My CEO My Ex Boyfriend

My CEO My Ex Boyfriend
104


__ADS_3

“Lo sedih karena Rafa pacaran sama Veronica?” Kevin berusaha menebak isi hati Melani.


Melani kaget,”Apa? Eng-enggak, kok. Buat apa gue sedih? Rafa itu kan bukan siapa-siapa gue. Dia cuma mantan bos gue.”


“Mantan bos?” Kevin terlihat kaget,”Kok mantan bos? Emangnya kapan lo berhenti jadi asistennya Rafa?”


Melani lupa, kemaren dia belum menceritakan apa-apa kepada Kevin. Waktu itu Melani masih terlalu sedih karena Rafa tiba-tiba datang dan memecatnya dengan alasan yang nggak masuk akal. Wajar saja kalau sekarang Kevin kaget setelah dia bilang Rafa mantan bosnya.


“Nggg…i-iya, gue udah berhenti jadi asistennya Rafa.”


“Kenapa?”


“…”


“Atau jangan-jangan…kemaren waktu di rumah sakit itu Rafa datang ke sana terus ngomong yang enggak-enggak sama lo, sampai lo nangis kayak gitu?” tanya Kevin.


Melani buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya,”Enggak, kok. Enggak. Buat apaan gue pake nangis segala cuma gara-gara Rafa?”


“…”


“Gue berhenti jadi asistennya Rafa karena kontrak kerja gue udah selesai. Jadi ya buat apa, gue tetep jadi asistennya dia? Kalau gue bebas kan gue bisa cari kerja yang lain yang bosnya itu nggak selalu bikin dongkol kayak gitu!”


“…”


“Gue aja heran, kok ada sih cowok yang rese kayak gitu? Padahal kalau dilihat-lihat tuh cowok nggak ada ganteng-gantengnya.” Melani terkekeh menutupi kesedihannya.


“…” Kevin terus memperhatikan Melani yang berusaha untuk tegar menutupi semua kesedihannya.


“Masih gantengan juga lo ya, Vin! Hehehe…iya, kan?! Pasti iya, dong!”


Kevin memaksakan dirinya untuk tersenyum padahal dia tahu Melani sedang sedih. Meskipun Kevin tidak tahu apa yang dikatakan Rafa di rumah sakit sampai membuat Melani begitu sedihnya, tapi Kevin yakin pasti terjadi sesuatu di antara mereka. Pasti Rafa sudah mengatakan sesuatu yang membuat Melani sedih.

__ADS_1


***


Melani termenung di belakang meja belajarnya. Dia memandangi sebuah kertas yang penuh dengan selotip. Kertas itu adalah surat perjanjian yang tempo hari sudah dirobek oleh Rafa. Melani dengan susah payah menyatukan kembali potongan-potongan kertas itu menjadi utuh kembali.


Meskipun hasilnya tidak sama persis seperti sebelumnya, tapi sudah lumayan dan masih bisa dibaca tulisannya. Bergitu berharganya surat itu, sampai-sampai kertas yang sudah dirobek-robek dan dibuang oleh Rafa itu dipungutinya kembali dan disatukan lagi. Sekarang ini Melani sedang mengamati kertas itu sambil melamun.


“Gue bingung deh, buat apaan sih gue mungutin robekan-robekan kertas ini? Kan juga udah dibuang sama Rafa? Terus ngapain pake gue ambil lagi? Emangnya segitu pentingnya ya, surat ini buat gue?”


Melani seperti melihat wajah Rafa di kertas penuh selotip yang sekarang dipegangnya. Melani kaget tiba-tiba melihat wajah Rafa. Namun wajah Rafa yang dilihatnya itu bukanlah wajah Rafa yang cuek, angkuh, dan sombong.


Melainkan wajah Rafa yang bersedih, yang selama ini belum pernah dilihat Melani.


“Rafa? Kok muka lo sedih, Raf?” Melani bingung. Dan tiba-tiba wajah itupun menghilang dari kertas yang dipegangnya. Tulisan-tulisan di surat perjanjian kembali terlihat jelas.


TOK TOK TOK!


“Mel!” terdengar suara Ibu dari luar kamar.


“Iya, Bu!” Melani membukakan pintu,”Ada apa sih, Bu?”


“Ini apaan sih, Bu?” Melani menerimanya dengan perasaan bingung,”Dari siapa?”


“Nggak tahu. Tadi waktu Ibu mau menutup toko, tiba-tiba aja Ibu ngelihat bungkusan itu di depan pinru. Ibu nggak tahu siapa yang naruh dan kapan naruhnya? Pembeli di toko Ibu kan juga banyak. Memang nggak ada nama pengirimnya sih, tapi di situ ada nama kamu. Makanya Ibu yakin kalau itu buat kamu.” Ibu menjelaskan.


