
Di kampus, Kevin sibuk mencari-cari Rafa. Semua orang sudah ditanyainya tapi nggak ada yang melihat Rafa hari ini, padahal setahu Kevin hari ini Rafa ada jadwal kuliah. Saat dicarinya di kelas, Rafa juga nggak ada. Dosen juga nggak tahu kenapa Rafa hari ini nggak masuk. Kevin juga masih terus mencoba untuk menghubungi HP nya, tapi tetap nggak nyambung.
Sebelumnya Kevin juga sudah pergi ke ANA Group tapi Rafa nggak ada di sana.
“Nih anak sebenernya kemana, sih? Nggak tahu apa dia, kalau Melani nyariin dia?” Kevin bingung,”Atau gue telepon ke rumahnya aja kali, ya?” Kevin menelepon ke rumah Rafa, dia terlihat sangat nggak sabar menunggu jawaban telepon di ujung sana.
“Halo…selamat siang!” terdengar suara sapaan ramah seorang wanita di ujung sana.
“Halo? Rafa ada?” tanya Kevin.
“Maaf, ini dari siapa?”
“Ini saya Kevin.”
“Tuan Muda sedang tidak ada di rumah. Apa ada yang bisa saya sampaikan kepada beliau?” tanya seorang wanita yang ternyata salah satu pelayan di rumah Rafa itu dengan suara yang ramah dan sopan.
“Nggak ada di rumah? Memangnya Rafa kemana?”
“Mohon maaf, kalau masalah itu saya kurang tahu!” ujar si pelayan itu menyesal.
“Telepon dari siapa?” tanya papa Rafa yang kebetulan melintas di dekat pelayan. Suara Papa pun bisa didengar oleh Kevin.
Si pelayan menutup gagang telepon dengan telapak tangannya, lalu membungkukkan badannya kepada papa Rafa,”Maaf, Tuan Besar. Ada yang mencari Tuan Muda.”
Papa mengertukan alisnya,”Ada yang mencari Tuan Muda?”
“Iya, Tuan Besar.”
“Ya sudah, sini biar saya yang terima!”
Pelayan menyerahkan gagang telepon dengan kedua tangannya, lalu berpamitan pergi dengan sopan.
“Halo…?” Papa menempelkan gagang telepon di telinganya.
“Oom Alex. Ini saya Kevin.”
Papa terlihat senang mendengar suara Kevin,”Kevin??? Ya ampun, Oom sudah lama sekali tidak dengar suara kamu. Bagaimana kabar kamu?”
“Saya baik, Oom. Oom kapan pulang dari luar negeri?” Kevin jadi berbasa-basi dengan papanya Rafa.
“Sudah dari beberapa hari yang lalu. Oom sengaja ambil cuti kerja untuk beberapa minggu. Biasa, diprotes sama Rafa karena Oom terlalu sibuk. Hehehe…"
“Oh iya, Oom.” Kevin jadi teringat dengan tujuannya menelepon tadi,”Rafa pergi kemana ya, Oom? Kok hari ini dia nggak ada di kampus?”
Papa heran,”Lho? Kok bisa nggak ada? Memang kamu nggak coba hubungi HP nya?”
“Udah saya coba berkali-kali Oom, tapi tetep nggak aktif.”
"Apa mungkin dia di kantor?"
__ADS_1
"Nggak ada juga om sya baru dari sana."
Papa teringat dengan sikap aneh Rafa kemaren, apa mungkin Rafa sedang ada masalah dengan Kevin,”Ngg…begini, Vin. Dari kemaren Oom lihat, Rafa memang bersikap aneh.”
“Aneh bagaimana maksud Oom?”
“Itu, kemaren Oom itu lihat dia pulang dengan muka kusut dan nggak bersemangat sama sekali. Waktu Oom tanya kenapa, dia nggak mau cerita apa-apa sama Oom.”
“…”
“Dari kemaren Rafa nggak keluar kamar kalau nggak pas makan saja. Terus makannya juga sedikit sekali. Oom tahu dia sedang memikirkan suatu masalah, Vin. Apa kalian sedang ada masalah?” Papa sangat ingin tahu.
“Oh, enggak kok, Oom. Saya sama Rafa nggak ada masalah apa-apa, kok.” Kevin buru-buru menjelaskan.
“Terus, Rafa sedang ada masalah dengan siapa, dong, kalau begitu?” papa sangat cemas. "Di kantor juga sepertinya tidak ada masalah."
“Nggg…gini aja, Oom. Nanti saya akan cari Rafa dan coba tanya sama dia. Siapa tahu Rafa mau terbuka kalu sama saya!”
“Oh iya, iya, tolong ya, Vin!” ujar Papa penuh harap.
“Iya, Oom.” Kevin memasukka HP ke saku celananya, dan kembali mencari Rafa.
“Kevin, Kevin!” Diandra datang tergopoh-gopoh menghampiri Kevin bersama Aldo,”Vin, gimana keadaannya Melani? Dia nggak apa-apa kan, Vin?” Diandra bertanya dengan nggak sabar.
