My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
90


__ADS_3

Rafa sudah nggak kaget lagi dengan sikap papanya itu. Setiap baru pulang, Papa selalu melakukan itu dan juga mengatakan hal yang sama pada Rafa.


“Papa ngapain pulang segala?” tanya Rafa sinis.


“Aduh, kamu itu suka bercanda ya, ternyata?”


Papa tertawa kecil, lalu berjalan ke suatu arah mengambil sebuah map berwarna hijau yang Rafa nggak mau tahu itu apa. Papa sibuk membuka-buka map itu sambil mengobrol dengan Rafa,”Ya, jelaslah Papa pulang. Ini kan rumah Papa, dan tentunya Papa kangen sekali sama kamu.”


“Kalau seandainya ini bukan rumah Papa dan Papa nggak kangen sama aku, apa Papa akan selamanya nggak pulang?”


Menyadari arah pembicaraan itu semakin serius, Papa memutup mapnya dan meletakkannya di tempat semula,”Rafa…kamu ngomong apa?”


“Sekarang aku minta, Papa jawab pertanyaan aku dengan jujur, Pa!”


Papa bingung, apa maksud ucapan Rafa. Memangnya Rafa mau bertanya apa? Apa dia sudah membuat kesalahan yang membuat Rafa marah? Papa sama sekali belum menyadari kesalahannya selama ini.


“Kamu mau tanya apa, Raf?”


“Sebenarnya apa tujuan Papa membawaku ke Jakarta ini hanya untuk menggantikan posisi Papa di perusahaan?”


“…”


“Apa hanya karena itu Papa memungut aku dari sebuah gubuk kecil dan kumuh di Jogja, hanya untuk menggantikan posisi Papa?”


“Rafa…"


“Papa sengaja merubah aku menjadi pangeran di istana ini hanya untuk kepentingan Papa?”


“Rafa…dengarkan Papa dulu!”


“Papa sengaja menjadikan aku boneka di rumah besar Papa ini dan ceo di perusahaan, hanya untuk menjadi pewaris semua kekayaan Papa?”


“Rafa…”

__ADS_1


“Apa Papa pikir, aku bersedia ikut Papa hanya karena uang Papa?”


“Raf, tolong kamu dengar dulu!” Papa berusaha memcari celah untuk bicara, tapi Rafa tidak memberinya kesempatan.


“Aku nggak butuh semua uang Papa, aku nggak butuh semua kemewahan ini!”


“Rafa.”


“Semenjak aku tinggal di sini selama lima tahun, aku bisa menghitung berapa kali aku ketemu Papa dalam sebulan. Papa lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri, berbisnis…daripada di rumah.”


“Rafa, tolong dengarkan dulu!”


“Buat apa Papa mangajak aku ke sini kalau Papa sama sekali nggak pernah memperhatikan aku? Buat apa Papa mengakui aku sebagai anak, kalau Papa nggak pernah memperlakukan aku layaknya seorang anak? Papa lebih menganggap aku sebagai boneka Papa. Boneka yang harus siap melakukan apapun yang Papa mau.”


“Raf…Papa…”


“Aku bukan boneka, Pa. Aku manusia, dan aku nggak mau terus-terusan Papa perlakukan seperti boneka kayak gini.”


“Rafa.”


“RAFA, DENGARKAN PAPA DULU!!!” Papa berteriak untuk menyela omongan Rafa, karena dari tadi nggak mendapat kesempatan untuk bicara.


Para pelayan di rumah besar itu terkejut mendengar tuan besar mereka berteriak. mereka nggak tahu ada masalah apa antara Rafa dan papanya, tapi yang jelas mereka berdua pasti sedang bertengkar. Semua pelayanpun saling bertanya satu sama lain tentang ada apa degan Rafa dan papanya. Kepala pelayan langsung bertindak begitu melihat para anak buahnya ribut sendiri. Dia segera memerintahkan semuanya untuk kembali bekerja.


Mendengar papanya berteriak, Rafa langsung terdiam, napasnya terengah-engah setelah mengeluarkan semua tenaganya untuk memprotes papanya. Papa pun terlihat sangat menyesal sudah membentak Rafa. Tapi kalau tidak begitu, Papa tidak akan mendapat kesempatan untuk bicara.


“Maafkan Papa, Rafa. Papa tidak bermaksud untuk membentak kamu!” ujar Papa sangat menyesal.


“…”


“Rafa…semua itu tidak benar. Papa tidak pernah menjadikan kamu sebagai pajangan atau boneka, Papa sayang sama kamu dan Papa sama sekali tidak bermaksud untuk membeli kamu dengan semua uang Papa!” Papa bersikeras memberikan penjelasan.


Rafa kali ini menjadi pendengar.

__ADS_1


“Papa selalu bilang, kalau Papa sering keluar negeri dan jarang pulang, itu karena Papa bekerja keras demi kamu. Sudah bertahun-tahun Papa membiarkan kamu dan mama kamu hidup susah, sekarang saatnya Papa ingin menebus semua itu dengan berusaha membahagiakan kamu, Papa tidak mau kamu sampai hidup kekurangan lagi.”


“Tapi aku nggak butuh semua itu, Pa.” Rafa menyela.


“…”


“Aku nggak butuh semua uang Papa. Untuk merasa bahagia nggak harus dengan memiliki uang yang banyak. Kebahagiaan itu akan ada, jika kita berada di samping orang yang menyayangi kita dan memperhatikan kita. Lalu bagaimana Papa bisa berpikir aku akan bahagia kalau setiap hari aku selalu sendirian dan hanya bertemu dengan uang-uang Papa?”


“…”


“Kalau memang Papa sayang sama aku, seharusnya Papa lebih mentingin aku daripada pekerjaan Papa. Aku nggak akan melarang Papa untuk kerja keras dan pergi bisnis ke luar negeri, karena aku tahu itu semua Papa lakukan untuk memenuhi kebutuhan kita. Tapi nggak harus setiap hari kayak gitu kan, Pa?” Rafa memprotes papanya yang sebenarnya sudah lama ingin dia katakan pada papanya. Tapi mengingat papanya selalu sibuk, Rafa nggak pernah mendapat kesempatan untuk memprotes papanya.


Papa merasa bersalah pada Rafa. Semua yang dikatakan Rafa memang semuanya benar.


Selama ini Papa memang selalu kerja, kerja, dan kerja tanpa memikirkan Rafa yang kesepian di rumah.


“Maafkan Papa, Rafa! Papa memang salah.”


“…"


“Papa selama ini berpikir kalau kamu akan merasa bahagia dengan harta yang berlimpah, Papa berpikir kalau dengan kehidupan baru kamu akan bisa melupakan semua penderitaan kamu dan mama kamu dulu. Tapi sungguh, Papa tidak bermaksud untuk lebih mementingkan bisnis daripada kamu.”


“…”


Papa memegang kedua bahu Rafa dan memandnag wajah Rafa yang memang sangat mirip dengannya itu,”Rafa, Papa sungguh-sungguh sayang sama kamu. Papa hanya ingin membahagiakan kamu. Sudah lama, Papa ingin hubungan kita ini sungguhan seperti hubungan ayah dan anak, bukan hanya hubungan perjanjian seperti sekarang.”


“…”


“Jujur, sampai sekarang pun Papa masih belum bisa merasa sebagai ayah kamu. Papa belum pantas dibilang sebagi ayah kamu.”


“…”


TBC

__ADS_1


__ADS_2