
Rafa terdiam di tempat. Pikirannya sedang kacau balau. Di satu sisi dia memikirkan tentang tuduhan Anthony yang mengatakan kalau dirinya sebagai pembawa sial untuk Melani dan Rafa pun memang mengiyakan semua itu. Dan di sisi lain Rafa mencemaskan Melani yang sekarang ini sedang luka parah.
Dia sebenarnya ingin sekali segera pergi ke rumah sakit dan melihat keadaan Melani, tapi tiba-tiba saja kakinya terasa berat untuk melangkah, sepertinya Rafa memang tidak boleh untuk pergi ke sana.
***
Rafa duduk di belakang setir, sedang mengemudiakn mobilnya menuju suatu tempat tapi yang jelas bukan menuju rumah sakit. Meskipun sangat ingin pergi ke sana, tapi Rafa nggak mungkin pergi ke sana. Rafa nggak ingin menemui Melani, Rafa nggak mau Melani terus sial gara-gara dirinya.
“Lo nggak usah ngedeketin Melani lagi! Karena dia akan selalu sial kalau deket sama lo.”
“Kalau lo nggak pengen Melani terus-terusan sial, lo jauhin dia dan jangan deketin dia lagi! Kecuali kalau lo pengen Melani terus sial, ya nggak apa-apa. Lo deketin aja dia terus. Ntar kalau Melani sampai mati gara-gara kesialan yang lo bawa, baru lo puas!”
“Sekarang semuanya terserah lo. Lo pikirin sendiri deh, apa semua yang gue bilang tadi itu bener apa enggak?”
Rafa memukul setirnya. Semua kata-kata Anthony terus terngiang di kepalanya. Memang benar semua itu, kejadian Melani jatuh dari tangga, di Lab. Fisika, di lapangan basket, dan kejadian tabrakan yang baru saja menimpa Melani itu adalah karena dia. Kalau saja Melani nggak menolongnya dari kulit pisang, Melani nggak akan sampai jatuh, kalau Melani nggak terkena cairan percobaan fisikanya tangan Melani nggak mungkin sampai terbakar, kalau Rafa nggak ceroboh ngelempar bola basket sembarangan, kepala Melani nggak akan tertimpa bolanya, kalau tadi Melani nggak menghampirinya saat beli es tebu, Melani nggak akan tertabrak motor, dan kalau Rafa nggak membuat Cyntia cemburu, Melani nggak akan dikerjai sama Cyntia sampai hampir diperkosa sama preman-preman. Itu semua salah Rafa.
__ADS_1
“Ini semua salah gue. Semua salah gue!” Rafa putus asa,”Gue emang pambawa sial buat Melani. Kenapa sih, selama ini gue nggak pernah sadar kalau semua kejadian yang udah nimpa Melani itu semuanya salah gue? Mustinya gue nggak boleh deket-deket sama dia. Gue nggak boleh terus-terusan bikin dia sial!”
HP Rafa berbunyi, ada telepon masuk dari Kevin. Mungkin Kevin mau mengabari tentang kondisi Melani. Rafa buru-buru menjawabnya.
“Halo…?”
“Raf, lo sekarang dimana, sih? Kenapa lo nggak ke rumah sakit?” tanya Kevin yang sedang berada di lobi rumah sakit.
“Gue…gue di…” Rafa bingung mencari alasan,”Gimana keadaannya Melani?” tanya Rafa cemas.
Rafa menghembuskan napas lega. Hatinya sangat plong sekali mendengar kalau Melani baik-baik saja. Dia nggak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi apa-apa pada Melani.
“Terus, lo kapan ke sini?”
“Nggg…sorry, Vin. Kayaknya gue nggak bisa ke sana sekarang!”
__ADS_1
Kevin bingung, nggak biasanya Rafa cuek begitu sama Melani? Padahal tadi dia juga lihat sendiri kalau Rafa panik sekali melihat Melani kecelakaan. Tapi kok sekarang Rafa malah cuek dan terkesan nggak peduli dengan Melani.
“Lho? Kok nggak bisa gimana sih, Raf? Lo nggak khawatir sama Melani? Lo nggak pengen lihat keadaan dia?”
“Kayaknya gue nggak perlu ke sana, deh! Toh gue juga udah tahu kalau Melani baik-baik aja. Lagipula di sana kan udah ada lo, Vin. Lo pasti bisa kan ngejagain Melani sendirian? Masa musti gue juga yang ngejagain dia?” Rafa berkata santai.
“Emangnya lo mau kemana sih, Raf? Kok sampai-sampai nggak ada waktu buat jengukin Melani?” Kevin semakin nggak mengerti.
“Gue ada rapat penting di kantor."
“T-tapi, Raf…”
“Sorry, Vin. Gue udah telat, nih. Makasih udah mau ngabarin gue!” Rafa memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan langsung me-nonaktif-kannya.
“Halo??? Halo, Raf? Ih…kok diputus, sih?” Kvein mencoba menghubungi Rafa lagi karena masih penasaran, tapi malah nggak aktif,”Kok nggak aktif? Nih anak sebenernya kenapa, sih? Aneh banget hari ini?”
__ADS_1
TBC