
“Lo tuh bego banget sih, Mel? Ngapain coba, mau-mau aja disuruh dateng ke rumahnya Cyntia? Malem-malem begini, lagi!” Rafa marah-marah pada Melani. Dia duduk di belakang setir mengemudikan mobilnya untuk mengantar Melani pulang.
“Ya, habis gimana? Gue kan asisten. Jadi musti nuruti perintah bos, dong!” Melani cemberut dimarahin sama Rafa.
“Asisten? Emang lo asisten siapa sih, sebenernya? Terus bos lo itu gue apa Cyntia?”
Melani terdiam.
“Lo itu asisten gue, dan gue ini bos lo. Bukan Cyntia. Terus ngapain lo mau-mau aja disuruh sama dia? Apa karena Cyntia itu pacar gue, lo mau-mau aja disuruh sama dia?”
“…”
“Lo mikir dong, Mel! Kalau lo keluar rumah malam-malam begini tuh bahaya. Lo lihat sendiri kan tadi buktinya. Kalau aja tadi gue nggak dateng, pasti lo udah diperkosa sama mereka. Lo mau kayak gitu?”
“Ya enggaklah.”
“Makanya, lain kali kalau mau ngelakuin sesuatu itu dipikir dulu, dong! Bahaya apa enggak? Jangan main iya iya aja kalau emang ngebahayain diri lo!”
“Iya, iya, Raf. Maaf. Gue ngaku salah.”
“…”
“Lo juga, ngapain malem-malem ada di sini? Kata Kevin lo ke Jogja? Lo ngapain di Jogja sampai-sampai gue telepon dari tadi pagi nggak nyambung-nyambung juga?” tanya Melani.
“Bukan urusan lo! Emang lo ngapain neleponin gue segala? Kangen?”
“Idih…kangen? Sorry, ya. Buat apa gue kangen sama lo? Nggak penting banget.” Melani nggak mau mengakui kalau sebenarnya seharian ini dia kepikiran Rafa terus.
“Terus ngapain nelepon-nelepon gue?”
“Nggak apa-apa. Cuma mau ngecek aja. Nggak masalah juga kok, buat gue biarpun HP lo nggak aktif.”.
“Terserah lo, deh!”
__ADS_1
“Raf, besok gue minat libur, ya!” ujar Melani.
“Libur lagi? Bukannya hari ini gue udah ngasih lo libur? Masa besok minta libur lagi?” Rafa tampak keberatan.
“Iya, sih. Cuma hari ini gue kan nggak jadi libur, soalnya Cyntia nyuruh gue jadi asistennya.”
“Ya, salah lo sendiri. Kenapa lo mau-mau aja disuruh jadi asistennya dia? Padahal lo kan tahu, bos lo itu gue dan cuma gue yang berhak ngasih perintah ke lo!” Rafa sebal.
“Ya, gue kan udah minta maaf, Raf. Jadi please, besok gue boleh libur kerja, ya!” Melani memohon-mohon.
“Nggak bisa!”
“Sehari aja, Raf. Masa nggak boleh, sih?”
“Eh, lo ngerti bahasa manusia nggak, sih? Kalau gue bilang enggak, ya enggak! Bawel banget sih, lo?”
“PELIT!”
“Biarin.”
“Kenapa lo diem? Pasti lagi maki-maki gue, kan!” Rafa menebak apa yang sedang dipikirkan Melani.
“Kok tahu? Ups!” Melani keceplosan. Dia juga heran, kayaknya Rafa bisa selalu tahu apa yang sedang dia pikirkan. Jangan-jangan tuh cowok bisa baca pikiran orang?
“Udah ditolongin bukannya bilang makasih, malah maki-maki gue?” Rafa berujar dengan tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
“Iya, iya, makasih. Makasih udah nolongin gue!” mata Melani tertuju pada kotak kecil di depannya yang kebetulan dengan keadaan terbuka. Di dalam kotak itu dia melihat sebuah novel dengan sampul warna putih. Melani bisa membaca judul novel itu dari tulisan di samping buku yang kebetulan menghadap ke tempatnya duduk. Di situ tertulis dengan jelas ‘White Love’.
“White Love?” seru Melani.
Rafa kaget dan menginjak remnya mendadak sampai berdecit. Kebetulan mereka sudah sampai di depan rumah Melani,”Apa?”
Melani pun juga ikutan kaget karena Rafa mengerem mendadak,”Aduh Raf, lo tuh kenapa, sih? Pelan-pelan, dong! Gue kan kaget.”
__ADS_1
“Lo ngomong apa barusan?”
“Tuh, gue lihat novel judulnya White Love.” Melani menunjuk ke kotak di depannya.
Rafa buru-buru menutup kotak itu,”Awas, ya! Lo jangan pegang-pegang barang-barang gue!”
“Pelit banget sih, lo? Lagian gue juga nggak minat, kok. Gue cuma kaget aja tadi. Ternyata lo suka juga sama novel itu.” tanya Melani.
Rafa terlihat sangat gugup dan sedikit shock karena Melani tiba-tiba membaca judul novel itu,”Iya. Gue kan selalu baca semua novel. Emangnya kenapa sama novel itu?”
“Gue juga punya lho, novel itu. Gue suka banget sama jalan ceritanya.” Melani langsung ceria kalau membicarakan novel tersebut.
“Oh…”
“Nggak nyangka. Lo suka juga ternyata, Raf.”
“Udah deh, nggak usah banyak omong!” Rafa mengambil sesuatu dari bangku belakang,”Nih, buat lo!” Rafa meletakkan sebuah boneka beruang besar berwarna putih dengan pita hijau yang melingkar di lehernya, ke pangkuan Melani. Boneka itu yang dulu pernah dilihatnya waktu di mal.
Melani kaget melihat boneka bagus di pangkuannya,”Hah? Boneka?” Melani menatap Rafa dan boneka secara bergantian,”Ini buat gue?”
“Bukan. Buat nyokap lo. Ya iyalah buat lo, orang jelas-jelas gue kasih ke lo, kok. Gimana sih, lo?”
Melani tersenyum dan memeluk bonekanya,”Jadi ini ya, oleh-olehnya dari Jogja! Makasih ya Raf, bonekanya!”
“Hm.” Rafa jutek.
“Tapi nggak ada maksud apa-apa, kan!” Melani kembali curiga sama Rafa.
“Udah deh, nggak usah curigaan terus sama gue! Masuk sana! Gue mau pulang.”
“Iya, iya. Makasih ya, udah mau nganterin gue pulang.”
“Hm.”
__ADS_1
TBC