
“Kenapa lo bisa tahu semuanya tentang…tentang kejadian yang udah lama banget itu?” meskipun diliputi dengan rasa penasaran yang begitu besar, namun nggak bisa dipungkiri kalau saat ini Anthony merasa gugup, tubuhnya gemetar hebat.
Rafa menatap Anthony yang menatapnya dengan wajah sejuta pertanyaan,”Lo beneran pengen tahu gue siapa?”
Anthony menelan ludah, dia amat sangat penasaran dengan siapa dia bicara sekarang ini. Sedekat-dekatnya Rafa dengan Melani, Anthony tahu Melani tidak akan pernah menceritakan tentang kejadian itu pada Rafa. Dan tidak mungkin Rafa tahu kalau dia tidak melihat sendiri kejadiannya dengan langsung.
Rafa masih tetap menatap Anthony, dan kali ini dia lebih mendekatkan wajahnya ke wajah Anthony. Rafa melepas kacamata hitamnya. Sekarang dia menatap mata Anthony dengan mata telanjang tanpa kacamata,”Lo lihat sekarang! Siapa gue?”
Anthony dengan serius menatap mata Rafa seperti yang dulu pernah dia lakukan saat pertama kali bertemu dengan Rafa. Waktu itu sebelum Anthony mengenali siapa Rafa, Rafa sudah keburu menutup matanya dengan kacamata hitamnya. Tapi kali ini Anthony yakin akan bisa mengetahui siapa Rafa sebenarnya. Untuk beberapa saat, tiba-tiba ingatan Anthony seperti kembali ke masa lalu, dimana dulu dia pernah mengerjai seorang cowok culun berkacamata tebal saat OSPEK di SMU nya di Jogja.
“Apa lo? Lo berani sama senior, hah?” Anthony mencengkeram krah baju cowok culun itu, sampai cowok itu ketakutan sekali.
“A-ampun, Kak! Ampun!” si cowok itu ketakutan dan tubuhnya gemetaran hebat.
“Eh, lo kalau mau selamet di sekolah ini, lo jangan pernah sekali-sekali cari masalah sama gue!” Anthony membentak-bentak cowok itu.
“I-iya, Kak. Maaf!”
Anthony menatap mata cowok itu di balik kacamata tebalnya, sebuah tatapan mata yang sangat nggak disukai oleh Anthony,”Eh, kunyuk! Lo berani-beraninya ya, mandang gue kayak gitu? Jangan pernah ngelihatin gue dengan tatapan kayak gitu! Ngerti lo?!”
“M-maaf, Kak. Maaf.”
__ADS_1
Anthony mendorong cowok itu sampai tersungkur ke tanah.
Rafa masih terus memandang Anthony dengan tatapan mata yang selama ini nggak pernah dia tunjukkan ke orang lain. Anthony kembali teringat tentang kejadian dulu.
Anthony menyeret cowok culun itu ke kamar mandi dengan bantuan kedua temannya yang bernama Ega dan Nino, lalu mengguyur kepala cowok itu dengan air yang dia ambil menggunakan gayung. Sementara cowok itu menggigil kedinginan, Anthony dan kedua temannya tertawa terbahak-bahak seakan-akan mereka sedang menonton pertunjukan topeng monyet. Di jalan, Anthony sengaja menabrak cowok itu yang sedang menaiki sepedanya, akibatnya dia jatuh dan tangannya luka. Anthony dan kedua temannya malah senang dan menertawakannya.
Selain kejadian itu, masih banyak kejadian-kejadian yang Anthony lakukan untuk mengerjai cowok malang itu. Seperti sengaja melepaskan anjing penjaga sekolah, lalu anjing yang dikenal galak itu mengejar cowok culun itu sampai dia harus seharian berada di atas pohon belakang sekolah, Anthony dan kedua temannya menertawakannya. Lalu masih banyak lagi kejadian yang lain, dan semuanya kini diingat oleh Anthony.
“Kenapa diem? Udah tahu siapa gue? Udah inget sekarang?” tanya Rafa.
Anthony tampak shock sekali, sepertinya sekarang dia sudah tahu siapa cowok yang sekarang ada di depannya itu. Orang yang selama ini selalu mencampuri urusannya dengan Melani, adalah orang yang sama yang dulu pernah dia jadikan bulan-bulanan semasa SMA.
Meskipun masih terlihat kurang percaya, tapi Anthony yakin dengan tatapan mata Rafa yang sangat dikenalinya itu, mereka berdua adalah orang yang sama. Anthony bingung, kenapa dia bisa berubah menjadi seperti sekarang ini? Seakan dunia sudah berbalik.
“Siapa?” tanya Rafa.
“…”
“Siapa gue? Bilang!”
“F-Fandy?” ujar Anthony terbata, dia masih sulit untuk percaya. Karena mereka berdua sangat beda di mata Anthony. Rafa dan Fandy?
__ADS_1
“Alfandy Putra. Cowok culun dan penakut, yang dulu pernah jadi bulan-bulanan lo waktu SMA, Alfandy Putra yang kehilangan teman baiknya gara-gara lo, Alfandy Putra yang gagal mendapat beasiswa gara-gara lo, dan Alfandy Putra yang sekarang sangat membenci lo. Itu adalah GUE!” Rafa berkata dengan menanamkan kebencian di setiap kata yang diucapkannya.
Anthony terkejut, ternyata dugaannya nggak meleset. Soalnya dari sekian banyak murid yang dulu pernah dia jadikan bulan-bulanan waktu SMA, cuma ada satu yang namanya Fandy,”T-tapi…itu nggak mungkin.” Anthony masih saja berusaha keras untuk menampiknya.
Rafa tersenyum sinis,”Kenapa nggak mungkin, Tuan Anthony? Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin.”
Anthony sengaja memalingkan wajahnya dari Rafa, tapi justru dia malah melihat Melani berdiri di dekat mereka dengan raut wajah sama terkejutnya dengan Anthony tadi, saat mengetahui tentang siapa Rafa sebenarnya.
“Melani?”
Rafa kaget mendengar Anthony menyebut nama Melani. Dia menoleh dan melihat Melani sedang berdiri terpaku memandnag ke arahnya. Rafa nggak pernah mengira kalau akan ada Melani di situ dan mendengarkan semua percakapannya dengan Anthony.
Melani mendekati Rafa dengan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cowok itu. Melani menatap mata Rafa dan berusaha mencari kebenaran tentang apa yang baru didengarnya barusan. Dia ingin membuktikan sendiri, apakah semua itu benar atau tidak. Selama ini Melani selalu merasa kalau Rafa itu adalah Fandy, karena dalam diri mereka terdapat banyak sekali kemiripan.
Mulai dari lagu kesukaan, makanan kesukaan, novel White Love, dan beberapa faktor lain yang memang sangat mendukung untuk membuktikan bahwa Rafa adalah Fandy.
Melani ingat, dulu dia pernah bertukar novel yang berjudul White Love dengan Fandy yang masing-masing sudah ditandatangani oleh mereka. Lalu apa mungkin novel yang tempo hari dilihatnya di mobil Rafa itu adalah novel milik Melani yang dulu dia berikan pada Fandy?
“Cinta itu tidak untuk dikatakan, tapi untuk dirasakan. Jika kamu mengatakan kamu cinta aku, kamu juga harus bisa merasakan cinta di hati aku. Kalau kamu tidak bisa merasakan, tidak bisa dibilang cinta, bisa jadi hanyalah sebuah ambisi dan bukan cinta!”
“Kamu suka bagian yang itu, ya?” tanya Melani.
__ADS_1
TBC