
Diandra hanya garuk-garuk kepala, bingung.
“Rafa, Rafa!” Melani menghadang jalan Rafa.
Begitu melihat Melani, Rafa langsung melengos.
Melani yang sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, kini dia pun maklum,”Lo mau kemana sih, Raf? Kok kayaknya buru-buru banget?”
“Bukan urusan lo.”
“Iya, iya.” Melani mengalah dan memilih untuk nggak banyak tanya, karena kayaknya bukan saat yang tepat untuk berdebat dengan Rafa,”Eh, Raf. Hari ini gue izin sebentar ya, mau ke toko buku sama Diandra. Ntar kalau misalnya lo butuh gue, lo telepon gue aja! HP gue nggak bakal gue silent, deh!”
“Hari ini lo libur.”
Melani kaget,”Apa? Libur?” Melani jadi bingung, bukannya tadi malam jelas-jelas Rafa nggak ngasih izin libur, tapi kok sekarang…”Tapi bukannya tadi malem lo bilang gue nggak dikasih libur, hari ini?”
Rafa melihat Melani dengan tiba-tiba,”Eh, lo banyak maunya banget, sih? Katanya minta libur? Giliran udah dikasih libur, masih aja protes?”
Melani cemberut,”Ya, maaf deh! Gue kan cuma nanya aja, Raf.”
Rafa pergi melewati Melani.
Melani nggak mengerti dengan sikap Rafa hari ini. Sepertinya Rafa baru saja menghadapi masalah yang sangat berat, dan entah kenapa Melani bisa merasakannya. Dia jadi sedikit cemas memikirkan cowok galak itu. Sampai saat ini pun Melani belum tahu kalau Rafa baru mutusin Cyntia, dan sekarang Cyntia sedang nangis-nangis di belakang.
“Ada apa sih, Mel?” Diandra menyusul dari belakang.
__ADS_1
“Tahu tuh. Si bos kayaknya lagi bete gitu,” ujar Melani sambil melihat ke arah Rafa pergi.
“Oh…” Diandra sama sekali nggak tahu apa masalahnya,”Jadi hari ini kita jadi ke toko buku nggak? Si Rafa udah ngasih izin belum?”
“Jadi. Kata Rafa hari ini gue libur.”
“Lho? Bukannya tadi lo bilang, kalau hari ini lo nggak dibolehin libur? Makanya tadi musti izin dulu sama dia?”
“Nggak tahu. Tuh orang emang pikirannya suka berubah-ubah. Nggak jelas.”
***
Kevin datang ke rumah Rafa sore itu. Karena sudah terbiasa datang ke sana, Kevin langsung nyelonong masuk ke kamar Rafa. Suasana kamar Rafa tetap nggak berubah, rapi dan bersih seperti biasanya. Kevin melihat Rafa sedang duduk di sofa menghadap ke jendela. Kelihatannya Rafa sedang memikirkan sesuatu yang Kevin tahu pasti mengenai masalahnya dengan Cyntia tadi siang. Rafa sebenarnya tahu kalau Kevin datang, tapi dia tetap diam tanpa menyapanya.
Kevin mendekati Rafa,”Raf, gue mau ngomong sesuatu sama lo.”
“…”
“…”
“Lo serius mutusin dia?”
Rafa tetap diam, pandangannya lurus ke luar jendela. Entah apa yang dilihatnya?
“Jujur, gue nggak setuju lo putus sama Cyntia. Lo tahu kan, Cyntia itu cinta banget sama lo.”
__ADS_1
Rafa bangkit dari duduknya, kini berdiri di dekat jendela.
“Lo kenapa sih, Raf? Kenapa lo tega banget sama Cyntia? Apa karena kelakuannya sama Melani kemaren?”
“Ini semua nggak ada hubungannya sama Melani.”
“Tapi kenapa lo mutusin dia? Cyntia sedih banget, Raf!” ujar Kevin.
“Karena gue nggak mau terlalu lama nyakitin dia.”
“…”
“Gue nggak mau terus-terusan nyakitin dia dan ngasih harapan ke dia, karena selama ini gue nggak pernah cinta sama dia.”
“…
“Dulu, lo sendiri yang minta gue buat jadian sama Cyntia. Biarpun lo tahu gue nggak pernah cinta sama dia. Sebenernya lo kan, yang cinta sama dia.”
Kevin menghela napas, semua yang dikatakan Rafa memang benar. Dulu Kevin yang meminta Rafa untuk jadian dengan Cyntia, karena dia tahu Cyntia cinta sama Rafa. Kevin rela memendam perasaan cintanya pada Cyntia dan membiarkan Cyntia jadian sama Rafa demi kebahagiaannya.
“Tadi kan gue udah bilang, gue udah ngembaliin apa yang seharusnya jadi milik lo. Gue nggak bisa lagi sama-sama Cyntia, Vin. Gue nggak mau terus-terusan bikin dia sedih.”
“Tapi Raf, Cyntia cuma cinta sama lo.”
“Tapi gue nggak ngerasa apa-apa, Vin. Gue nggak bisa ngerasain cinta dia buat gue. Cyntia nggak pernah cinta sama gue, dia cuma terobsesi aja sama gue. Dan gue nggak mau Cyntia jadi jahat gara-gara gue. Makanya gue putusin buat pisah aja sama dia.”
__ADS_1
“Tapi, Raf…” Kevin masih keberatan.
TBC