butuh waktu berapa lama untuk bisa melupakan Rafa?


“Sendirian aja, Neng?”


“Iya,” Eh? “Apa?” Melani buru-buru menoleh ke samping. Dia melihat Rafa duduk di sebelahnya dengan pandangannya lurus ke depan.


Melani kaget, kok dia bisa melihat Rafa di situ? Bukannya Rafa ada di Kanada sejak seminggu yang lalu? Melani mulai berpikir kalau ini mimpi. Mungkin itu terjadi karena Melani terlalu memikirkan Rafa. Melani memalingkan wajahnya dan berharap setelah nanti dia melihat ke tempat Rafa, Rafa sudah tidak ada lagi di sana karena ini pasti hanya halusinasinya saja.


Melani kembali menoleh, dia tetap melihat Rafa di dekatnya,”Lho? Kok nggak ilang, sih?” Melani bingung.


Rafa tetap santai tanpa melihat ke arah Melani yang sedang kebingungan sendiri menentukan mana mimpi dan mana kenyataan.


Karena belum yakin, Melani mencubit pipi Rafa untuk membuktikan Rafa yang sekarang ada di dekatnya itu nyata atau hanya halusinasi saja.


“Aduh, sakit tahu! Ngapain pake nyubit-nyubit pipi segala?” semprot Rafa.


Melani masih bingung,”Ih, kok beneran ini? Lo beneran Rafa?”


“Ya iyalah, gue Rafa. Emangnya gue hantu?”


“Rafa!” karena terlalu senang, Melani dengan spontan memeluk Rafa. Tapi begitu sadar, dia segera melepaskan pelukannya dan bersikap biasa-biasa saja seperti nggak pernah terjadi apapa,”Sorry.”


Rafa diam. Cuek.


“Kok lo bisa ada di sini, sih?”


“Gue butuh hiburan.”


“Bukannya lo ada di Kanada?” tanya Melani.


“Gue nggak jadi pergi ke Kanada.”


“Kenapa?”


“Ya suka-suka gue dong, gue mau pergi apa enggak?” Rafa cuek.


“Terus darimana lo tahu kalau gue di sini? Kok lo tiba-tiba nongol aja?” Melani heran.


“Ada, deh.”


“Ih…”


“Kenapa? Lo nggak suka?”


“Katanya lo nggak mau deket-deket sama gue, lo mau jauhin gue, mau pergi buat ngelupain gue, katanya lo pembawa sial guat gue? Terus kenapa sekarang malah ke sini?” Melani meradang, padahal hatinya sungguh bahagia ada Rafa di dekatnya.

__ADS_1


“Ngeledek, ngeledek?!Terus aja ngeledekin gue!”


TBC


__ADS_2