
“Iya, sama-sama, Fa. Gue juga seneng kali, bisa bantu lo!” jawab Cyntia santai.
“Uh…makasih banget, ya! Lo emang my best best best friend, tahu nggak sih.”
Cyntia hanya tersenyum.
“Oh iya, by the way…gimana hubungan lo sama Rafa? Baik-baik aja, kan! Soalnya kayaknya gue perhatiin sekarang kalian udah jarang banget jalan bareng. Gue malah sering lihat Rafa jalan sama itu tuh, asistennya!” Syifa melirik ke arah Melani yang malah sengaja memalingkan wajahnya ke luar jendela.
“Iya, sih. Tapi ya, gue maklum aja kali, Fa. Namanya juga BOS sama ASISTEN, pasti lebih sering jalan bareng.” Cyntia sengaja berkata demikian supaya Melani sadar saja, kalau dia dan Rafa hanya sebatas bos dan asisten.
“Oh gitu!” Syifa lagi-lagi melirik ke belakang, Melani masih tetap pada posisi semula, memandang keluar jendela,”Tapi Cyn…emang lo nggak takut, kalau Rafa sering-sering deket sama asistennya? Jangan-jangan ntar cewek lo direbut lagi, sama dia.”
Cyntia melihat Melani dari kaca spion di atas kepalanya, Melani kelihatan nggak peduli,”Iya juga sih, Fa. Tapi mana mungkin sih, seorang Beryl Rafael Pradipta, pewaris tunggal seorang pengusaha kaya raya kayak Oom Alex, bakalan suka sama asistennya? Ya nggak mungkinlah.”
__ADS_1
Syifa manggut-manggut. Dia tahu meskipun Melani tetap terlihat nggak peduli dan pura-pura nggak mendengarkan, tapi Syifa yakin Melani pasti panas banget disindir seperti itu,”Lo bener, Cyn. Rafa itu kan ganteng, kaya lagi. Mana mau dia sama cewek yang biasa-biasa aja. Ya udah pastilah, kalau dia pasti bakal tetep milih lo, Cyn. Iya kan!”
“Iya, pastilah. Dan apapun yang terjadi, gue akan terus pertahanin Rafa. Gue nggak mau punya nasib sama kayak semua mantan-mantan dia, cuma karena seorang ASISTEN.” Cyntia semakin semangat menyindir Melani karena yakin Melani sudah merasa tersindir. Kalau dilihat dari duduknya, Melani sudah mulai merasa nggak nyaman.
“Semoga aja ya, tuh asisten tetep tahu diri kalau posisinya itu cuma di bawah. Cuma jadi asisten pribadi doang. Biar dia nggak kegatelan sama cowok lo!” Syifa tampaknya senang sekali membantu Cyntia memojokkan Melani. Dan speertinya ini semua sudah direncanakan sebelumnya oleh mereka berdua.
Cyntia tersenyum puas. Dia yakin Melani sudah terpengaruh dan merasa nggak nyaman, Rasain lo, Mel. Siapa suruh lo ngerebut semua perhatian Rafa dari gue?
Jujur, Melani kesal sekali mendengar Cyntia dan Syifa terus-terusan menyindirnya, tapi dia sengaja diam saja dan pura-pura nggak mendengar.
Tapi… tiba-tiba saja terlintas wajah Rafa di kepala Melani, Lho? Gue kenapa sih, ini? Dalam situasi kayak gini, gue masih keinget aja sama tampang tuh cowok? Semoga aja, tiga bulan cepet berlalu, biar gue bisa kembali ngejalanin kehidupan gue seperti dulu. Gue nggak mau sampai punya masalah sama siapapun gara-gara Rafa.
***
__ADS_1
Sampai malam hari, Melani belum juga bisa menghubungi Rafa. Melani sudah berkali-kali mencoba menelepon Rafa, tapi HP nya tetap nggak aktif. Melani sampai sebal dibuatnya.
“Aduh…ini si Rafa kemana, sih? Dari tadi pagi HP nya nggak bisa dihubungi. Nih cowok pergi kemana sih, sebenernya?” Melani uring-uringan sendiri,”Lho? Gue ngapain sih, kok jadi kebingungan nggak jelas gini? Ngapain coba, gue pake sibuk ngehubungin Rafa? Emangnya gue mau ngapain?” Melani bingung.
HP dilempar ke tempat tidur, dia terduduk lemas di pinggiran tempat tidur. Saat melihat meja belajarnya, nggak tahu kenapa Melani jadi malas sekali untuk belajar malam ini. Pikirannya masih tertuju pada Rafa yang sampai sekarang belum jelas kabarnya. Sebenarnya Melani nggak mau terlalu memikirkanya, tapi tetap saja kepikiran Rafa terus.
“Rafa…lo kemana sih, sebenernya? Sehari aja nggak tahu kabar lo, kok gue jadi kalang kabut kayak gini, ya?” Melani memukul-mukul kepalanya sendiri,”Melani, lo kenapa sih? Sadar dong, sadar! Rafa itu bukan siapa-siapa lo. Ngapain juga lo mikirin dia terus?” Melani memaki-maki dirinya sendiri.
Melani mendengar HP nya berbunyi. Dia kaget dan langsung mengira kalau itu telepon dari Rafa. Melani segera saja menyambar HP nya. Tapi begitu melihat nama ‘Cyntia’ di layar HP, senyuman di wajah Melani lenyap seketika.
“Hah? Cyntia? Mau ngapain dia malem-malem telepon gue?” Melani bingung dan menjawab telepon drai Cyntia dengan perasaan ragu,”Halo, Cyn?”
“Mel, lo sekarang bisa ke rumah gue nggak? Gue butuh bantuan lo, nih!” ujar Cyntia yang waktu itu sednag duduk di depan meja riasnya.
__ADS_1
“Sekarang?” Melani melongok jam beker berbentuk buah apel yang bertengger manis di atas meja. Jarum jam menunjukkan pukul 22.00 WIB,”Tapi ini udah malem banget, Cyn. Udah jam sepuluh malem. Apa nggak bisa besok aja?”
TBC