My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
101


__ADS_3

Melani kecewa, Rafa tetap nggak mau mendengarkan dia. Dia baru sadar sekarang kalau Rafa benar-benar keras kepala,”Raf, gue minta lo jangan kayak gini, dong! Kalau lo udah bukan bos gue lagi, lo juga udah nggak berhak lagi buat merintah-merintah gue. Lo nggak berhak nyuruh gue buat jauhin lo. Itu hak gue buat deket sama siapapun.”


“Tapi gue nggak mau lagi lo deket-deket sama gue.”


“…”


“Gue maunya lo jauhin gue! Kita lupain semuanya dan kembali menjalani hidup seperti biasa sebelum kita ketemu. Lo musti terbiasa buat ngejalanin kehidupan lo tanpa bayang-bayang gue!”


Melani menangis.


“Dan lo tenang aja, gue nggak akan ganggu keluarga lo atau pun ngejadiin ayah dan ibu lo sebagai budak gue. Kalian udah bebas dari semua utang-utang kalian ke gue.”


“…”


“Lagipula, selama ini kita juga nggak punya hubungan yang spesial, kan?! Jadi menurut gue, pasti gampang banget buat lo lupain gue.”


“…”

__ADS_1


Rafa tersenyum, namun sangat terlihat jelas ada kesedihan dari sorot matanya,”Oke. Sekarang lo udah bebas dan selamet buat lo!”


“Raf…?” Melani memegang tangan Rafa saat Rafa mau pergi,”Jangan pergi lagi, Raf!” Melani memandang Rafa dengan air mata berkumpul di pelupuk matanya, bahkan sebagian sudah ada yang mengalir membasahi pipinya.


“Lo nggak sungguh-sungguh, kan?!”


Rafa perlahan melepaskan pegangan tangan Melani,”Sorry. Tapi ini yang terbaik buat kita.”


“RAFA!” Melani berteriak memanggil Rafa yang sudah berlalu meninggalkannya. Melani menangis semakin deras. Dulu saat Rafa meninggalkannya selama lima tahun, Melani merasa ada bagian dari dirinya yang hilang. Dan sekarang ketika Rafa memutuskan untuk meninggalkannya lagi, rasa kehilangan itu semakin besar.


  Melani terduduk lemas di lantai, dia memandangi sobekan-sobekan surat perjanjian kerjanya dengan Rafa yang berserakan di lantai. Perjanjian itu adalah sesuatu yang selama ini membuat dia dekat dengan Rafa, satu-satunya alasan yang mengikatnya untuk terus dekat dengan Rafa. Tapi sekarang surat itu sudah hancur, dihancurkan oleh Rafa sendiri, persis dengan suasana hati Melani yang sekarang juga sedang hancur. Melani berpikir, apa kalau tanpa adanya perjanjian itu, dia tidak bisa lagi terus dekat dengan Rafa? Kenapa Rafa tega melakukan itu padanya? Melani terus menangis sambil tangannya memunguti satu persatu potongan-potongan keras itu.


“Mel?” panggil Kevin.


Melani tetap menangis dan memunguti kertas-kertas kecil yang ada di depannya.


Melihat Melani menangis, Kevin jadi semakin cemas,”Mel, lo kenapa nangis? Ada apa?”

__ADS_1


Karena Melani terus menangis tanpa henti, Kevin tahu pasti baru saja terjadi sesuatu dengannya. Kevin memeluk Melani untuk menenangkannya. Melani menangis dalam pelukan Kevin.


“Udah, Mel! Lo jangan nangis lagi, ya! Gue akan selalu ada di sini buat lo!”


“…”


“Udah, jangan nangis lagi! Sekarang kita balik ke kamar aja, ya?! Lo masih harus banyak istirahat!” biarpun Kevin nggak tahu-menahu apa yang terjadi, dia tidak akan memaksa Melani untuk menceritakan apa-apa padanya. Kevin tahu, sekarang bukan saat yang tepat untuk menanyai Melani.


“…”


“Sekarang gue anter ke kamar lo, ya?!”


Melani mengangguk pelan.


Kevin mengantarkan Melani kembali ke kamarnya dengan tetap memeluknya.


Rafa melihat kedekatan mereka berdua dari balik tembok. Tadi dia nggak benar-benar pergi, dia masih mencemaskan keadaan Melani, dan dia tidak akan pergi sebelum ada seseorang yang menghampiri Melani. Melihat perhatian Kevin yang begitu besar pada Melani, hati Rafa serasa nggak menentu. Dia masih nggak rela Melani bersama orang lain, tapi ini semua juga demi kebaikan Melani sendiri. Dan itu sudah menjadi keputusan Rafa untuk melepaskan Melani.

__ADS_1


TBC


__ADS_2