“Iya, Melani nggak apa-apa kok, Di. Keadaaannya udah membaik. Tadi gue baru jenguk dia,” jawab Kevin.
“Nggg…Di, lo lihat Rafa nggak?”
Diandra dan Aldo saling beradu pandang, lalu kembali menatap Kevin.
“Rafa? Enggak tuh, Vin. Dari tadi kita nggak lihat Rafa ya, Do?” Diandra bertanya pada Aldo.
Aldo mengangguk,”Iya, kita nggak lihat Rafa dari tadi. Emangnya kenapa sih, Vin?”
“Ngg, nggak kok. Nggak ada apa-apa. Ya udah, gue cabut duluan, ya?!” Kevin ngeloyor pergi.
“Tumben banget Kevin nyariin Rafa?” Aldo heran.
“Nggak tahu!” Diandra mengangkat kedua bahunya,”Eh, ntar pulang kuliah kita ke rumah sakit, yuk! Gue pengen jengukin Melani!”
“Oke, deh!”
***
“Oh…jadi ceritanya sekarang kalian udah pacaran, nih?” tanya Melani.
Diandra dan Aldo saling pandang dengan malu-malu. Pipi Diandra memerah karena malu sekali, soalnya baru kali ini Diandra pacaran, apalagi pacarnya itu seganteng Aldo.
“Iya, Mel. Gue udah jadian sama Diandra kemarin!” Aldo berkata.
__ADS_1
“Ya, selamet deh! Gue ikut seneng kalau kalian seneng.”
“Makasih ya, Mel. Lo emang sahabat gue yang paling baik!” Diandra memeluk Melani.
Melani bahagia sekali akhirnya bisa melihat Diandra bahagia bersama orang yang benar-benar bisa menerimanya apa adanya. Setelah perjuangan yang panjang, akhirnya Diandra menemukan kebahagiaannya bersama Aldo. Aldo memang cowok yang baik dan dia cocok sekali dengan Diandra. Melani bisa merasakannya dulu saat pertama kali Aldo dan Diandra bertemu. Mereka bisa cepat akrab dan akhirnya bisa jadian seperti sekarang ini.
Pintu terbuka, seorang suster masuk,”Selamat siang!”
Melani dan Diandra melepaskan pelukan mereka begitu suster masuk.
“Iya, Sus!”
“Mbak Melani, ini ada kiriman bunga untuk Mbak!” suster memberikan seikat bunga mawar putih ke Melani.
Melani menerima bunga itu dengan perasaan bingung,”Dari siapa, Suster?”
“Maaf, saya tidak tahu. Tadi ada seorang laki-laki ganteng yang nitipin bunga itu ke saya, tapi saya tidak tahu namanya, Mbak!”
“Cowok?” Diandra bingung,”Siapa, sih?”
Melani mengamati mawar putih itu, dan melihat sebuah kartu ucapan di bunga itu ‘SEMOGA CEPAT SEMBUH’, tapi nggak ada nama pengirimnya.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu!” suster berpamitan.
“Iya, Suster!”
Suster membuka pintu dan keluar.
“Wah, lo dapet bunga dari siapa tuh, Mel?” Diandra meledek.
Melani terlihat bingung dengan seikat bunga mawar putih yang sekarang ada di tangannya itu. Siapa sih sebenarnya yang mengirimkan bunga untuknya? Siapa orang yang bisa tahu bunga kesukaannya itu? Sepertinya seingat Melani dari dulu dia tidak pernah mengatakan pada siapapun kalau mawar putih itu adalah bunga kesukaannya. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba ada seseorang yang mengirimkan bunga itu untuknya? Siapa sih, sebenernya orang itu? Malah nggak ada nama pengirimnya, lagi. Kalau memang Kevin atau Anthony, kenapa nggak langsung datang aja? Lagipula bukannya tadi pagi mereka sudah datang membawakan bunga, terus ngapain ngirimin bunga lagi? Eh, tapi tunggu dulu…sepertinya Melani teringat sesuatu yang sangat penting.
“Gue harap lo masih tetep suka sama bunga itu!”
Melani teringat saat Rafa memberinya bunga mawar putih. Dan Melani juga ingat, hanya Rafa yang tahu kalau bunga kesukaan Melani itu adalah mawar putih. Jangan-jangan…
“Rafa!” seru Melani tiba-tiba.
Diandra dan Aldo yang tadinya sedang ngobrol, kaget mendengar Melani tiba-tiba menyebut nama Rafa.
“Hah? Rafa?” Diandra mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, tapi tidak menemukan siapa-siapa selain dia, Melani, dan Aldo. Lalu kenapa Melani menyebut nama Rafa,”Lo kenapa sih, Mel? Kok tiba-tiba nyebut nama Rafa?”
“Rafa.” Melani membuka selimutnya, dan turun dari tempat tidur dengan membawa kantong infusnya.
“Lho, lho, Mel? Lo mau kemana?” Diandra bingung tiba-tiba Melani mau pergi.
“Iya, Mel. Lo mau kemana, sih?” Aldo ikutan bingung.
TBC
__ADS_1