Melani mengamati bungkusan yang ada di tangannya itu, dan memang hanya ada tulisan ‘FOR MELANI’ di bungkusan itu,”Jangan-jangan ini bom lagi, Bu?” Melani asal nyeplos.


“Hush, kamu ini ngomong apa?” Ibu langsung menegur.


“Ya coba deh, Ibu lihat nih! Ini kayaknya isinya buku, nih. Kan sekarang lagi marak tuh, yang namanya bom di dalam buku!”


“Kamu ini kalau ngomong jangan ngaco! Kalau memang itu isinya bom, pasti udah meledak dari tadi!” ujar Ibu,”Ya sudahlah! Nggak usah mikir yang macem-macem! Ibu mau tidur dulu, ngantuk. Kamu juga cepat tidur! Udah malem ini.”

__ADS_1


“Iya, Bu.”


Ibu pergi ke kamarnya.


Melani masuk ke kamarnya, dia membuka bungkusan itu dengan rasa penasaran.”Apa sih, isinya? Iseng banget orang yang ngirimin gue beginian?”


Begitu melihat isinya, Melani kaget. Sebuah novel berjudul White Love yang ada tanda tangannya di cover depan. Itu adalah novel miliknya yang dulu pernah diberikannya pada Rafa. Kalau novel itu sekarang dikembalikan oleh Rafa, berarti Rafa sudah tidak menginginkannya lagi, Rafa serius ingin melupakan Melani. Sampai sekarang pun Melani masih belum yakin kalau Rafa benar-benar ingin melupakannya, apalagi sampai mengembalikan buku yang dulu pernah dia berikan.


Melani sedih, apa lagi yang akan dilakukan Rafa setelah ini? Belum sembuh kesedihan yang dirasakan Melani karena Rafa merobek perjanjian kerja, tidak mau mendekati Melani lagi, dan pacaran dengan Veronica, sekarang Rafa mengambalikan novel miliknya. Lalu besok apa lagi? Apa lagi yang akan diperbuat oleh Rafa untuk menyiksa Melani? Melani hanya bisa menangis sambil memeluk novel itu, dia berharap setelah ini nggak akan ada kejadian lagi yang semakin menguatkan keinginan Rafa untuk benar-benar meninggalkannya.


***


Melani berdiri di depan sebuah pintu besar berwarna cokelat muda. Dia kelihatan sangat gugup untuk menekan bel yang ada di sebelah kanan atas tempatnya berdiri. Melani saat ini sedang berdiri di depan rumah megah Rafa. Setelah beberapa saat hanya diam, Melani menekan bel dan menunggu seseorang datang membukakan pintu untuknya. Melani kembali menekan bel karena belum ada yang membukakan pintu juga. Setelah sekitar tiga kali menekan bel, pintu dibuka oleh seorang pelayan wanita.


“Selamat siang!” sapa pelayan itu ramah.


“Iya, siang!” Melani membalas sapaan pelayan itu,”Nggg…Rafa ada?”


“Oh…mau bertemu dengan Tuan Muda? Mari silahkan masuk!” pelayan menyilakan Melani masuk.


Melani masuk ke dalam rumah mengikuti pelayan itu. Sesampai di dalam, Melani nggak melihat ada perubahan yang mencolok dari rumah Rafa. Biar berapa kalipun dilihat, rumah itu tetap kelihatan mewah.


“Mari silahkan duduk, Nona! Saya akan panggilkan Tuan Muda!”


“Oh iya.”


Pelayan itu berjalan ke atas menuju kamar Rafa yang sebelumnya Melani juga sudah pernah masuk ke sana, bahkan ketiduran di kamar itu.


Melani duduk di sofa sambil menunggu kedatangan Rafa, walau pun dia ragu Rafa akan bersedia menemuinya. Dia tampak sangat tegang untuk bertemu dengan Rafa, tapi biar bagaimana pun Melani harus bertemu dengan Rafa secepatnya.


Setelah menunggu beberapa saat, pelayan tadi turun dan menemui Melani,”Mohon maaf, Nona. Tuan Muda bilang beliau tidak mau diganggu!”

__ADS_1


Melani kecewa, ternyata memang benar Rafa tetap saja nggak mau bertemu dengannya, padahal Melani sudah bela-belain datang ke rumahnya,”Gitu ya? Ya udah, nggak apa-apa. Kalau gitu saya permisi pulang saja!” Melani bangkit dari duduknya.


TBC


__ADS_2